Minggu, 26 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Upacara King Ho Ping, Bakar Replika Kapal, Doakan Arwah Leluhur

26 Agustus 2019, 11: 31: 15 WIB | editor : Perdana

KHIDMAT: Umat Konghucu Solo membakar replika kapal di halaman litang kemarin (25/8).

KHIDMAT: Umat Konghucu Solo membakar replika kapal di halaman litang kemarin (25/8). (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Umat Konghucu Solo menggelar upacara King Ho Ping di Litang Gerbang Kebajikan Jebres, kemarin. Upacara sembahyang disertai dengan prosesi bakar replika kapal dan replika uang kertas sebagai persembahan kepada leluhur mereka. 

Sejak pagi, ratusan umat Konghucu sudah memadati halaman rumah ibadah tersebut. Tiga altar penuh sesajian turut menarik perhatian masyarakat sekitar. Pertama adalah Altar Thi Kong (Tuhan Yang Maha Esa), kedua altar vegetarian, sementara yang ketiga adalah altar umum. 

“Sesajian tersebut terdiri dari bermacam hidangan yang mengandung makna filosofi positif, seperti nasi, air teh, lauk pauk, kue, daging ayam, ikan bandeng dan babi. Selain itu juga ada pisang, jeruk, kue mangkok dan kue moho,” jelas Rohaniwan Makin Solo, Ws Adjie Chandra sebelum upacara berlangsung.

Sebelum merapal doa, umat mengawali upacara dengan sembahyang bersama di depan altar sesajian sebelum akhirnya maju satu persatu untuk membacakan doa pribadi masing-masing. “Sembahyang arwah King Ho Ping ini dilakukan tanggal 15 bulan 7 Imlek. Pada waktu seperti ini diyakini pintu akhirat terbuka sehingga para arwah bisa turun ke dunia untuk menengok manusia. Di saat seperti itu orang Tionghoa diwajibkan sembahyang mengenang dan menghormati pada leluhur,” terang Adjie. 

Usai sembahyang, upacara dilanjutkan dengan prosesi penyempurnaan. Upacara ini dilakukan dengan mengumpulkan sejumlah uang keras dan bendera bertuluskan nama leluhur yang dibawa oleh umat. Uang dan bendera itu selanjutnya dibakar beserta sebuah replika kapal yang berukuran satu meteran. 

“Arwah kembali ke alamnya, maka digelar King Ho Ping untuk mengantar mereka kembali ke alamnya.  Replika kapal itu menjadi simbol untuk mengantarkan para leluhur kembali ke alamnya,” beber dia.  (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia