Sabtu, 21 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Rektor UMS: Ubah Konsep Guru dengan CPD

10 Agustus 2019, 19: 14: 26 WIB | editor : Perdana

MUMPUNI: Prosesi pengukuhan Rektor UMS Sofyan Anif menjadi Guru Besar Bidang Manajemen Pendidikan, Kamis (8/8).

MUMPUNI: Prosesi pengukuhan Rektor UMS Sofyan Anif menjadi Guru Besar Bidang Manajemen Pendidikan, Kamis (8/8). (UMS FOR RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO –  Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Sofyan Anif resmi menjadi Guru Besar Bidang Manajemen Pendidikan. Gelar tersebut dikukuhkan secara khusus oleh Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti. Sofyan menjadi Guru Besar UMS ke-25 dan Guru Besar Bidang Pendidikan ke-3.

“Saya dikukuhkan saat UMS tengah melakukan percepatan memperbanyak guru besar. Ada sekitar 65 dosen yang sudah saat diusulkan menjadi guru besar. Sembilan di antaranya bisa rampung tahun ini. Surat keputusan Guru Besar saya per 1 Juli,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (9/8).

Dalam pidato pengukuhannya, Sofyan menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Guru dengan konsep Continous Profesional Development (CPD) pada Era Disrupsi.

“Persoalan pendidikan masih menjadi persoalan aktual. Kondisi kompetensi guru dari berbagai survei masih dalam taraf belum optimal. Juga peradaban dunia makin berkembang pesat. Terutama perkembangan Iptek. Kemudian hadirnya revolusi industri 4.0 yang bahkan di negara maju sudah masuk 5.0. Sementara Indonesia masih di era 4.0,” jelasnya.

Atas persoalan tersebut, Sofyan menawarkan solusi peningkatan kualitas guru dengan konsep CPD. Guru harus mampu menghasilkan siswa yang berdaya saing, kreatif dan inovatif.

“Pola pembelajaran harus berubah total. Guru bukan satu-satunya sumber belajar. Siswa juga bisa jadi sumber belajar. Maka metode dan pendekatan harus diubah. Agar guru tidak mengajar satu arah. Bukan teacher center,” sambungnya.

Peningkatan guru dengan konsep CPD ini sudah diterapkan oleh negara lain yang lebih maju. Konsep ini menuntut guru berorientasi Iptek di masa datang untuk masa sekarang. Yang terjadi saat ini, lanjut Sofyan, guru masih menerapkan konsep Iptek lama untuk masa sekarang. Sehingga konsep tersebut perlu diubah.

“Baik buruknya bangsa menurut saya tergantung dari guru. Guru wajib memotivasi siswa mengembangkan potensi minat bakatnya. Kalau mau mengejar ketertinggalan Iptek, kita harus mengubah mindset guru kita. Kalau guru dan stakeholder mengubah mindset, itulah yang disebut disrupsi. Melakukan perubahan secara mendasar,” imbuhnya. (aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia