Sabtu, 21 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Panitia HUT Ke-50 GKJ Nusukan dan Perhati-KL Solo Gelar Bakti Sosial

17 Agustus 2019, 20: 04: 30 WIB | editor : Perdana

Tim Perhati-KL bersihkan telinga salah satu murid SD, Sabtu (17/8).

Tim Perhati-KL bersihkan telinga salah satu murid SD, Sabtu (17/8).

Share this      

SOLO – Data World Health Organization (WHO) menunjukkan kasus gangguan pendengaran pada anak usia sekolah di Asia Tenggara cukup tinggi. Untuk itu, perlu dilakukan screening pendengaran secara rutin untuk penanganan lanjutan. Yakni habilitasi, bagi anak yang tidak bisa mendengar agar bisa mendengar. Dan rehabilitasi, bagi anak yang bisa mendengar karena suatu hal menjadi tidak bisa mendengar.

"Anak-anak, utamanya usia sekolah rawan terkena gangguan pendengaran. Melalui screening, dokter bisa mengetahui ada gangguan atau tidak. Salah satu cara mudahnya dengan melakukan bersih-bersih telinga (BBT). Kalau ada kotoran di dalam telinga, segera diambil maka langsung bisa mendengar kembali," ungkap Ketua Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) Komite Daerah Solo Sudarman di sela-sela kegiatan Bakti Sosial dalam rangka HUT Kemerdekaan Ke-74 RI Sabtu, (17/8).

Bersama Panitia HUT Ke-50 Gereja Kristen Jawa (GKJ) Nusukan dan Perhati-KL Cabang Solo Sudarman menyebut ingin menurunkan angka gangguan pendengaran dan ketulian di Indonesia yang cukup tinggi.

Panitia berfoto bersama di sela bakti sosial di SDN Joglo 76 Surakarta.

Panitia berfoto bersama di sela bakti sosial di SDN Joglo 76 Surakarta.

Guna dapat meng-cover 90 persen gangguan pendengaran di seluruh Indonesia, lanjut Sudarman,  perlu waktu cukup lama, proyeksinya pada 2030.

"Karena itu kami mengusahakan kegiatan BBT sebagai salah satu upaya menanggulangi gangguan pendengaran di Indonesia, khususnya di Kota Solo," jelas dia.

Ketua Perhati-KL Cabang Solo Iwan Setiawan Adji menuturkan, masyarakat Kota Bengawan, khususnya anak-anak, sudah mulai familiar dengan kegiatan BBT. Terbukti dengan antusiasme peserta pada kegiatan yang dipusatkan di SDN Joglo, Banjarsari tersebut.

"Kegiatan BBT ini sederhana, tapi efeknya luar biasa. Saat di-screening, bisa ditemukan kotoran, infeksi, atau gangguan karena terpapar bising. Agar anak-anak tidak takut saat diperiksa, maka kegiatan kami kemas semenarik mungkin. Dengan panggung hiburan akustik kemerdekaan ini contohnya," terangnya.

Melalui kegiatan BBT ini, Iwan dan para dokter lainnya bisa memberikan tindakan kepada anak untuk menanggulangi gangguan pendengaran yang dialami. Tak hanya itu, Iwan dan dokter lainnya juga ingin menyampaikan bahwa kemerdekaan bukan hanya sekadar bebas dari penjajah.

"Namun juga kemampuan kita melayani dan berbagi terhadap sesama. Kalau kita sudah melayani dan berbagai, kita sudah merdeka," ungkapnya.

Ketua panitia kegiatan sekaligus Ketua HUT KE-50 GKJ Nusukan dr. Eko Tavip Riyadi, Sp.THT, M.Kes. mengungkapkan, kegiatan bakti sosial terselenggara agar peringatan HUT RI tidak sekadar seremonial, tapi ada kegiatan lain yang bersifat pelayanan untuk berbagi dengan sesama.

Bakti sosial tersebut diikuti oleh seluruh siswa dari empat SD. Yakni SDN Joglo, SDN Kadipiro, SDN Sambirejo, dan SDN Prawit 2. Tak hanya siswa dan para guru, masyarakat sekitar dipersilakan mengikuti kegiatan gratis tersebut.

"Sebelum kegiatan BBT dimulai, kami mengadakan upacara bersama. Kemudian sembari menunggu kegiatan, ada konser akustik bertema kemerdekaan," terangnya. (bay)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia