Senin, 16 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Ketika Penyandang Tunanetra Dipercaya Jadi Pengibar Bendara 

Dihitung Dalam Hati agar Tak Kebablasan

18 Agustus 2019, 10: 15: 59 WIB | editor : Perdana

YAKIN LANCAR: Petugas upacara penyandang tunanetra membaca teks Pancasila menggunakan huruf braille kemarin.

YAKIN LANCAR: Petugas upacara penyandang tunanetra membaca teks Pancasila menggunakan huruf braille kemarin. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

MENJADI petugas upacara HUT Kemerdekaan Ke-74 RI menjadi pengalaman pertama bagi Kelompok Massure Tunanetra Sabtu Wage (KMTS) Surakarta, Sabtu (17/8). Mereka ingin membuktikan kekurangan bukan penghalang turut serta memperingati hari bersejarah tersebut.

A. Christian, Solo, Radar Solo

SEJAK pagi peserta upacara bendera sudah berkumpul di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Bhakti Candrasa Surakarta. Mereka yang ditunjuk sebagai petugas upacara tampak lebih sibuk. Di antaranya merapikan seragam setelan hitam putih dan sebagainya.

Tepat pukul 09.00, peserta dan petugas upacara berbaris rapi di lapangan. Upacara bendera selama 45 menit tersebut berlangsung khidmat. Meskipun penyandang tunanetra tersebut baru dua kali berlatih.

“Sesuai nama kelompok, pertemuan kita itu setiap Sabtu Wage. Setelah lihat kalender, ternyata hari ini (kemarin, Red) pas Sabtu Wage,” terang Ketua KMTS Purwanto.

Pengurus KMTS kemudian rembukan terkait kemungkinan para penyandang tunanetra menjadi petugas upacara HUT RI. Akhirnya mereka yakin bisa melaksanakannya. 

“Karena waktunya mepet, kita mulai mencari sumber daya manusianya dulu. Setelah kita tunjuk, kita minta bantuan dari pembina di Bhakti Candrasa untuk membina,” terang warga Kampung Griyan RT 03 RW 10 Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan ini.

Pria yang kemarin tepat berusia 51 tahun itu merinci, untuk komandan serta pengibar bendera dipilih tunanetra low vision, sedangkan petugas yang lain seperti pembaca pembukaan UUD 1945, Pancasila, doa, teks Proklamasi dan ikrar disabilitas dari tunanetra total. “Untuk yang baca teks kita pakai huruf braille,” ujarnya.

Demi memastikan pelaksanaan upacara berjalan lancar, seluruh petugas rela menyisihkan waktu tekun berlatih. Apalagi mereka sudah berumur dan sudah lama tidak ikut upacara bendera.

“Kita sadar kekurangan kita. Kadang waktu baris-berbaris, ada anggota yang (jalannya) melenceng, terutama pengibar bendera. Terus lagu Indonesia Raya belum selesai, benderanya sudah sampai di atas,” ungkap Purwanto yang didapuk menjadi inspektur upacara.

Petugas pengibar bendera Merah Putih Eti Winarsih mengakui hal tersebut. Waktu latihan, beberapa kali dia diingatkan pelatih karena selalu salah melangkah.

“Kadang kita sudah memperikaran pas (saat jalan), tapi ternyata melenceng. Terus kadang menabrak teman di samping atau ketinggalan teman,” kelakarnya.

Pengalaman tersebut mendorong Eti Winarsih meningkatkan konsentrasinya. Dalam hati dia menghitung jumlah langkahnya agar pas sampai di depan tiang bendera. “Dapat masukan waktu disuruh meluruskan barisan, kita melakukan setengah lencang saja. Jadi kalau menyenggol teman, berarti posisi saya melenceng, tinggal meluruskan saja sambil mengode teman di samping. Alhamdulillah waktu berlatih teknik ini berhasil,” urai warga Boyolali itu.

Menjadi petugas pengibar bendera bukan hal baru bagi Eti. Saat masih berstatus murid di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Bhakti Candrasa Surakarta, dia kerap ditunjuk sebagai petugas serupa. 

Namun, sejak lulus pada 2000, Eti tidak pernah lagi menjadi petugas pengibar bendera hingga. “Jadi latihan kemarin untuk mengingat saja, bagaimana caranya dulu,” terang dia. (*/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia