Sabtu, 21 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Sambut Era Industri 4.0, Dorong Generasi Milenial Melek Digital

20 Agustus 2019, 10: 30: 35 WIB | editor : Perdana

GO DIGITAL: CEO Oorth berbicara dalam seminar kemerdekaan digital di Swiss Belinn Saripetojo.

GO DIGITAL: CEO Oorth berbicara dalam seminar kemerdekaan digital di Swiss Belinn Saripetojo. (EDY WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Momen Kemerdekaan RI selalu diidentikkan dengan kata ‘merdeka’ dalam berbagai hal. Salah satunya kemerdekaan digital, dimana saat ini Indonesia sebenarnya belum sepenuhnya merdeka di era digital. Terbukti, di Indonesia penetrasi pengguna internet baru mencapai 56 persen, sehingga potensinya masih besar untuk dikembangkan.

Terutama bagi generasi milenial yang membutuhkan best practise dalam penggunaan digital secara positif. Sehingga generasi milenial perlu diinisiasi sejak awal dengan memberi inspirasi agar bisa terjun dan menguasai bisnis digital. Jadi kemerdekaan digital, bukan diartikan sekadar latah mengunggah konten digital di sosial media, tanpa mengganggu kemerdekaan orang lain.

“Intinya kita ingin mengajak generasi milenial untuk memanfaatkan teknologi digital menjadi media yang membawa mereka lebih kreatif. Harapannya agar generasi milenial lebih berguna dan memberikan kontribusi positif,” papar Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), Ani Wijayanti, di sela seminar Kemerdekaan Digital - Menjadi Insan Kreatif Indonesia, Siapa Takut?  di Swiss Belinn Saripetojo, Senin (19/8). 

Pembicara yang dihadirkan dalam kesempatan tersebut adalah para praktisi di bidang digital yaitu VP Bukalapak, Bayu Syeril Rachmat dan CEO & Founder Oorth, Krishna Adityangga.  Menurut Bayu, banyak peluang bisnis dengan memanfaatkan internet. Tinggal bagaimana secara jeli memanfaatkan peluang tersebut, dan tak terjebak pada penggunaan sosial media yang tak jelas.

“Berdasar data, 70 persen generasi milenial akan masuk angkatan produktif kerja hingga 2020. Kondisi itulah yang menjadi pintu gerbang bagi para milenial untuk lebih banyak berkarya. Sehingga mereka harus dibekali tentang penggunaan internet positif sejak dini,” jelas Bayu.     

Sementara itu, menurut Krishna Adityangga, yang perlu dipahami memasuki era digital adalah sebuah keniscayaan. Prinsipnya  jangan hanya tools-nya saja yang digital, tapi masyarakatnya juga harus memiliki perubahan mindset digital. 

“Di sisi lain, terkait keberlangsungan industri digital atau industri 4.0, tak bisa digerakkan secara sendirian. Karena itu dibutuhkan perubahan mental dan mindset, memanfaatkan internet secara positif,” terang Krishna Adityangga. (pro/edy/bun)

(rs/fer/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia