Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Awas 10 Titik Macet Overpass, Dishub Tunggu Skenario Pembangunan

01 September 2019, 10: 15: 59 WIB | editor : Perdana

LOKASI PADAT: Simpang sebidang Purwosari yang segera dibangun overpass. 

LOKASI PADAT: Simpang sebidang Purwosari yang segera dibangun overpass.  (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Sembari menunggu petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis proyek Overpass Purwosari, Dinas Perhubungan (Dishub) Surakarta mencari solusi potensi kepadatan kendaraan angkutan berat dan umum. Sedikitnya terdapat sepuluh titik rawan macet.

Itu mengingat, Underpass Transito yang digadang-gadang dapat memecah kemacetan malah akan dibangun bersamaan dengan Overpass Purwosari.

"Dalam hal ini jelas kawasan perlintasan sebidang kereta api di Pasar Nongko akan mengalami peningkatan kepadatan. Yang perlu dilakukan adalah melihat dan memperhitungkan skenario pembangunannya (overpass). Apakah dibangun separo? Dibangun dengan bisa tetap dilintasi? Dibangun tanpa bisa dilewati? Dari timur atau barat dulu? Dan lain sebagainya," beber Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Surakarta Ari Wibowo kemarin (31/8). 

Tanpa mengetahui pola pembangunan itu, dishub tak bisa mencarikan solusi kepadatan dan pembuatan jalur alternatif. Dampak terbesar pembangunan overpass, lanjut Ari, adalah di sekitar lokasi proyek. Mulai dari bundaran Purwosari ke barat, ke timur, maupun ke selatan.

Potensi kemacetan di sisi timur lokasi pembangunan overpass bisa terlihat dari simpang Gendengan dan simpang Purwosari (Omah Lowo). Di bagian barat, dari simpang Faroka (Alila Hotel), simpang Kerten, dan simpang Jalan Sam Ratulangi.

Di bagian utara, dampak kemacetan bisa terjadi di Bundaran Tugu Wisnu hingga sekitar kawasan Manahan. Termasuk peningkatan aktivitas di overpass Manahan dan sekitar Pasar Nangka. 

Sedangkan di sisi selatan, kepadatan dapat terjadi di simpang Baron, simpang Jongke, Tugu Lilin (Pajang), hingga Underpass Makamhaji. "Yang perlu diperhatikan adalah jalur angkutan berat dan angkutan umum. Karena Jalan Radjiman (Bundaran Baron-Simpang Jongke), Jalan Agus Salim, hingga Kerten ini merupakan jalur angkutan berat dan bus AKDP. Kami juga perlu koordinasi dengan Dishub Sukoharjo karena pembangunan (overpasss) ini berdampak peningkatan arus lalu lintas di daerah lain," urainya.

Kepala Dishub Surakarta Hari Prihatno mendorong pihak terkait segera berkoordinasi dengan dishub guna menentukan manajemen rekayasa lalu lintas di sekitar proyek overpass. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia