Selasa, 19 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Kiprah Mahasiswa Kuliah sambil Kembangkan Wirausaha

15 Agustus 2019, 07: 15: 59 WIB | editor : Perdana

ULET: Sugeng kembangkan bisnis aplikasi di dunia pendidikan.

ULET: Sugeng kembangkan bisnis aplikasi di dunia pendidikan. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Share this      

Zaman sekarang, sudah bukan eranya lagi mahasiswa masih mengandalkan uang saku dari orang tua. Mahasiswa kini tak lagi gengsi menjalani bisnis di samping kesibukannya menuntut ilmu. Bahkan tak sedikit yang berhasil meraup pendapatan layaknya pengusaha kelas atas. 

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo

STATUS mereka memang masih mahasiswa. Namun, dari bisnis yang mereka kembangkan mereka bisa meraup belasan juta dalam setiap bulannya. Salah satunya Sugeng Sulistiawan. Mahasiswa semester akhir di Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) ini merintis usaha di bidang jasa teknologi. 

ULET: Jalu rintis usaha kebab.

ULET: Jalu rintis usaha kebab.

Dia menyediakan jasa pembuatan aplikasi berbasis website dan android yang dirintis sejak dua tahun lalu. Pengguna jasanya kebanyakan tak jauh-jauh dari dunia pendidikan. Ada aplikasi manajemen sekolah, monitoring jaringan sekolah, sistem registrasi event yang dijalankan oleh sekolah dan lain sebagainya. “Ada juga dari kalangan pelaku usaha bidang lain,” beber Sugeng yang kini memiliki empat karyawan programmer ini.

Sugeng yang sejak duduk di bangku sekolah memang menyukai dunia pemrograman ini dalam sebulan menerima pesanan sedikitnya 30 jenis aplikasi. Ada yang dijual putus tanpa pemeliharaan, ada yang kontrak dengan pemeliharaan.

Selain menjual aplikasi, ia juga melakukan maintenance terhadap klien pengguna aplikasinya. Ada sekitar 15-20 klien yang dilayani per bulan. Laba bersih yang diraup tak kurang dari Rp 12 juta.

“Satu aplikasi biasanya sekitar Rp 2-4 juta. Dalam sebulan bisa sampai 30 aplikasi terjual,” katanya.

Saat ini dia masih mengontrak tempat untuk pengembangan ke depannya. Rencananya, dia ingin berinvestasi untuk memiliki kantor sendiri.

Kondisi serupa juga dilakoni Jalu Pralambang Indiana, mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) UNS ini memilih mengembangkan usaha kuliner. Dia memilih kebab sebagai bisnisnya. Jalu yang masuk sebagai penerima hibah serta pendampingan dari kampusnya ini memiliki lima gerai kebab di Solo dan sekitarnya.

Setiap gerai memiliki dua karyawan dan menghasilkan omzet tak kurang dari Rp 6 juta. Bahkan di salah satu gerai yang berlokasi di depan salah satu pusat perbelanjaan di Colomadu ini cukup ramai konsumen. Dalam sehari bisa menghasilkan omzet Rp 400 ribu atau sekitar Rp 8-10 juta perbulan.  

“Lima cabang ini masih saya dan keluarga yang pegang, belum saya sistem seperti franchise. Ke depan saya ingin belajar mengenai franchise tersebut dengan brand yang saya jual dengan sistem itu,” sambungnya.   

Eddy Tri Haryanto, dosen UNS yang mendampingi mahasiswa penerima hibah wirausaha dari kampus ini mengungkapkan, salah satu tujuan memberikan hibah modal ini ingin mengubah pola pikir mahasiswa agar setelah lulus mampu berwirausaha.

“Melalui program ini mahasiswa dibina dan diberi pengarahan untuk menjadi wirausaha mandiri. Selanjutnya digelontorkan dana stimulan untuk mengembangkan usaha yang mereka rintis. Sebanyak 87 mahasiswa terpilih dalam program yang didanai Rp 580 juta dari kampus meraup sukses dengan usaha mereka kendati masih berstatus mahasiswa,” ujarnya. (*/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia