Jumat, 06 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

MUA dan Rias Pengantin Beda Segmen

11 Agustus 2019, 11: 35: 59 WIB | editor : Perdana

MUA dan Rias Pengantin Beda Segmen

JASA rias pengantin sudah lama akrab di telinga. Kini ada Make-up Artist (MUA). Mungkin masih banyak yang bertanya, apakah keduanya sama atau berbeda? 

Salah seorang MUA profesional Kota Solo Faradila Ratnasari mengatakan, MUA dengan rias pengantin merupakan sesuatu yang berbeda. MUA identik dengan seniman make-up, di mana mereka hanya mendandani seputaran wajah dengan memadukan bahan make-up.

“Kalau rias pengantin menurut saya cakupannya lebih luas, dan tentunya ada pakem tersendiri. Karena memang patokannya adalah tradisional. Yang diurusi tak hanya make-up wajah,” tuturnya.

Ditambahkan Faradila, MUA biasanya juga belajar mengenai hairdo dan melakukan self development dalam mengembangkan skill riasnya. Mereka dituntut berani dalam mengaplikasikan ilmunya. Meski tak mengenyam pendidikan formal mengenai tata rias, Faradila tetap menganjurkan para MUA lebih sering ikut workshop MUA senior.

Terpisah, perias pengantin profesional, Ninik Nikmawati menjelaskan, mereka yang berniat menjadi perias mengantin harus sekolah tata rias. Sebelum membuka usaha secara mandiri, lulusan sekolah tata rias sebaiknya mengikuti praktik kerja lapangan (PKL) guna mengasah skill dan menambah jam terbang.

“Kalau sudah memiliki sertifikat dari tempat sekolah dan PKL, baru bisa membuka jasa rias pengantin. Kalau MUA, mereka hanya fokus ke wajah. Tetapi kalau kami, perias pengantin itu belajar bertahun-tahun untuk benar-benar bisa menguasai rias pengantin tradisional. Salah satunya membuat paes. Kami juga tidak hanya melayani rias wajah, tetapi juga membentuk alis, menata rambut, mencukur rambut, dan sebagainya,” beber dia.

Selain itu, ada beberapa pakem yang harus dilakukan ketika merias pengantin. Itu semua bisa didapatkan dengan belajar  bersama mentor, tidak bisa otodidak. Di lain sisi, menjamurnya MUA tidak membuat Ninik dan rekan-rekan seprofesinya khawatir ladang bisnis mereka berkurang. Sebab, segmen pasarnya berbeda. (gis/wa)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia