Jumat, 06 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Warga Rela Menunggu Berjam-jam Demi Berebut Gunungan

12 Agustus 2019, 10: 58: 44 WIB | editor : Perdana

DIARAK: Gunungan jaler dan estri diarak dari Keraton Surakarta menuju Masjid Agung, sebelum diperebutkan warga, kemarin (11/8). 

DIARAK: Gunungan jaler dan estri diarak dari Keraton Surakarta menuju Masjid Agung, sebelum diperebutkan warga, kemarin (11/8).  (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Keraton Kasunanan Surakarta kembali melaksanakan tradisi gunungan dalam upacara adat Hajad Dalem Pareden Grebeg Besae, Minggu (11/8). Seperti biasanya, arak-arakan gunungan jaler dan estri itu ludes diambil warga usai di doakan di Masjid Agung Surakarta.  

Sejak pagi, kerumunan warga mulai memadati pelataran Keraton Kasunanan Surakarta. Massa seakan tak sabar melihat gunungan yang akan segera diarak keliling keraton siang itu. “Lagi jalan-jalan ke keraton, katanya ada acara adat. Jadi saya tunggu sekalian untuk ambil gambar,” ucap Daisy  Barron, wisatawan asal Belanda. 

Dia bersama kawan senegaranya memang baru beberapa hari tiba di Kota Solo setelah menikmati suasana pantai di Pulau Dewata. Sebelum ke Jogjakarta, dia menyempatkan diri menengok tempat bersejarah di Kota Bengawan. “Ramai, baru kali ini saya melihat tentara kerajaan di Indonesia,” kata Daisy. 

Tak berselang lama, pukul 10.00 WIB, sepasang gunungan jaler (laki-laki) dan estri (perempuan) tersebut diarak dari pelataran Keraton Surakarta melalui Bangsal Sri Manganti, Kori Kamandungan Lor dan melewati Kori Brajanala sebelum memasuki kompleks Siti Hinggil. Rombongan kirab akhirnya keluar melalui Jalan Supit Urang hingga kemudian berjalan beriringan ke kompleks Masjid Agung Surakarta. Sebelum dibagikan, gunungan berisi hasil bumi dan pangan itu sempat didoakan oleh ulama setempat. 

Massa makin berdesakan di sekitar gunungan. Usai didoakan, mereka langsung berebut hasil bumi yang katanya membawa berkah tersebut. Gunungan estri ditinggal dan langsung diperebutkan oleh warga di pelataran Masjid Agung Surakarta.  Sementara gunungan jaler dibawa kembali menuju Keraton Solo untuk dibagikan pada masyarakat di sana. 

Pengageng Parentah Keraton Surakarta KGPH Dipokusumo menerangkan, Grebeg Besar merupakan salah satu upacara adat yang digelar rutin oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, untuk memperingati Hari Raya Idul Adha. Gunungan berisi berbagai macam hasil sedekah bumi dan makanan. Misalnya, gunungan jaler terdiri dari sayur hasil bumi, seperti kacang panjang, terong, wortel, cabai, sawo dan tomat. Sementara gunungan estri berupa rengginang. Filosofinya, sebagai sarana berbagi kebaikan raja kepada rakyat yang sudah biasa dilakukan sejak masa mataram hingga hari ini. 

“Kedua pasang  gunungan ini tanda syukur dari raja kepada rakyatnya. Selain itu, gunungan juga merupakan simbol Nabi Muhammad SAW memberi rezeki berupa hasil bumi yang diwujudkan dalam gunungan yang dibagikan ke masyarakat,’ tutur Dipokusumo. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia