Senin, 16 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Kisah Abrizam Hammam Zufar, Balita Penderita Osteogenesis Imperfecta

23 Agustus 2019, 10: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Abrizam duduk di kursi roda bersama ibundanya Anita kemarin.

Abrizam duduk di kursi roda bersama ibundanya Anita kemarin. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Share this      

Abrizam Hammam Zufar, bocah 5 tahun asal Bandongan RT 01 RW 01, Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo ini menderita penyakit langka osteogenesis imperfecta. Penyakit kelainan tulang rapuh dan mudah patah ini pun telah membuat dia tersiksa. Seperti apa kondisinya?

RAGIL LISIYO, Sukoharjo

DI usianya beranjak 5 tahun, Abrizam tidak bisa bermain seperti anak kebanyakan. Kesehariannya dihabiskan dengan tiduran dan duduk di kursi roda. Ya, sejak divonis menderita penyakit langka osteogenesis imperfecta, bocah kelahiran 8 November 2014 ini memang harus membatasi gerak.  

Anita Agustina, 35, ibu Abrizam mengatakan, penyakit kelainan tulang ini telah diderita anaknya sejak lahir. Sejak dites USG kehamilan, kaki Abraham sudah terlihat bengkok. Dua minggu setelah lahir, dokter meminta untuk dilakukan rontgen.

“Dari lahir kaki anak sudah kelihatan bengkoknya. Lalu kami konsultasi pada dokter ketika usianya tiga minggu. Ketika diperiksa itu Abrizam menangis terus. Akhirnya dokter minta agar di-rontgen. Setelah itu baru tahu kalau dia sakit kelainan tulang,” terang Anita.

Abrizam sendiri terlihat terus memegangi kaki kirinya. Bahkan ketika kakinya dipegang Abrizam akan berteriak dan tidak mengizinkan siapapun menyentuh kakinya. Anaknya takut karena kalau disentuh merasakan sakit luar biasa.

Ditemani suaminya Maryono, 46, Anita yang saat itu tengah menggendong Abrizam di depan rumahnya mengatakan sejak kelahiran hingga usianya menginjak dua tahun, Abrizam terus mengalami patah tulang di kedua kakinya.

Namun, dokter tidak berani untuk melakukan operasi. Sebab, usia Abrizam masih kecil dan kondisi tulangnya sangat rapuh. Kondisi ini merimbas pada pertumbuhan dia menjadi lambat, badan kecil dan kurang gerak.

“Sekarang sudah tidak pernah patah tulang. Hanya saja setiap tiga bulan pasti Abrizam kesakitan karena nyeri tulang. Dan tulang yang paling rapuh bagian paha ke bawah,” terangnya.

Abrizam kini harus rutin meminum vitamin penguat tulang setiap hari. Satu vitamin bentuk sirup tersebut dihargai Rp 70 ribu untuk seminggu. Dan ketika nyeri tulang Abrizam kambuh, dia harus meminum obat nyeri.

“Ketika nyeri kakinya terasa, Abrizam akan menangis terus. Penyembuhannya bisa sampai satu bulan lebih. Dan biaya berobatnya bisa habis Rp 1 juta sekali berobat,” terangnya. 

Abraham merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Di tengah pendapatan suami yang pas-pasan sebagai tukang bangunan, Anita dan suami terpaksa utang ke tetangga demi membeli obat anaknya.

“Selama ini kami menggunakan BPJS Kesehatan. Namun itu hanya bisa digunakan ketika kontrol saja. Sedangkan ketika merujuk Abrizam karena tulang-tulang patah atau nyeri kami harus biaya sendiri. Padahal penghasilan kami juga pas-pasan,” terang Anita.

Kondisi Abrizam ini akhirnya sampai ke Wakil Bupati Sukoharjo Purwadi. Orang nomor dua di Kota Makmur ini kemarin mengunjungi Abrizam di rumahnya. Purwadi mengatakan, pemkab akan mengupayakan pengalihan BPJS Kesehatan menjadi Kartu Indonesia Sehat (KIS).

“Kami akan membantu meringankan beban mereka dengan mengalihkan BPJS menjadi KIS. Agar keluarga tidak keluar biaya berobat lagi. Karena biaya hidup saja sudah berat,” katanya.

Purwadi juga menyemangati orang tua Abrizam agar tidak berkecil hati meski anaknya terlahir dalam kondisi tidak normal. “Abrizam adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa. Dijalankan apa adanya. Mudah-mudahan nanti dengan ini bisa mendapatkan rezeki yang lebih,” katanya kepada orang tua Abrizam. (*/bun)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia