Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Lika-liku Kurir Narkoba Pelajar Keluar dari Jaringan Gelap

Terbujuk Upah Tinggi, Tobat setelah Ibu Koma

26 Agustus 2019, 11: 38: 00 WIB | editor : Perdana

Lika-liku Kurir Narkoba Pelajar Keluar dari Jaringan Gelap

Iming-iming upah besar membuat banyak mantan kurir narkoba kembali terjerumus ke jaringan bisnis barang haram ini. Bukan hal mudah lepas dari belenggu ini. Harus ada motivasi kuat guna memutus hubungan mereka dengan jaringan di atasnya. Berikut kisah mereka yang akhirnya berhasil ke luar dari jerat narkoba.

AL, pemuda berumur 21 tahun ini sempat belasan tahun berkecimpung di lembah hitam narkoba. Mulai dari kelas ekstasi, putau, hingga sabu pernah dijualnya. Bahkan di usia muda, dia sudah empat kali keluar masuk jeruji besi atas kasus yang sama.

AL mengaku mengenal sabu saat usianya masih menginjak remaja. Kala itu dia masih duduk di kelas VII salah satu SMP di Kota Bengawan. Jenis narkoba yang pertama dikenalnya adalah inex atau sering disebut pil koplo. “Awalnya konsumsi itu (inex) di rumah teman saya,” ujarnya.

Pemuda asal Banjarsari, Solo ini mengaku nekat mengonsumsi narkoba karena salah pergaulan. Pasca orang tuanya bercerai, dia jarang diperhatikan keduanya. “Bapak nikah lagi, punya anak sendiri. Ibu juga seperti itu. Punya suami baru. Jadi saya jarang diperhatikan, malah ibu sering marah-marah sama saya,” katanya.

Suasana rumah tidak nyaman membuat dia lebih senang nongkrong di luar rumah. Bahkan sering tidur di rumah teman. Hingga akhirnya dia mulai kenal pil koplo. “Kata teman saya bisa bikin pusing hilang. Benar, saat konsumsi itu kepala saya langsung enteng. Sejenak masalah rumah tidak lagi terpikirkan,” kenang AL.

Guna mendapat asupan narkoba kala itu, dia menggunakan uang jajan pemberian orang tua. Namun, ketika sudah pada tahap ketagihan, dia bingung bagaimana cara untuk memenuhi hasratnya membeli narkoba. Kemudian oleh seorang teman dia dikenalkan dengan pengedarnya.

“Jadi saya disuruh jadi kurir. Setiap berhasil menjual lima paket nanti saya dapat satu paket sama uang Rp 500 ribu. Waktu itu satu paket kalau tidak salah harganya Rp 300 ribu. Untuk awalan saya disuruh mengantar ke pembeli langsung. Arahan dari orang di atas saya. Ada yang langsung, ada yang saya taruh di lokasi tertentu,” tuturnya.

Setelah meletakkan narkotika di suatu tempat, dia akan mengawasi dari kejauhan untuk memastikan sabu sampai ke tangan pemesan. Setelah sabu diambil pemesan baru dia mengabari bandarnya. “Setelah itu baru dapat bayaran sama dia. Karena dulu masih belum punya rekening dikasih uangnya kontan sambil mengambil paket lagi kalau habis,” katanya.

Tidak hanya kepada orang yang memesan kepada sang bos, AL juga mencari pelanggan sendiri. Sasarannya adalah teman-teman satu sekolahnya. Saat mencoba mengedarkan narkotika di sekolah, dia bekerja sangat hati-hati agar tidak ketahuan pihak sekolah.

“Jadi biar tidak ketahuan sol sepatu saya bolongi di bagian atasnya. Kemudian saya selipkan di situ. Ketika ada razia sekolah pasti aman. Kalau sama teman-teman biasnya tidak jual paketan tapi per biji. Selain harganya terjangkau, biar bisa dapat untung,” katanya.

Namun sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh jua. Modus tersebut berhasil ketahuan pihak berwajib. Dia tertangkap usai mengantar paket ke salah seorang pelanggan. Dia dipenjara di Lapas Anak Lembaga Permasyarkatan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo.

Karena tersangkut kasus narkotika membuat dia harus putus sekolah. Bukannya memperbaiki nasib, ulah AL semakin menjadi-jadi. Setelah bebas dari penjara, bukan hanya pil koplo yang diedarkan, namun juga sabu-sabu. “Kalau sabu kenalan saya baru. Kenalnya ya dari bos pil koplo itu,” katanya.

Alasannya menjadi pengedar sabu-sabu, karena putus sekolah dia tidak memiliki keahlian sama sekali untuk mendapat pekerjaan yang layak. Padahal, kebutuhan hidup semakin mendesak. Karena jadi pengedar sabu inilah dia sampai harus keluar masuk jeruji besi hingga tiga kali. Dua kali di wilayah hukum Solo, satu kali di Sragen.

Lalu apa yang membuatnya dia bertobat? AL menuturkan kalau itu dia bertemu dengan salah seorang sipir. Ketika mendekam di balik jeruji itu dia selalu dinasihati olehnya, bahkan menganggap AL seperti anaknya sendiri. 

“Setelah saya tanya, ternyata karena saya seumuran dengan anaknya. Setelah dia bebas, sipir itu masih sering berhubungan dengan saya. Bahkan saya diberi modal buka usaha wedangan sampai saat ini,” ujarnya.

Al mengakui keluar dari jaringan narkoba memang sulit. Butuh waktu tiga tahun hingga akhirnya dia bisa benar-benar lepas dari jaringan lamanya. “Dari diiming-imingi uang besar hingga diancam mau dibunuh. Semua itu saya curhatkan sama sipir kenalan saya. Sampai pernah saya diungsikan ke rumahnya agar aman. Sekarang sudah benar-benar tidak pernah dihubungi oleh mereka,” papar AL.

Ketagihan Narkoba, Mencuri Harta Tetangga

Mantan kurir lainnya, BL, 24, juga pernah memiliki pengalaman pahit. Dia mengaku mengenal nakoba saat usianya masih 16 tahun. Awalnya dia mengenal narkoba jenis pil koplo. “Saya beli dari teman sekelas saya. Awalnya konsumsi (pil koplo) sebulan  sekali. Karena lama-lama ketagihan jadi beli rutin untuk dikonsumsi. Kadang seminggu beli tiga kali, bahkan akhirnya setiap hari beli,” ujarnya.

Pria yang saat ini bekerja sebagai buruh bangunan ini mengatakan, dia mengonsumsi narkoba dicampur dengan miras. Menurutnya salah satu efeknya menimbulkan sensasi. “Rasanya fly gitu. Tidak ada beban sama sekali. Biasanya konsumsi di rumah. Pernah juga di toilet sekolah saat jam istirahat terakhir,” ungkapnya.

Dari mana dia mendapat uang lebih untuk membeli narkotika? BL mengaku dari uang jajan yang diberikan orang tuanya. Namun terkadang dia nekat mencuri barang berharga, baik dari rumahnya sendiri, bahkan di rumah tetangga. Bahkan dia mengaku pernah mencuri di rumah teman-temannya. 

 “Pernah dulu, saya mencuri emas dari rumah teman saya. Waktu saya main, orang tuanya tidak ada di rumah. Kemudian teman saya pergi ke minimarket beli minuman sama cemilan. Setelah aman saya masuk ke kamar orang tuanya. Ambil kalung emas ibunya,” tutur BL.

Karena sudah menjadi pencadu berat, akhirnya BL ditawari untuk menjadi kurir. Sasarannya adalah anak-anak sepantarannya saat itu. “Karena di sekolah saya sudah ada yang jual (pil koplo) saya jualnya ke sekolah lain. Link ya dari teman saya itu tadi. Pertama saya dekatin dulu pentolan sekolahnya,” kenang BL.

Setelah kenal dengan pentolan sekolah tersebut, lanjut BL, barulah dia menjual narkotika tersebut. Alhasil hampir 70 persen pelajar di sekolah tersebut menjadi pelanggan BL. Tidak hanya siswa, namun para siswi diakui BL pernah membeli pil koplo dari dirinya. Kegiatan ini terus dilakukan sampai dia lulus bangku SMA.

Setelah menjadi kurir pil koplo, BL lantas menjadi kurir sabu. Namun baru menjadi kurir selama empat bulan, dia dicekut aparat kepolisian saat hendak meletakkan sabu di suatu tempat dari arahan jaringan di atasnya. “Setelah tertangkap itu saya kapok berurusan dengan narkoba.” Ucapnya.

Lalu apa yang membuatnya kapok? Ketika ditangkap itu penyakit jantung sang ayah kambuh dan akhirnya meninggal dunia. “Saya ingat betul. Sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi meninggalnya beberapa minggu kemudian, pas saya sidang perdana. Saya tahu setelah tujuh hari meninggalnya bapak dari pakde saya waktu menjenguk ke rutan,” ujar BL

Beda lagi yang dialami oleh TRS, 35, warga Serengan ini juga pernah menjadi kurir narkotika. Namun, pria yang baru bebas akhir tahun lalu ini mengaku menjadi kurir baru dalam hitungan bulan. TRS sendiri nekat menjadi kurir karena kepepet, dia ingin mendapat tambahan modal untuk pernikahannya.

“Jadi kenal bandarnya dari teman saya. Awalnya kenalan lewat SMS, kemudian saya datang ke rumahnya. Waktu itu setiap berhasil mengantar sabu saya dapat upah Rp 500 ribu,” tuturnya.

Dalam waktu sekitar empat bulan, dia berhasil mengantar sabu 20 kali. Dia sendiri bertobat setelah mendapat pengalaman pahit. Yaitu diciduk aparat kepolisian di depan mata sang ibu. “Waktu ditangkap ibu saya histeris, pasti kaget bercampur malu anaknya ditangkap polisi,” ujar TRS.

“Ternyata saya dapat kabar dari kerabat, waktu saya diamankan ibu sempat koma karena terserang stroke sampai sekarangi. Itulah yang membuat saya bertobat dan tidak mau lagi menjadi pelaku sabu,” katanya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia