Minggu, 17 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Menakar Peluang Anak Muda Memimpin Kota Solo

Milenial Condong Pemimpin Peka Zaman

12 Agustus 2019, 10: 35: 59 WIB | editor : Perdana

Menakar Peluang Anak Muda Memimpin Kota Solo

Pemilih milenal memiliki potensi besar meraup suara dalam perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Solo 2020. Setelah muncul nama putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka dalam survei, ke mana suara milenial berlabuh?

SUKA perubahan dan kreatif adalah salah satu ciri anak muda. Apakah ini berlaku dalam kepemimpinan pemerintahan. Tidak asal memilih, mereka pun memiliki referensi dalam menentukan pemimpin Kota Solo ke depan.

“Kalau ada calon wali kota yang masih muda, aku bakal milih yang muda. Karena sebagai generasi muda aku butuh pemimpin yang mampu menampung dan memahami aspirasi anak muda. Kalau bisa pemimpin yang punya media sosial juga, jadi bisa berinteraksi lebih dekat dengan anak muda,” kata Disa Septiana Rahmawati, mahasiswi PAUD Universitas Sebelas Maret (UNS) kemarin.

Terlepas dari kemampuan berteknologi yang mumpuni, Disa berharap calon wali kota periode mendatang adalah sosok yang humble terhadap anak-anak dan remaja. Tidak ada gap yang jauh antara pemimpin dengan warganya. “Merakyat, tapi bukan pencitraan. Aku juga pengin punya pemimpin yang membuat masyarakat Solo damai dan tenteram tidak ada keributan,” sambungnya.

Hal senada diungkapkan Sabila Soraya Dewi. Siswi SMAN 1 Solo ini juga menginginkan wali kota yang paham betul dengan kemajuan zaman. Ambil contoh, menerapkan penggunaan wifi gratis di semua spot public space. Menurutnya, ini penting untuk meningkatkan kualitas literasi masyarakat Kota Bengawan.

“Kan anak muda sekarang selalu pegang HP ke mana-mana. Nah, ini bisa dimanfaatkan pemerintah agar anak muda mau rajin membaca dan belajar di semua tempat. Aku sendiri kesulitan ingin belajar di public space, karena tidak semua tempat bisa akses wifi gratis," imbuhnya.

Soal usia, Sabila mengaku tidak masalah baik pemimpin muda atau tua. Yang jelas siapapun wali kotanya, dia berharap sosok yang mampu membawa Kota Solo menjadi lebih baik.

“Kalau aku wali kota Solo harus lebih mengayomi masyarakat. Dengan memberdayakan potensi pemuda juga menjadi salah satunya. Pemimpin juga harus kekinian. Dengan itu juga akan mengetahui permasalahan kekinian yang sedang dilanda masyarakat kita. Lebih banyak turun langsung ke masyarakat menurutku lebih keren,” ungkap mahasiswa UNS lainnya, Rizzal Pahala.

Menanggapi berbagai opini anak muda tersebut, Ketua Laboratorium Kebijakan Publik (LKP) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Suwardi mengatakan, salah satu alasan generasi milenial di Kota Bengawan memilih calon pemimpin muda karena dianggap mampu membawa pemerintahan yang akan datang responsif terhadap perubahan zaman. Yakni selaras dengan kemajuan teknologi dan revolusi industri 4.0.

“Mereka, pemilih muda ini, cenderung memilih figur yang memiliki kepekaan terhadap perkembangan zaman. Dalam hal ini teknologi. Pemimpin yang sudah tua, menurut mereka, tidak bisa mengikuti perkembangan itu,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Kesimpulan itu dia peroleh dari hasil penelitiannya terhadap pemilih muda yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Sementara pemilih baru yang akan memilih pada pemilihan kepala daerah (pilkada) mendatang, Suwardi mengaku belum dilakukan survei karena belum mengetahui jumlah pastinya.

“Tapi yang jelas, pemilih usia 17-30 tahun ini mereka memilih pemimpin muda. Pemimpin yang berusia 30-59 tahun,” sambungnya.

Mayoritas generasi milenial ini menginginkan kombinasi pemimpin dari generasi X dan generasi Y. Suwardi menyebut pemimpin dari generasi baby boomer justru sepi pemilih, hanya 7 persen saja. Jumlah ini relatif sedikit dibandingkan dengan pemimpin dari generasi X dan Y. Dia menilai kans pemimpin muda seperti Gibran untuk menguasai kontestasi wali kota Solo cukup besar.

“Di Solo basis partai politiknya kan PDIP. Siapapun figurnya kalau kendaraan politiknya PDIP, pasti jadi. Apalagi punya popularitas tinggi. Ditambah dengan ikatan emosional masyarakat Solo dengan Presiden Jokowi. Memang jumlah pemilih di Kota Solo hanya 400 ribu, tapi gengsinya lebih tinggi dari kota-kota lain,” ungkapnya.

Kekhawatiran Suwardi justru jika tidak ada partai politik lain yang berani mengusung pasangan calon sebagai pemecah suara. Jika Gibran benar akan maju sebagai calon wali kota Solo, maka dia akan menjadi calon tunggal. Situasi tanpa penantang ini, menurut Suwardi akan menjadi tidak menarik.

“Nanti kalau di Solo sudah ada pasangan calon, kami akan survei lagi tentang peta kekuasaan antar pasangan calon. Tapi kalau tidak ada pasangan calon lain, kan jadi tidak seru," ujarnya. (mg1/aya/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia