Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo
SIDANG LAKA MAUT

Empat Saksi Kuatkan Kematian Korban

23 Agustus 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Empat Saksi Kuatkan Kematian Korban

SOLO – Guna mempertegas penyebab kematian korban Eko Prasetio, empat saksi  ahli dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) dalam persidangan Iwan Adranacus, terdakwa kasus kecelakaan maut.

 Para saksi sendiri terdiri dari satu orang ahli Forensik RSUD Dr Moerwardi Solo, Hari Wujoso yang memeriksa jasad korban, dua lainnya dari Tim Labfor Polda Jateng, yaitu Kompol Bowo Nurcahyo dan AKBP Teguh Prehmono serta Wawan Herdiyanto yang juga ahli teknisi mobil Mercedes-Benz dari Jogjakarta. Proses persidangan sendiri dipimpin Krosbin Lumbangaul didampingi dua majelis hakim Sri Widyastut, dan Endang Makmun.

Hari Wujoso mengatakan, korban meninggal setelah fungsi otak rusak karena terjadi trauma di bagian kepala sisi kanan yang diakibatkan karena berbenturan dengan benda tumpul dan keras. Hal ini terlihat setelah pihaknya melakukan otopsi pada jasad korban pada Rabu (22/10) sekitar pukul 21.30

“Terdapat luka di kepala dan beberapa tulang yang patah, kepala pecah separo sebelah kanan.  Kemudian kami membedah bagian kepala. Kami lihat pendarahan di selaput otak dan bagian otak tercecer di bagian kepala akibat peristiwa benturan tersebut. Korban meninggal karena rusaknya jaringan otak dengan sebagian tulang kepala juga pecah di otak besar dan otak yang rusak seperti ini tidak bisa diperbaiki lagi,” urai Hari.

Krosbin lantas menanyakan apakah ada luka lain akibat kejadian tersebut?, Hari menegaskan ada. Bagian luka lain terdapat di bagian dahi diatas alis, di mata kanan di dalam kelopak mata yang termasuk luka fatal. Kemudian luka lecet di bagian tangan serta kaki korban.

Sementara itu, penasihat hukum terdakwa Iwan Adranacus yang ketuai oleh Joko Haryadi menanyakan kepada saksi ahli apakah ada pemeriksaan penunjang yang dilakukan oleh pihaknya mengenai penyebab kematian dari korban?

Dari pertanyaan tersebut, Hari meyakini bahwa penyebab kematian korban akibat trauma benda tumpul di bagian kepala. “Biasanya memang ada pemeriksaan penunjang, tapi hal tersebut dilakukan apabila korban meninggal tidak wajar. Misal keracunan atau overdosis. Terkhusus untuk kasus ini cukup dilakukan dengan pemeriksaan luar dan dalam untuk mengetahui penyebab kematian korban,” urai Hari. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia