Senin, 18 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features
Menakar Peluang Anak Muda Memimpin Kota Solo

Parpol Dukung Figur Muda, tapi AD 2 Dulu

12 Agustus 2019, 11: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Parpol Dukung Figur Muda, tapi AD 2 Dulu

KEPEMIMPINAN milenial bukan isu baru bagi Partai Keadilan Sejahtera. Selama ini PKS terkenal dengan partainya anak muda. Bahkan, kader-kader PKS begitu akrab dengan hal-hal yang bersifat kekinian. 

“Secara umum sebenarnya bukan isu baru bagi PKS tentang anak muda tampil. Itu isu lama dan sudah berkembang bagi PKS,” kata Ketua Fraksi PKS DPRD Surakarta Sugeng Riyanto, Minggu (11/8). 

Namun, terkait Pilkada Kota Solo, PKS punya mekanisme tersendiri. Yakni dengan menggelar pemilu raya internal (pemira). Melalui pemira inilah nanti yang menjadi cara struktur partai dalam menjaring nama-nama calon, baik dari internal kader maupun eksternal partai. 

“Barulah nama-nama itu yang akan diolah oleh struktur. Artinya, harapan kader akan seperti apa kita belum bisa bilang. Karena pemira belum terjadi,” kata Sugeng. 

Dalam konteks mekanisme penjaringan, menurut Sugeng, partai akan menyerahkan sepenuhnya ke kader. Yang penting bagi kader akan menggodok siapa saja yang layak diajukan dalam pemira. 

“Ada dua spektrum, internal dan eksternal. Siapa yang layak diajukan. Ini yang coba nanti digodok dan dikomunikasikan dengan pihak lain. Karena dengan lima kursi, kami kan harus koalisi. Tapi kami belum menentukan akan dengan siapa berkoalisi,” ujar Sugeng. 

Sekretaris Partai Demokrat Solo Reni Widyawati tidak mau kalah. Dia mengklaim Partai Demokrat merupakan pelopor kepemimpinan muda. 

“Pemimpin milenial bukan barang baru. Kami kan punya pemimpin muda. Mas AHY (Agus Harimurti Yudhoyono). Tagline kami muda adalah kekuatan. Dulu AHY terjun ke gelanggang saja banyak yang menyepelekan. Sekarang malah banyak dimunculkan tokoh-tokoh muda. Demokrat kan sudah duluan memunculkam pemimpin milenial,” kata Reni. 

Terkait Pilkada Solo, Partai Demokrat menyadari tidak memiliki kursi di parlemen. Karena itu, partainya akan turut mendukung figur-figur yang jelas dan sudah teruji. 

“Di legislatif itu tidak gampang. Saya pengalaman 15 tahun. Boleh saja mendorong anak muda, tapi di AD 2 (wakil wali kota) dulu lah. Untuk AD 1 (wali kota) yang sudah berpengalaman. Minimal sudah berpengalaman di organisasi politik. Ini kan bukan ajang uji coba. Siapa saja figur-figur layak didukung akan dipresentasikan di tingkat partai,” ujarnya.

Pengamat politik Universitas Sebelas Maret (UNS) Didik Gunawan Suharto menyebut pemimpin yang ideal tetaplah kolaborasi antara generasi muda dan generasi tua. Bisa generasi muda yang memimpin, atau sebaliknya generasi muda sebagai wakilnya.

“Ini ideal, karena ada penyeimbangnya. Baik yang tua mengimbangi yang muda. Begitu juga sebaliknya. Sebab masing-masing generasi punya kelebihan dan kelemahan,” katanya.

Pemimpin muda memang punya potensi besar. Didik menyebut pemimpin muda memiliki ide-ide yang fresh dan baru. Mereka juga relatif belum terkontaminasi oleh kepentingan yang kompleks. Juga cenderung dinamis. Itu kelebihannya.

“Minusnya, generasi muda sering kali dituding belum memiliki tingkat kematangan. Sebagai pemimpin yang bertugas mengayomi beragam masyarakat, tingkat kematangan itu penting. Nah, kematangan ini yang dimiliki oleh pemimpin tua. Karena sudah berpengalaman,” sambungnya.

Pemimpin muda pun sering kali masih emosional. Dengan kondisi ini, lanjut Didik, akan berdampak pada rumusan dan pelaksanaan kebijakan. Inilah yang membuat pemimpin muda masih diragukan kemampuannya.

“Selain itu, masyarakat juga belum percaya dengan generasi muda biasanya karena track record-nya sebagai pemimpin masih belum meyakinkan,” imbuhnya.

Namun Didik melihat generasi muda justru cenderung menjadi komoditas politik oleh elit untuk meraup simpati dari pemilih muda. Sebab potensi suara yang memilih mereka cukup besar. Alasan lain, Didik menilai tidak banyak anak muda yang merintis politik sejak awal.

“Kalau pun ada anak muda yang terpilih jadi elit, pasti punya akses dan afisiliasi oleh elit politik tertentu,” ujarnya.

Lalu seperti apa generasi muda yang pantas duduk di kursi kepemimpinan? Menurut Didik, adalah mereka yang serba ideal. Memiliki kemampuan, kualitas, talenta, karakter, dan moralitas. Sehingga pernyataan Presiden Jokowi soal generasi muda yang sudah saatnya tampil di pemerintahan bukan hanya sekadar wacana belaka.

“Sejak dulu hal itu masih menjadi wacana. Sebab, memang porsi untuk generasi muda tidak banyak. Kembali lagi, karena anak muda yang merintis politik itu minim sekali. Jadi yang tampil ya yang tua-tua saja,” ujarnya. (kwl/aya/bun)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia