Senin, 26 Aug 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Pendapatan RSUD Ir Soekarno Hilang Rp 10 Miliar

12 Agustus 2019, 12: 08: 12 WIB | editor : Perdana

MEGAH: Sejumlah pekerja sedang menyelesaikan pengerjaan paving parkir RSUD Ir Soekarno, Sukoharjo. Sistem baru BPJS menyebabkan pasien RSUD ini berkurang.

MEGAH: Sejumlah pekerja sedang menyelesaikan pengerjaan paving parkir RSUD Ir Soekarno, Sukoharjo. Sistem baru BPJS menyebabkan pasien RSUD ini berkurang. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Rumah Sakit Umum Darah (RSUD) Ir Soekarno yang menyandang tipe B mengalami penurunan pasien sejak pemberlakuan sistem berjenjang bagi pasien BPJS. Hal itu mendapat perhatian serius dari Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya.

Bupati mengungkapkan, sejak sistem berjenjang pasien BPJS, pendapatan RSUD Sukoharjo anjlok sampai Rp 10 miliar. Untuk itu diperlukan kebijakan menurunkan tipe rumah sakit dari B menjadi tipe C.

”Sudah saya instruksikan pada pimpinan RSUD Sukoharjo untuk menurunkan tipe rumah sakit daerah dari B menjadi C. Ini sebagai upaya penyelamatan. Untuk apa ada rumah sakit jika tidak ada pasien?,” kata Wardoyo kemarin (11/8)

Bupati Sukoharjo mengatakan efek penerapan sistem rujukan berjenjang pada pasien BPJS menyebabkan RSUD Sukoharjo kehilangan pasien. Jika kondisi tersebut terus dibiarkan berakibat pada kolaps atau bangkrut.

”Kondisi saat ini sudah berat. Penerapan sistem berjenjang tersebut menyebabkan pasien BPJS harus melakukan pemeriksaan berjenjeng, dari faskes dirujuk ke rumah sakit tipe D, C dan baru ke B. Jadi prosesnya terlalu panjang untuk sampai ke RSUD Sukoharjo yang menyandang tipe B,” imbuhnya.

Direktur RSUD Ir Soekarno Gani Suharto mengatakan, penurunan pasien terjadi sejak diberlakukan aturan rujukan berjenjang bagi pasien BPJS Kesehatan dan JKN. Sedangkan RSUD Sukoharjo telah menyandang rumah sakit tipe B sejak 2009 silam. Dia menampik jika tipe B RSUD Ir Soekarno bukan penyebab turunnya jumlah pasien. Penurunan pasien terutama terjadi pada pasien rawat jalan. Hal tersebut juga berdampak pada pendapatan rumah sakit yang ikut berkurang.

”Penurunan lebih karena pemberlakuan aturan rujukan berjenjang bagi pasien BPJS Kesehatan. Sejak pemberlakuan itu pada Oktober 2018 lalu penurunan pasien sampai 50 persen,” jelasnya.

Menurut Gani, tidak perlu menurunkan grade RSUD Ir Soekarno. Karena berdampak pada sejumlah peralatan dan tenaga medis (SDM) yang harus dikurangi. Padahal, secara kualitas pelayanan RSUD sudah bagus.

”Saya pikir pemberlakuan rujukan berjenjang ini menjadi masalah disemua rumah sakit tipe B. Karenanya kami telah mengadakan rapat untuk RS tipe B se-Jateng. Dan telah kami sampaikan ke Dirjen Kementerian Kesehatan. Hasilnya akan diadakan review rumah sakit,” terang Gani. (rgl/adi)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia