Senin, 16 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Mengenal Terry Yudha Kusuma, Anak Tukang Cukur Yang Berprestasi

Malu saat Ditanya, Piye Le Menang Ora? 

04 Agustus 2019, 10: 10: 59 WIB | editor : Perdana

ANTIMANJA: Terry saat beraksi di velodrome. Foto kanan, hasil kerja kerasnya mengantarkan menduduki juara pertama kompetisi balap sepeda.

ANTIMANJA: Terry saat beraksi di velodrome. Foto kanan, hasil kerja kerasnya mengantarkan menduduki juara pertama kompetisi balap sepeda.

Share this      

Semangat Terry Yudha Kusuma patut dicontoh anak muda zaman sekarang. Dia membuktikan kepada keluarga dan masyarakat tetap bisa berprestasi meskipun terlahir dari keluarga sederhana. 

CANDRA ALFIYANI, Boyolali, Radar Solo

TERRY mulai jatuh hati dengan sepeda sejak SD. Berawal ketika kerap diajak sang ayah bersepeda keliling kampung. Ketertarikannya dengan sepeda bertambah karena di dekat rumahnya di Ngemplak, Boyolali sering dijadikan tempat nongkrong pesepeda.  Seiring berjalannya waktu, pria murah senyum tersebut memutuskan bergabung salah satu klub.

“Orang tua saya selalu mendukung asalkan itu kegiatan positif,” ujarnya. Meskipun sang ayah hanya bekerja sebagai tukang cukur rambut, Terry tak pernah berkecil hati. Dia malah terpacu menjadi juara. Harapannya jelas, membanggakan keluarganya.

Kali pertama ikut kejuaran bersepeda tingkat nasional, Terry masih duduk di bangku kelas 6 SD. Dia pun menjadi finalis termuda kala itu. Namun, untuk bisa menjadi juara cukup berat. Sebab, lawannya sudah usia SMP dan SMA. Terry hanya finis di posisi buncit. Itu tak membuatnya patah arang. Kejuaraan demi kejuaraan terus diikut. Tiga tahun berselang, tak satupun medali berhasil dikalunginya.

Remaja kelahiran Boyolali 14 Maret 1999 itu semakin terbakar semangatnya karena sering malu ketika ditanya neneknya usai berkompetisi. ”Piye le (bagaimana tole), menang ora (tidak)?” ujar Terry menirukan ucapan sang nenek. 

Apalagi sang ayah menjanjikan bila Terry bisa naik podium satu, dua atau tiga, akan dibelikan helm dengan harga berapa pun yang diminta. ”Karena memang waktu itu helm saya paling jelek sendiri di antara teman-teman satu tim. Saya jadi tambah bersemangat memenangkan pertandingan,” ujarnya.

Dengan kerja keras, impiannya naik podium tercapai pada 2013. Terry mejadi juara satu lomba custom cycling (LCC) seri Tegal saat usianya menginjak 14 tahun. Setelah pecah telur, prestasi putra pasangan Pamungkas Budi Joko Santoso dan Sumiyati terus meroket di tingkat nasional. 

Duduk di bangku kelas tiga SMA pada 2017, Terry sukses masuk Pelatnas. Saat mengikuti seleksi tes 1.000 meter di Kota Solo, dia bisa memecahkan rekor nasional dengan catatan waktu 1 menit 8 detik. 

”Rentang waktu antara saya masuk Pelatnas dan SEA Games (2017 di Malaysia) itu tiga bulan. Waktu tiga bulan tersebut saya maksimalkan untuk berjuang,” ungkap dia.

Namun, event SEA Games itu membuka pintu membuka kejuaraan internasional lainnya. Seperti ASIAN Games 2018 di Jakarta, Japan Cup, India Cup, China Cup, Thailand Cup, hingga Malaysia Cup. Tak jarang dia mendapatkan medali emas dan mengibarkan bendera Merah Putih di posisi teratas. 

“Saya selalu menyukai momen di mana bendera Merah Putih berkibar paling atas. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya,” terangnya.

Sejak 2013 hingga sekarang, Terry sudah mengikuti 64 kejuaraan nasional maupun internasional. Tahun ini, Korea Selatan menggelar Word Cycling Center (WCC). Setiap negara di Asia diminta mengirimkan perwakilan untuk pelatihan. Terry pun terpilih dan akan mengikuti ASIAN Cup di Negeri Ginseng 13-16 Agustus mendatang.

Jadwal latihan yang padat harus diikuti alumni SMA Negeri Colomadu ini dengan disiplin. Yakni mulai pukul 07.00-11.00, kemudian istirahat sebentar, berlanjut pukul 14.00-17.00.

”Masih ditambah latihan gym dan mengangkat beban di atas 100. Setiap malam kaki rasanya tidak karuan. Buat mandi saja kadang tidak kuat,” kelakarnya.

Sebagai atlet nasional, Terry dituntut menjaga pola makan cukup ketat. Di antarnaya tidak boleh makan makanan yang manis dan terlalu banyak garam. Alhasil, menu yang dia santap terasa hambar. Namun, semua itu dijalani dengan ikhlas dan bakal terbayarkan saat naik podium. (*/nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia