Minggu, 26 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Tolak Intoleransi, Rasialisme, dan Radikalisme

01 September 2019, 12: 05: 59 WIB | editor : Perdana

KOMITMEN: Pembacaaan deklarasi Merajut Kebhinekaan, Memperkokoh NKRI, Jumat malam (30/8).

KOMITMEN: Pembacaaan deklarasi Merajut Kebhinekaan, Memperkokoh NKRI, Jumat malam (30/8). (A.CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Mewujudkan Solo kota kayak huni, sejumlah warga dari berbagai daerah di Nusantara yang tinggal di Kota Bengawan menyatakan siap menjaga kedamaian dengan segala keberagamannya. 

Itu dibuktikan dengan Deklarasi Merajut Kebhinekaan, Memperkokoh NKRI, Jumat malam (30/8). Isi deklarasi terdiri empat poin. Pertama, setia kepada NKRI yang berdasarkan ideologi Pancasila dan UUD 1945. 

Kedua, menghormati dan menghargai perbedaan suku, agama, ras dan golongan yang menjunjung tinggi nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika.  

Ketiga, menolak segala bentuk intoleransi, rasialisme, radikalisme, separatisme yang mengancam dan menimbulkan perpecahan di masyarakat. Terakhir, saling menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, bahu-membahu serta saling bekerja sama satu sama lain tanpa memandang suku, ras, agama dan golongan.

Usai pembacaan deklarasi, satu per satu perwakilan suku menandatangi komitmen bersama. Salah seorang perwakilan warga Papua Rycko Irianto mengaku senang bisa ikut deklarasi tersebut. Karena sejatinya sebagai warga Papua juga mencintai kedamaian.

"Kami semua cinta damai dan cinta Indonesia. Sehingga kami tidak ingin terpisah dari Indonesia," tegasnya.

Koordinator Aliansi Masyarakat Nusantara Listyanto mengatakan, deklarasi tersebut menunjukkan bahwa Solo damai dan tenang, serta tidak ada rasisme, meski masyarakatnya beragam.

"Selama tinggal dan bekerja di Solo, saya tidak hanya bergaul dengan orang Jawa saja. Namun juga dari daerah lain, dari Sabang sampai Merauke. Sya tidak pernah merasa dibedakan dan membedakan," tandasnya.

Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo mengapresiasi kegiatan tersebut. Rencananya kegiatan ramah tanah digelar secara rutin.

"Deklarasi ini untuk memperkuat bahwa kita satu bangsa, satu bahasa dan Indonesia itulah rumah besar Pancasila dan UU1945. Saudara kita dari Papua, Flores, Batak, dan lainnya itu sudah bukan suku lagi, tapi warga negara Indonesia. Agar kita tidak mudah terprovokasi, harus sering berkumpul biar paham dan punya semangat persatuan serta merawat kebhinekaan," jelas dia. (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia