Rabu, 11 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Terdeteksi CCTV, 41 Kendaraan Ditindak

08 Agustus 2019, 09: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Hindari Polusi Di Kota Solo, DLH Adakan Uji Emisi

Hindari Polusi Di Kota Solo, DLH Adakan Uji Emisi

Share this      

SRAGEN - Kasus kecelakaan masih kerap terjadi di ruas jalan Solo-Ngawi. Salah satu penyebab karena pengemudi memacu kendaraan melebihi batas kecepatan. Pelanggaran lain adalah masih banyak kendaraan angkutan barang over dimension and over loading (Odol). Selain turut memicu kecelakaan, infrastruktur ruas jalan cepat rusak karena tekanan berlebih. 

Atas dasar itulah, PT Jasamarga Solo Ngawi (JSN) dengan menggandeng Ditlantas Polda Jateng dan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah kemarin menggelar operasi gabungan. Sudah tidak ada ampun lagi bagi para pelanggar. Mereka langsung diberi surat bukti pelanggaran (tilang).

Pantauan Jawa Pos Radar Solo di layar monitor, tiap kendaraan pribadi dari arah timur menuju barat yang melebihi batas kecepatan langsung terdeteksi oleh sistem smart closed circuit television (CCTV) di lokasi. Kendaraan langsung dihentikan di  Rest Area Kilometer 538 Jalur B Sragen, Rabu pagi (7/8).

Pengendara pun tidak bisa mengelak. Sebab, bukti foto berupa jenis kendaraan hingga plat nomor terdeteksi lewat alat tersebut. Sanksi tilang langsung diberikan kepada pelanggar. Tidak hanya kendaraan pribadi, angkutan barang yang melebihi beban tak luput ditilang di titik yang sama. 

Bambang Waluyo, salah seorang sopir truk tronton terlihat memegang surat tilang di tanganya. Pria ini tertangkap petugas lantaran membawa muatan melebihi batas. “Ini bawa muatan tripleks dari Tulungagung (Jawa Timur) mau diantar ke Wates (Jogjakarta),” katanya.

Bukan kali ini saja Bambang ditilang karena masalah yang sama. Berulang kali dia ditilang. Bahkan, sebelum berangkat pria ini sadar kalau membawa barang melebihi batas. Namun dia tidak bisa menolak karena itu perintah bosnya.

“Soalnya membawa sedikit dan banyak barang ongkos kirimnya sama. Ya sudah, kalau ditilang saya terima saja. Tadi kena tilang bayar Rp 400 ribu. Setelah saya antar muatan ini nanti tinggal laporan sama juragan. Biasanya nanti dendanya diganti separonya,” urai Bambang.

Direktur Utama JSN Ari Wibowo menuturkan, langkah ini dilakukan atas petunjuk dari pemerintah pusat. Sebab, kendaraan melebihi batas kecepatan bisa memicu kecelakaan. Akibat kendaraan Odol, di mana-mana sering dikomplain jalan cepat rusak.

“Hari ini (kemarin) dan besok (hari ini) kami bersama Ditlantas Polda Jateng dan Dishub Provinsi Jateng melaksanakan operasi gabungan,” imbuh Ari.

Ditambahkan Ari, untuk mendeteksi kecepatan pihaknya mengoptimalkan dua smart CCTV yang terpasang. “Kalau CCTV yang terpasang jumlahnya 150 unit tersebar di sepanjang titik. Tapi yang smart CCTV, yang bisa mendeteksi kecepatan baru dua unit. Masing-masing mengarah ke barat dan timur,” katanya.

Pihaknya sebenarnya tak henti-hentinya memberi imbauan. Bahkan, rambu batas kecepatan sudah terpasang di setiap titik. Namun, dia tidak menampik masih ada kecelakaan terjadi di ruas tol sepanjang 90 kilometer ini. “Penyebabnya karena mereka melebihi batas kecepatan itu,” katanya.

Ditambahkan Ari, kondisi ini diperparah karena lokasi tol Solo-Ngawi berada di tengah-tengah. Sehingga pengendara yang melintas dari arah Surabaya dan Semarang, rata-rata sampai di tol ini sudah lelah, tapi tetap nekat melintas dengan kecepatan melebihi batas.

“Ke depan langkah ini (penilangan) akan kami laksanakan secara periodik sembari terus kami evaluasi. Nanti akan dibahas kembali bentuk operasinya seperti apa. Targetnya tol Solo-Ngawi zero accident,” katanya.

Penyebab kecelakaan akibat melebihi batas kecepatan juga diamini oleh Kanit 7 PJR Kartasura Ditlantas Polda Jateng AKP Totok Nuryanto. Hampir rata-rata pengguna jalan ketika melintas di jalan bebas hambatan, mereka pasti memacu kecepatan di atas 120 kilomter per jam. Padahal, itu sangat berbahaya.

“Rata-rata mereka melebihi batas kecepatan karena memburu waktu. Ada juga yang tidak sadar. Jadi mereka merasa memacu kendaraan 80 kilometer per jam, ternyata sudah 120 kilometer per jam lebih,” imbuh Totok.

Totok menjelaskan, sebenarnya pihaknya sudah melakukan patroli rutin di ruas tol untuk mengantisipasi adanya pelanggaran. Namun, masih saja ada kendaraan yang nekat. Makanya kali ini dilakukan tindakan tegas. Sejak dilaksanakan operasi pagi hari, puluhan kendaraan terdeteksi melanggar batas kecepatan.

“Langsung kami kenai sanksi tilang. Rata-rata pelanggar dari luar kota. Kami terapkan sistem e-tilang. Jadi mereka membayar denda tilang lewat transfer ke BRI. Setelah itu bukti pembayaran diserahkan kepada kami untuk mengambil surat kendaraan yang disita. Bukti pembayaran ini yang akan kita bawa ke pengadilan,” jelas Totok. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia