Sabtu, 21 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Terdampak Sistem Rujukan Berjenjang, Pasien RSUD Anjlok 50 Persen

09 Agustus 2019, 19: 03: 33 WIB | editor : Perdana

BERBENAH: Pekerja menata halaman RSUD Ir. Soekarno, Sukoharjo kemarin. Rumah sakit tipe B ini butuh solusi terkait penerapan sistem rujukan berjenjang.

BERBENAH: Pekerja menata halaman RSUD Ir. Soekarno, Sukoharjo kemarin. Rumah sakit tipe B ini butuh solusi terkait penerapan sistem rujukan berjenjang. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Pemberlakuan sistem rujukan berjenjang bagi pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berdampak pada RSUD Ir. Soekarno. Yakni penurunan jumlah pasien rawat jalan.  Otomatis, pendapatan RSUD ikut merosot.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo Yunia Wahdiyati menjelaskan, rujukan berjenjang pasien BPJS Kesehatan dan JKN mengharuskan pasien melewati pelayanan atau fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama. Seperti puskesmas dan rumah sakit tipe D, baru kemudian ke rumah sakit tipe C, B, dan A.

"Karena RSUD Ir. Soekarno bertipe B, maka secara otomatis mendapat rujukan pasien dari rumah sakit tipe C,” terangnya kemarin (8/8).

Menurut Yunia, sebagian besar pasien RSUD merupakan peserta BPJS dan JKN. Sedangkan dengan penerapan sistem rujukan berjenjang, maka rumah sakit pelat merah tersebut hanya bisa memberikan penangan bagi pasien yang memiliki kasus subspesialistik.

“Kondisi ini jelas memiliki dampak bagi RSUD. Namun, kami berharap hal ini tidak menghambat operasionalnya. Seharusnya masih bisa terkondisikan menilik sistem subsidi silang rumah sakit dari selisih biaya pelayanan,” urainya.

DKK Sukoharjo, lanjut Yunia, berusaha membantu kondisi RSUD Ir. Soekarno. Sayangnya, hal tersebut terbentur aturan pemerintah terkait tipe rumah sakit. “Menilik kondisi ini, apakah nanti ada perubahan tipe (RSUD Ir Soekarno), kami belum bisa menjawab. Itu kewenangan bupati,” ungkap dia.

Direktur RSUD Ir. Soekarno Gani Suharto menjelaskan, penurunan pasien terutama terjadi pada pasien rawat jalan. Hal tersebut juga berdampak pada pendapatan rumah sakit yang cukup signifikan.

“Penurunan jumlah pasien bukan disebabkan karena RSUD bertipe B yang ditetapkan sejak 2009. Namun, karena pemberlakuan aturan rujukan berjenjang bagi pasien BPJS Kesehatan. Sejak pemberlakuan sistem itu pada Oktober 2018 lalu, penurunan pasien sampai 50 persen," ucap dia.

Apakah penurunan grade RSUD bisa menjadi solusi kondisi tersebut? Gani kurang yakin. Sebab, jika grade RSUD diturunkan, maka akan berdampak pada sejumlah peralatan dan tenaga medis (SDM) yang harus dikurangi. Padahal, secara kualitas, pelayanan RSUD sudah bagus.

"Status tipe B ini sebenarnya bisa memberikan keuntungan bagi masyarakat. Kami bisa memberikan pelayanan dalam banyak hal dengan dokter spesialis lebih banyak serta fasilitas lebih komplet," tandas dia.

"Saya pikir pemberlakuan rujukan berjenjang ini menjadi masalah di semua rumah sakit tipe B. Karenanya kami telah mengadakan rapat untuk rumah sakit tipe B se-Jateng. Dan telah kami sampaikan ke Dirjen Kementerian Kesehatan. Hasilnya akan diadakan review rumah sakit," imbuh Gani.

Review yang dimaksud Gani akan menilik pada jenis-jenis pelayanan kesehatan sesuai tipe rumah sakit. Diharapkan, hal tersebut bisa membenahi sistem rujukan berjenjang.

Terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Sukoharjo Wawan Pribadi menginginkan adanya evaluasi dari pemkab terkait status tipe RSUD. "Status tipe B RSUD Ir. Soekarno, Sukoharjo bisa diajukan untuk diturunkan grade-nya, dari B ke C. Dan ini merupakan solusi logis bagi keberlangsungan rumah sakit," tutur dia.

Menurut Wawan, dengan menyandang tipe B dan diberlakukannya sistem rujukan berjenjang, RSUD Ir. Soekarno akan kalah bersaing dengan rumah sakit swasta tipe C.

Anggota komisi IV DPRD Sukoharjo lainnya, Agus Sumantri mengkhawatirkan jika penurunan jumlah pasien tersebut tidak segera dicarikan solusinya, maka dapat berpengaruh terhadap eksistensi RSUD Ir Soekarno. (rgl/wa)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia