Selasa, 17 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Mbah Harso, Nenek Berusia Seabad Pelopor Kuliner Kepelan Khas Klaten

30 Agustus 2019, 13: 14: 40 WIB | editor : Perdana

BEDA GENERASI: Painah atau Mbah Harso, orang pertama yang memopulerkan camilan kepelan bersama sang menantu Sumiyem.

BEDA GENERASI: Painah atau Mbah Harso, orang pertama yang memopulerkan camilan kepelan bersama sang menantu Sumiyem. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Kuliner kepelan khas Desa Keden, Kecamatan Pedan ini sudah tidak asing lagi warga Klaten. Cemilan ini bisa ditemui di setiap sudut Kota Klaten. Painah atau yang akrab dipanggil Mbah Harso inilah orang yang kali pertama memopulerkannya. 

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

MENELUSURI jalanan di Desa Keden bakal mudah menemukan beberapa penjual kepelan di depan rumah. Memang kuliner dengan bahan utama tepung terigu itu sudah berkembang sejak 1970-an. Mengingat kepelan menjadi camilan wajib yang harus ada pada saat kumpulan bersama oleh warga setempat. 

Kepopuleran kepelan memang tidak bisa dilepaskan dari peran Mbah Harso. Orang pertama yang membuat dan menjual jajanan tersebut. Saat ditemui di kediamannya tampak nenek berusia hampir 100 tahun itu masih tampak segar. Dia ditemani oleh seorang cucu dan menantunya yang meneruskan usaha kepelan secara turun temurun.

Meski pendengarannya semakin berkurang karena usianya sudah lanjut, tetapi dia masih bisa diajak berkomunikasi. Termasuk menceritakan awal mulanya membuat kepelan yang kini gemari banyak konsumen dari berbagai daerah. Diakui, kali pertama mendapatkan resep membuat kepelan itu dari bibinya.

“Saat itu bibi membuat kepelan tetapi jumlahnya tidak banyak. Saya pun sering membantu mengadukan adonan dari kepelan itu. Dari situ saya mulai membuat sendiri dengan resep yang diberikan bibi,” jelas Mbah Harso yang mengawali usahanya sebagai penjual gorengan dan sayuran di depan rumahnya itu, Kamis (29/8).

Mbah Harso mengungkapkan, bahan yang digunakan untuk membuat kuliner kepelan cukup sederhana. Yakni tepung terigu, bawang putih, garam dan penyedap rasa yang dicampur dengan air sehingga menjadi adonan cair. Lantas dengan mengambil irisan babat kambing kemudian dicelupkan ke adonan sebelumnya akhirnya dimasukkan dalam penggorengan.

Pada awal perkembangan isi kepelan berupa potongan babat kambing. Terlebih lagi jika dimakan usai ditiriskan dari penggorengan. Hal ini yang menjadikan kepelan populer di Pedan dan sekitarnya.

“Saat itu setiap hari bisa menghabiskan satu setengah sak tepung terigu yang harganya Rp 40 per sak (25 kg). Produksinya mulai pukul 23.00-09.00 setiap harinya. Selalu saja ada yang menanti dan membeli kepelan buatan saya,” ucapnya.

Saat proses produksi tersebut dia hanya dibantu empat tenaga saja, yakni suami dan kerabat lainnya. Kepopuleran kepelan membuat banyak orang kulakan kepadanya lalu dijual kembali ke berbagai daerah. Hal itu yang membuat dirinya sempat kewalahan untuk melayani pemesanan kepadanya.

Mbah Harso pun tak pelit berbagi resep kepada orang yang selama ini kulakan kepadanya. Dia membagikan ilmunya secara cuma-cuma dengan harapan pedagang lain bisa membuat kepelan sendiri. Dari sinilah kepelan berkembang hingga bermunculan para penjual camilan di Klaten. Tetapi saat itu sudah tidak menggunakan lagi irisan babat kambing lagi.

“Saat itu harga babat kambing semakin mahal. Makanya sudah tidak menggunakan lagi. Tetapi kunci utama cita rasa kepelan itu dari penggunaan bawang putih, garam dan penyedap rasanya. Kalau berani dalam memberikan di adonan pasti banyak yang suka,” ucap Mbah Harso yang memiliki tiga anak, lima cucu dan empat cicit ini.

Tetapi Mbah Harso sempat berhenti berjualan cukup lama setelah meninggalnya sang suami dan tenaganya yang sudah tidak kuat lagi. Namun oleh sang menantu, Sumiyem, 50, usaha ini diteruskan kembali dengan menggunakan resep darinya. Hasil produksi kepelan tersebut lantas dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional.

Salah satu yang mendapatkan berkah dari kepopuleran kepelan adalah Suwarni, 60, warga Dusun Ciro, Desa Keden, Kecamatan Pedan. Dia sempat kulakan kepelan kepada Mbah Harso sejak 1990-an sebelum akhirnya membuat secara mandiri dengan tambahan penyedap rasa lainnya.

“Memang banyak anak muda yang menggemari kepelan saat mereka lagi ada kumpulan. Apalagi kini yang beli tidak hanya dari Pedan saja tetapi daerah lainnya juga,” jelasnya. (*/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia