Kamis, 23 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Waspadai Pedagang Hewan Kurban Nakal

Nekat Patahkan Gigi Susu agar Dianggap Poel

08 Agustus 2019, 17: 40: 46 WIB | editor : Perdana

PENUHI SYARAT: Tim disnakkan saat mengecek hewan kurban yang dijual di Karanganyar.

PENUHI SYARAT: Tim disnakkan saat mengecek hewan kurban yang dijual di Karanganyar. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)

Share this      

KARANGANYAR – Jelang Idul Adha, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar mewaspadai adanya praktik nakal oleh sejumlah pedagang hewan kurban. Mereka melakukan akal-akalan dengan cara mematahkan gigi susu hewan yang belum cukup umur agar dianggap poel dan memenuhi syarat.

Plt Kepala Disnakkan Karanganyar Siti Maisaroh mengungkapkan, sudah sejak awal pekan ini pihaknya melakukan pengawasan terhadap penjual hewan kurban yang curang. Terutama mereka yang nekat menjual hewan belum cukup umur jelang Idul Adha.

”Sejumlah penjual itu memang kadang curang, dengan mematahkan gigi seri hewan biar dianggap sudah cukup umur atau poel. Masyarakat itu tahunya kan dari situ (gigi poel, Red). Maka, untuk mengantisipasi adanya hal tersebut, kita lakukan pengecekan,” terang Siti di sela-sela pengecekan hewan kurban Rabu (7/8).

Saat ini, puluhan petugas disnakkan dan dokter hewan mulai diterjunkan ke pusat-pusat penjualan hewan kurban. Mereka bertugas memastikan hewan yang dijual benar-benar layak sesuai syariat Islam.  

Diungkapkan Siti, dua pekan sebelum penyembelihan, petugas telah memberikan obat dan vitamin, serta memeriksa kondisi kesehatan hewan. Menurutnya, bukan tidak mungkin ditemukan sapi terpapar virus antraks seperti beberapa tahun lalu yang sempat terjadi di Karanganyar.

”Pengawasan dilakukan tentunya agar hewan kurban bebas dari itu (antraks, Red). Sedangkan yang kerap ditemukan, yakni pink eye dan koreng. Terkait cacing hati, nanti akan diketahui setelah penyembelihan,” jelas Siti.

Sementara itu, salah satu pegawai di tempat penjualan kambing Nadianto mengungkapkan, saat ini permintaan untuk penjualan hewan kurban terus meningkat. Kambing-kambing yang dijualnya dikirim dari wilayah Pracimantono, Wonogiri.

Diakui dia, memang tidak semua kambing yang dijual kondisi kesehatannya baik. Beberapa harus mendapat perawatan sebelum dijadikan hewan kurban.

”Paling cuma terkena radang mata dan itu bisa disembuhkan menggunakan tetas mata. Untuk yang lain, kita juga cek apakah sudah poel atau belum. Yang dijual tetap yang sudah poel. Lainnya (kambing yang belum poel, Red) dijual untuk kebutuhan pedagang sate,” pungkas Nadianto. (rud/ria)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia