Sabtu, 21 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Awas, Ada Ekstasi Bentuk Baru

22 Agustus 2019, 12: 37: 24 WIB | editor : Perdana

OPERASI ANTIK: Kapolres Klaten AKBP Aries Andhi saat gelar perkara narkoba di mapolres.

OPERASI ANTIK: Kapolres Klaten AKBP Aries Andhi saat gelar perkara narkoba di mapolres. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Operasi Antinarkoba (Antik) yang digelar jajaran Satnarkoba Polres Klaten membuahkan hasil. Selama operasi 20 hari, berhasil diungkap sembilan kasus narkoba dan 12 tersangka. Menariknya, terdapat jaringan pengedar sabu dan ekstasi yang terungkap.

Barang bukti yang berhasil diamankan dari para tersangka berupa 1,48 ons sabu dan 35 butir ekstasi. Sabu dan ekstasi itu diedarkan di wilayah Klaten, Solo, dan Jogja. Pil ekstasi yang diedarkan bentuknya beda dari umumnya. Disamarkan agar tidak terendus polisi.

“Bentuknya seperti nama mereknya, yakni cap kaki. Kalau selama ini kan bentuknya tablet. Tetapi ini kami jumpai yang berbeda,” kata Kapolres Klaten AKBP Aries Andhi saat gelar perkara di mapolsek setempat, kemarin (21/8).

Kapolsek mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai ekstasi dengan wujud baru tersebut. Serta meminta keterlibatan masyarakat untuk melaporkan adanya aktivitas mencurigakan di lingkungan masing-masing.

“Biasanya kami mengungkap jenis sabu. Tetapi kali ini kami temukan peredaran narkotika jenis ekstasi. Ini menjadi perhatian kita semua untuk lebih serius dalam mengungkap kasus narkoba di Klaten,” imbuh kapolres.

Kasatnarkoba Polres Klaten AKP Munawar menambahkan, seluruh barang bukti didapatkan tersangka dari jaringan yang sama. Yakni Lapas Kedung Pane Semarang.

“Sebenarnya tersangka punya 100 butir ekstasi. Sebagian sudah diedarkan dan dikonsumsi. Sekarang tinggal 35 butir. Sabu yang tadinya 5 ons tinggal 1,48 ons. Seluruh sabu dan ekstasi didapatkan dari oknum berinisial A dari jaringan lapas di Semarang,” paparnya.

Seluruh tersangka berasal dari Klaten. Atas perbuatannya, mereka dijerat Pasal 112 dan 114 UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya 4-20 tahun penjara. “Sepanjang 2019 kami mengungkap 50 kasus dengan 60 tersangka,” beber Munawar.

Salah tersangka yang juga residivis Angger Nugroho, 28, warga Desa/Kecamatan Karanganom mengaku pengguna sekaligus pengedar. Seluruh barang haram didapatnya dari Lapas Kedung Pane Semarang.

”Untungnya Rp 70 Juta. Pengguna kalangan menengah ke atas. Sistemnya transfer. Rata-rata transaksi Rp 1-5 juta,” ujarnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia