Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Gandeng Pegiat Lingkungan, BBWSBS Sisir Sungai Selamatkan Air

26 Agustus 2019, 16: 43: 52 WIB | editor : Perdana

PEDULI: Pegiat lingkungan memungut sampah di sepanjang bibir Sungai Bengawan Solo.

PEDULI: Pegiat lingkungan memungut sampah di sepanjang bibir Sungai Bengawan Solo.

Share this      

SUKOHARJO – Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) bersama pegiat lingkungan menggelar sosialisasi penyehatan pemukiman, penyelamatan air dan lingkungan melalui sejarah Sungai Bengawan Solo dan Pesanggrahan Pakubuwono IX Langenharjo, Grogol, Sukoharjo kemarin (25/8).

Sekitar 300 peserta melakukan jalan sehat dan sisir sungai. Berbekal kantong plastik hitam, peserta mengambili sampah sepanjang bantaran sungai.

”Kami mempunyai satu konsep yakni pola dan rencana pengolahan sumber daya air (SDA). Pola tersebut diharapkan bisa mengurai tingkat pencemaran dan mampu memperbaiki kuakitas air,” jelas Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) Charisal A. Manu kemarin (25/8).

Pengolahan SDA itu terbagi dalam lima aspek. Yakni konservasi yang didalamnya ada pelestarian dan pengendalian pencemaran serta kualitas air. Aspek kedua yakni pendayagunaan SDA. Ketiga adalah pengendalian daya rusak air tinggi dengan segala problemik.

”Kemudian aspek selanjutnya yakni peran serta dunia usaha dan masyarakat. Ini potensi besar yang luar biasa dengan 230 juta penduduk. Jika satu daerah bisa ada satu juta penduduk yang peduli sungai, dampaknya akan luarbiasa," katanya.

Selain itu perlu adanya satu sistim informasi sebagai bentuk publikasi apa yang telah dan akan dilakukan. Dengan melibatkan masyarakat serta peran serta pemerinta dan dunia usaha pencemaran air bisa dikendalikan.

"Saat ini ada delapan Kementerian yang terlibat. Mestinya minimal ada 16 kementerian yang terlibat juga peran serta masyarakat," terangnya.

Selain itu Charisal menambahkan jika penyumbang limbah terbesar Sungai Bengawan Solo adalah limbah tekstil dan rumah tangga.

"Di musim kering seperti ini perlu biaya yang mahal untuk menjernihkan air. Selain mencemarkan sungai, sumur- sumur dangkal warga pun ikut tercenar karena airnya meresap ya. Karenanya perlu peran serta masyarakat, pemerintah dan dunia usaha," pungkasnya.

Direktur Direktorat Pangembangan Penyehatab Lingkungan Permukiman dari Cipta Karya Kementerian DPUPR Dodi Krispratmadi mengatakan jika DPUPR turut andil dalam pemeliharaan sungai. Pihaknya berperan dalam membangun infrastruktur untuk tanggul dan sebagainya.

"Sungai itu kadang-kadang tercemar. Dan sejauh ini pencemaran sungai Bengawan Solo masih tinggi terutama dari limbah batik dan tekstil. Seharusnya masyarakat bisa berkelakuan semestinya dengan tidak membuang sampah semabarangan dan pada tempatnya. Dengan begitu sampah bisa diangkut dan dipilah. Mana yang bisa digunakan ulang, dikurangi dan yang dibuang ke TPA. Sehingga TPA nanti juga awet," katanya. (rgl/adi)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia