Senin, 16 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Pemkab Klaten Pelototi Peredaran Hewan Kurban

08 Agustus 2019, 18: 33: 59 WIB | editor : Perdana

SEHAT: Sapi kurban milik peternak di Desa Kajen, Kecamatan Ceper, Klaten, kemarin (7/8).

SEHAT: Sapi kurban milik peternak di Desa Kajen, Kecamatan Ceper, Klaten, kemarin (7/8). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten mulai menerjunkan tim pemantau hewan kurban, pekan ini. Terutama di wilayah perbatasan. Memastikan kondisi hewan yang diperjual belikan terhindar dari segala penyakit.

Kepala DPKPP Klaten Widiyanti menjelaskan, tim pemantau ini melakukan pemeriksaan hewan ke sejumlah pasar hewan dan pengepul. Untuk mengetahui sejauh mana kondisi fisik hewan kurban melalui sejumlah tanda-tanda. Apakah memang layak untuk kurban atau tidak.

Pantauan melibatkan 20 tim. Setiap tim terdiri dari 20 orang. Terdiri dari dokter hewan, paramedik veteriner, dan petugas rumah pemotong hewan (RPH). Tim ini khusus memantau penyakit antraks yang baru-baru ini ditemukan di Kabupaten Gunungkidul. Mengingat Klaten berbatasan langsung dengan Gunungkidul. 

“Kami harus memastikan hewan kurban yang dijual kondisinya sehat. Tim sudah menjalankan tugasnya mulai pekan ini hingga hari H Idul Adha,” terang Widiyanti, kemarin (7/8).

Terkait hewan kurban dari luar daerah, harus memenuhi sejumlah persyaratan. Yakni memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH). Berlaku pula untuk hewan kurban asal Klaten yang hendak dijual ke luar daerah.

Sejauh ini, pantauan di lapangan, tidak ditemui hewan kurban berpenyakit. Hewan yang dijual di pasar dan pengepul memenuhi persyaratan. Namun, pantauan dan pengawasan terus diintensifkan. 

“Ketika kemarin ada antraks di Gunungkidul, kami langsung mengambil langkah antisipasi. Supaya tidak masuk Klaten. Untungnya para pedagang hewan kurban sudah bisa membedakan mana yang layak dan mana yang tidak sehat,” bebernya.

Pedagang hewan kurban asal Desa Kajen, Kecematan Ceper Joko Purnomo mengaku ada kenaikan harga sapi. Beberapa pekan sebelum Idul Adha, harga sapi naik Rp 2,5 juta per ekor. “Minggu-minggu seperti ini berarti panen. Permintaan hewan kurban terus meningkat,” ujarnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia