Selasa, 17 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Kasus Kekerasan Anak Turun, Kejahatan Seksual Dominan

24 Agustus 2019, 10: 51: 07 WIB | editor : Perdana

Kasus Kekerasan Anak Turun, Kejahatan Seksual Dominan

BOYOLALI – Kajahatan terhadap anak masih terjadi di Kabupaten Boyolali. Catatan Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Anak (DPPKAB) Boyolali, masih terdapat 14 kasus kekerasan terhadap anak. Ironis karena Kota Susu sudah menyandang predikat Kabupaten Layak Anak (KLA).

Kepala PPA DPPKAB Boyolali Dinuk Prabandini menjelaskan, angka kekerasan terhadap anak mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Sebagai catatan, tahun lalu terdapat 31 kasus kekerasan terhadap anak. Sedangkan tahun ini, kekerasan seksual mendominasi. Dari 14 kasus, 13 di antaranya kekerasan seksual.

“Seluruh kasus tersebut sudah ditangani Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Boyolali. Angka kekerasan terhadap anak dapat diminimalkan. Terbukti tahun ini jumlah kasusnya turun. Kami terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan menggandeng seluruh pihak untuk berperan aktif,” ucap Dinuk, kemarin (23/8).

Menekan kasus kekerasan terhadap anak, sejumlah upaya telah dilakukan PPA PPKAB. Berupa sosialisasi bahaya dampak kekerasan terhadap anak dan perempuan. Serta penguatan mental remaja, pembentukan organisasi konseling remaja di sekolah, hingga penegakan hukum.

“Masih ada bentuk kekerasan anak dan perempuan lainnya. “Mungkin juga karena masih ada sebagian masyarakat yang pola pendidikannya masih rendah,” paparnya.

Menurut Dinuk, peran keluarga dan lingkungan masyarakat sangat penting. Keluarga tangguh dapat membentengi dari kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Terutama ibu. Dinuk berharap upaya masif yang selama ini dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali benar-benar dipahami masyarakat. 

Nah, selain 13 kasus kekerasan seksual terhadap anak, satu kasus lainnya yakni kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Jumlahnya turun dibandingkan tahun lalu yang mencapai sembilan kasus. Kasus tersebut yakni tewasnya bocah F, 6, akibat dianiaya ibu kandungnya Siti Wakidah, 30, di Desa Tanduk, Kecamatan Ampel.

Diakui Dinuk, kasus KDRT cukup sulit diungkap. Masyarakat yang mengetahui justru enggan melaporkan ke pihak berwajib. Berdalih KDRT masuk ranah privasi.

”Takut dibilang ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Padahal ini pemahaman yang keliru. Seharusnya, masyarakat berani melaporkan jika ada sesuatu yang tidak beres dengan tetangga mereka,” papar Dinuk. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia