Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features
Jeratan Korban Arisan Online Fiktif

Dari Tradisi Silaturahmi Bergeser ke Investasi

05 Agustus 2019, 11: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Dari Tradisi Silaturahmi Bergeser ke Investasi

MASYARAKAT Indonesia yang multikultural kental dengan tradisi silaturahmi. Agar hubungan makin erat biasanya dibalut dengan membentuk kelompok arisan. Sekaligus menjadi ajang berinvestasi.

Hal ini diungkapkan Sosiolog Universitas Sebelas Maret Solo Ahmad Romdhon. Dari maknanya, arisan sebenarnya bertujuan untuk  menjaga relasi individu maupun kelompok dalam masyarakat yang komunal. “Karena masih tergolong tradisi, sistem kerjanya menggunakan kepercayaan antara yang menyetor dengan pihak yang ditunjuk sebagai pegang uang kelompok tersebut,” paparnya. 

Ahmad menuturkan, arisan banyak macam dan jenisnya. Ada yang murni arisan berbentuk uang atau arisan kendaraan bermotor. Ada juga arisan yang memanfaatkan momen-momen tertentu, seperti arisan hari raya, serta arisan hewan kurban. Sedangkan arisan online merupakan bentuk arisan klasik yang dipadukan dengan kemajuan telekomunikasi. 

Namun, bukan berarti hal ini tanpa bahaya. Pasalnya, ketika berpindah ke basis teknologi, maka instrumen kontrol dan mekanisme untuk mengembangkan relasi itu hilang. Akhirnya yang terjadi arisan bukan lagi berdasar pada relasi individual, tapi berorientasi pada akumulasi modal.

“Karena tidak ada relasi tadi, maka tinggal unsur kepercayaan yang dipegang teguh. Padahal, kita sendiri tidak pernah bertemu selama proses arisan berlangsung. Sehingga uang yang harusnya dikembalikan ke kita, tidak dilakukan, karena tidak ada pengawasan. Jadi sangat riskan, terutama mereka yang menyetor nominal cukup tinggi,” papar Ahmad.

Disinggung terkait arisan wanita sosialita, di mana nominal yang didapat dan disetorkan memiliki nilai yang bombastis, Ahmad mengatakan, hal tersebut biasanya dilakukan hanya sekadar lifestyle atau gaya hidup mereka dengan ekonomi menengah ke atas.  “Sama seperti dengan liburan ke luar negeri, membeli barang bermerek dan lain sebagainya,” katanya.

Kadang mereka ikut arisan dengan nominal setoran tinggi hanya demi kepentingan strata sosial. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk berinvestasi atau menabung. Sebab, semakin tinggi income, selaras dengan semakin tingginya kebutuhan,” imbuh Ahmad.

Lalu bagaimana agar tidak terjebak dengan modus penipuan berkedok arisan? Ahmad mengatakan, sebelum ikut arisan harus cermat dan teliti serta memikirkan segala risikonya. “Kalau memang berniat untuk menabung atau mencari investasi, lebih baik transaksi di lembaga keuangan yang terpercaya dan berkredibel tinggi,” ujarnya.

Terpedaya iming-iming keuntungan besar dan tak memikirkan risiko di belakang dirasa Pakar Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Laelatus Syifa sebagai pemicu para korban tertipu mentah-mentah kasus arisan online fiktif. Padahal, hal tersebut bisa dicegah sejak dini.

Syifa mengatakan, dari kasus korban arisan fiktif ini seharusnya korban bisa memprediksi kalau hal tersebut bakal menjadi modus penipuan. “Kalau dilihat arisan kok di awal bulan rugi, sedangkan di akhir baru dapat untung. Kalau seperti itu pasti memilih mendapat di akhir. Seharusnya dari situ sudah bisa dibaca ini penipuan,” katanya.

Namun hal tersebut kalah dengan ambisi para korban yang ingin mendapat keuntungan besar. Seakan-akan mereka akan mendapat keuntungan yang bombastis, dengan risiko yang sangat kecil. Padahal, hal itu merupakan jebakan. “Hal ini yang harus diwaspadai. Jangan mudah percaya begitu saja. Sebab, pelaku penipuan pasti akan melakukan trik ini,” urai Laelatus.

Permasalahan kedua, lanjut Syifa, dalam kasus ini antara korban dengan pelaku sudah cukup lama menjalin hubungan. Sehingga ada unsur kepercayaan yang kemudian dikhianati oleh pelaku. 

“Jadi ada rasa tidak enak kalau tidak percaya. Padahal, kalau ini urusannya soal uang, hal-hal yang tidak enak itu harus dihapuskan,” katanya.

Ditambahkan Syifa, apabila menerima tawaran sesuatu di luar kewajaran maka jangan mudah terperdaya begitu saja. Ada baiknya mereka sharing dengan teman-teman yang mungkin pernah menjalankan hal serupa. “Munculkan rasa waspada pada pola pikir kita. Karena di balik keuntungan yang besar, pasti ada risiko yang besar pula,” katanya.

Kemudian harus menggunakan second opinion. Ini sebagai bahan pertimbangan plus dan minusnya sebelum ambil keputusan. Sedangkan cara yang terakhir, tidak perlu sungkan bertanya secara mendetail terhadap tawaran yang diberikan. “Kemudian lihat cara mereka mengutarakan pernyataan. Orang kalau bohong mereka akan butuh waktu untuk mengutarakan suatu pernyataan. Kemudian perhatikan apakah pernyataan mereka berbelit-belit atau tidak,” jelas Laelatus.

Selain dari sisi tergiur keuntungan dan terlalu percaya dengan pelaku, dari gambaran umum kasus penipuan terjadi karena rendahnya pendidikan korban.  Kemudian ada pula korban tertipu karena merasa iba. Ada pula orang yang tertipu karena tipikal mudah panik dengan suatu keadaan. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia