Senin, 16 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Cinta Terhalang Restu, Sepasang Kekasih Nekat Aborsi Kandungan 7 Bulan

23 Agustus 2019, 18: 09: 08 WIB | editor : Perdana

Pelaku yang membantu kekasihnya aborsi diamankan jajaran Polres Sukoharjo

Pelaku yang membantu kekasihnya aborsi diamankan jajaran Polres Sukoharjo (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO - Sepasang kekasih DP, 22, dan SH, 22, nekat melakukan aborsi. Itu setelah SH kadung hamil, namun hubungan mereka tak direstui. 

Aborsi dilakukan di rumah SH di Ngemplak RT 1 RW 3, Desa Daleman, Nguter, Sukoharjo pada Senin (5/8) lalu. Akibatnya, bayi laki-laki dalam kandungan yang sudah berusia sekitar tujuh bulan lahir dalam keadaan meninggal.

Kapolres Sukoharjo AKPB Iwan Saktiadi mengatakan, pihaknya menerima laporan dari masyarakat yang menduga sepasang kekasih tersebut melakukan aborsi.

”DP dan SH merupakan sepasang kekasih yang nekat melakukan aborsi. Kini keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka dan sudah diamankan. SH belum bisa ditahan karena kondisi belum pulih pasca-aborsi dan masih rawat jalan,” terang Iwan Jumat (23/8).

Dari tangan pelaku, polisi mengamankan tiga keping obat jenis cytotex, 14 butir EM Kapsul, 14 kapsul obat warna cokelat, satu bungkus bekas EM Kapsul, satu buah amplop bekas pengiriman online, satu botol Sprite ukuran 390 mililiter, dan sembilan lembar tisu basah.

”DP yang berinisiatif mencari info penjualan obat online. Keduanya bersepakat melakukan aborsi. SH meminum obat aborsi bersama minuman soda,” papar Iwan.

Selama keduanya melakukan proses aborsi, kondisi SH terus lemas dan kesakitan. Sehingga DP memanggil tetangga untuk meminta bantuan. Saat itu, DP beralasan jika pacarnya masuk angin.

”Namun, ternyata sudah lahir seorang bayi berjenis kelamin laki-laki dalam keadaan meninggal. Saat ditemukan, bayi tersebut dibungkus kain jarik. Sedangkan SH langsung dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Wonogiri,” terang Iwan.

Dari hasil penyidikan polisi, diketahui bahwa DP berinisitif dan bersepakat dengan SH untuk menggugurkan kandungan itu. Mereka nekat melakukan perbuatan terlarang itu dengan alasan hubungan keduanya tidak direstui orangtua. Padahal SH dalam kondisi hamil.

”Aborsi kami lakukan karena hubungan kami tidak disetujui. Saya membeli obat aborsi secara online. Saya meminta SH untuk melakukan aborsi dan dia mau,” kata DP. (rgl/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia