Selasa, 17 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Ruby Emir, Fasilitasi Penyandang Disabilitas Bekerja di Sektor Formal

22 Agustus 2019, 10: 44: 36 WIB | editor : Perdana

Ruby Emir, Fasilitasi Penyandang Disabilitas Bekerja di Sektor Formal

Sering kali para penyandang disabilitas mengalami kesulitan dalam mengakses dan meraih kesempatan bersaing mendapatkan pekerjaan formal. Selain tak banyak informasi yang bisa diperoleh, kesempatan yang diberikan kepada para penyandang disabilitas pun cenderung terbatas. Ruby Emir punya solusinya. Seperti apa?

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo.

ADA yang tergerak dalam hati seorang Ruby Emir. Saat melihat penyandang disabilitas sering kali merasa kesulitan mendapatkan pekerjaan formal. Bahkan, sekadar mengakses informasi lowongan pekerjaan pun mereka tidak bisa. Ruby ingin mereka memiliki kesempatan yang sama agar bisa bekerja di sektor formal. 

Ruby bersama rekannya kemudian membuat platform pencari tenaga kerja khusus untuk penyandang disabilitas. Platform tersebut diberi nama kerjabilitas.com. Harapannya, tidak ada lagi para penyandang disabilitas yang mengeluh kesulitan mencari pekerjaan.

“Tidak hanya informasi lowongan kerja untuk penyandang difabel yang terbatas. Namun, juga jenis pekerjaan yang tersedia untuk mereka tidak banyak. Itu alasan kami tergerak membantu mereka. Kami membujuk agar penyedia kerja, baik swasta, pemerintah, maupun usaha kecil menengah (UKM) bisa membuka kesempatan kerja yang setara buat penyandang difabel,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Lowongan pekerjaan bagi penyandang disabilitas yang terpasang di media-media mainstream sangat minim informasi. Namun di satu sisi, Ruby menyebut, animo penyandang disabilitas untuk memperoleh pekerjaan sangat tinggi.

“Padahal lowongan yang tersedia untuk mereka sangat sedikit. Banyak perusahaan yang enggan untuk menggunakan tenaga kerja dari kalangan difabel. Inilah tujuan platform ini didirikan. Kami mencoba untuk menjembatani para difabel memperoleh kesempatan kerja,” sambungnya.

Untuk memperoleh kesempatan kerja, tim kerjabilitas.com rutin mencari informasi ke berbagai perusahaan yang bersedia mempekerjakan para difabel. Ruby tak mengelak, bukan hal yang gampang mencari kesempatan tersebut. Di lapangan, dengan berbagai alasan, masih banyak perusahaan yang enggan menggunakan jasa para difabel.

“Alasan yang paling sering kami terima adalah stigma dan underestimate terhadap kemampuan difabel. Selain itu, juga alasan aksesbilitas yang terbatas dari penyandang difabel. Para perusahaan enggan mengeluarkan biaya tambahan untuk aksesbilitas itu, baik fisik dan nonfisik,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, biasanya Ruby dan tim melakukan sejumlah upaya negosiasi. Agar perusahaan bersedia menerima tenaga kerja dari penyandang disabilitas. Lagi-lagi, ini cukup sulit dilakukan Ruby.

“Kesadaran perusahaan terhadap isu disabilitas masih sangat rendah. Biasanya kami memaparkan beberapa usulan terkait aksesbilitas. Sehingga perusahaan mau dan yakin mempekerjakan difabel,” imbuhnya.

Sektor perbankan, lanjut Ruby adalah salah satu yang paling banyak menyerap tenaga kerja difabel. Sebab mereka menyadari adanya aturan untuk memberi ruang bagi tenaga kerja difabel. Sektor lainnya, masih sulit ditembus.

“Yang juga cukup banyak serapannya adalah industri skala menengah atau UKM. Karena birokrasinya simpel,” ujarnya.

Strategi bisnis yang dijalankan Ruby sebenarnya lebih mendorong pada dampak sosial dan keberlanjutan. Sehingga tujuan utama startup ini bukan pada profit, melainkan adalah dampak sosial. 

“Salah satu kepuasan bagi kami adalah ketika ada penempatan tenaga kerja dari difabel yang kami fasilitasi. Sejauh ini sudah ada sekitar 400 penempatan tenaga kerja disabilitas yang kami fasilitasi sejak kerjabilitas.com kami dirikan 2015,” ujarnya. (*/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia