Senin, 26 Aug 2019
radarsolo
icon featured
Features

Mengenal Suparyanto, Pawang Buaya Taman Satwa Taru Jurug Solo

14 Agustus 2019, 07: 35: 59 WIB | editor : Perdana

SANGAT DEKAT: Suparyanto merawat buaya piaraannya di TSTJ Solo.

SANGAT DEKAT: Suparyanto merawat buaya piaraannya di TSTJ Solo. (IRAWAN WIBISONO/RADAR SOLO)

Share this      

Kasih sayang tak hanya dirasakan manusia. Nyatanya seekor buaya pun perlu perhatian. Suparyanto paling tahu bagaimana cara memperlakukan hewan buas ini. Seperti apa?

IRAWAN WIBSONO, Solo

KEAKRABAN antara hewan dengan manusia jamak terlihat di lingkungan kita. Terutama jika hewan tersebut jinak dan selalu menurut. Lalu bagaimana dengan hewan buas?. Bagi Suparyanto, pawang hewan di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo ini, seluruh binatang harus diakrabi. Setiap hari dia menjadi pawang atau keeper khusus binatang buas, seperti buaya dan beruang, di kebun binatang tersebut. 

Meski berbahaya, Suparyanto mengaku sangat menikmati tugasnya. Setiap hari warga Sumberlawang, Kabupaten Sragen ini rela menempuh perjalanan puluhan kilometer dari rumahnya, demi merawat satwa-satwa buas koleksi TSTJ. “Sudah ada semacam ikatan batin dengan hewan-hewan itu,” katanya.

Baginya, merawat hewan buas atau hewan jinak prinsipnya sama. “Sama-sama harus diperlakukan dengan kasih sayang. Kalau sudah begitu, pasti mereka juga akan membalas dengan kasih sayang dan tidak akan menyerang,” urainya.

Begitu sayangnya, Suparyanto bahkan merawat hewan-hewan itu bak anak kandungnya. Hingga memandikan hewan buas, terutama buaya rawa, pun dilakoninya. Khusus satwa ini, dia memang dipercaya memberi makan dan membersihkan kandang mereka.

Di satu kesempatan, saat hendak memandikan buaya rawa berusia setahun, Suparyanto memarahi buaya tersebut lantaran tak mau diatur. “Terutama kalau nggak mau dimandikan. Ya mungkin karena saking dekatnya,” kata dia.

Namun sebagai manusia, Suparyanto tetap merasa takut mendekati hewan-hewan buas tersebut pada awalnya. Berbagai cara dilakukan untuk menjinakkannya. Hingga akhirnya dia menyimpulkan bahwa kasih sayang adalah kunci berinteraksi dengan satwa-satwa buas itu. 

  “Butuh penjajakan selama beberapa bulan, sampai buaya itu bisa akrab dengan saya. Kuncinya ya itu tadi, kasih sayang. Lama-lama saat membersihkan kandang saya sudah terbiasa. Buayanya di sebelah saya saat kandang saya bersihkan,” ujarnya. (*/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia