Senin, 16 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Travelling

Menaklukkan Bukit Gamping Patrum di Bayat, Klaten

01 September 2019, 13: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Menaklukkan Bukit Gamping Patrum di Bayat, Klaten

Bukit Patrum sempat populer untuk pendakian pemula beberapa waktu lalu. Bukit bekas tambang gamping peninggalan kolonial Belanda ini menyajikan pemandangan menawan. Seperti apa?

PHOTORIUM Bukit Patrum terletak di Dusun Mojopereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat. Diresmikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemndesa) Eko Putro Sandjojo pada 2017 lalu.

Bukit yang terjal itu memang begitu eksotis. Uniknya, ada sebuah rumah tak berpenghuni berdiri kokoh tepat di atas puncak bukit. Dahulunya, rumah itu tempat penyimpanan bahan peledak dalam memudahkan aktivitas penambangan. Penambangan sudah ada sejak kolonial Belanda.

Jawa Pos Radar Solo pertama kali mendaki Bukit Patrum pada 2018 lalu di saat musim penghujan. Pemandangannya begitu memanjakan mata. Karena langsung disambut berbagai tanaman hijau yang tumbuh subur serta perbukitan gamping.

Pendakian kedua tepat saat puncak musim kemarau Agustus ini. Pemandangannya juga tak kalah menarik. Terlebih ada tantangan bebatuan gamping yang tidak beraturan sebagai pijakan saat pendakian. Namun pengelola telah memasang ratusan anak tangga serta pagar pengaman untuk bisa menuju puncak Bukit Patrum.

Selama perjalanan menuju lokasi, ada cerita yang tak kalah menarik. Dimulai dari Terminal Ir Soekarno Klaten. Lantas melanjutkan perjalanan melintasi Jalan Raya Jombor Indah, Buntalan, Klaten Tengah. Traveler akan melintasi Rowo Jombor yang terkenal dengan warung apungnya.

Memasuki Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes akan disambut jalan berkelok-kelok yang menyuguhkan pemandangan berupa lahan pertanian. Termasuk puncak Bukit Patrum dari kejauhan yang sudah begitu tampak. Sebelum mendaki ke atas bukit, lebih baik beristirahat sebentar sambil menyiapkan barang bawaan di gazebo pertama.

Disarankan tidak membawa tas dengan beban berat. Karena pendakian akan semakin berat. Juga disarankan membawa bekal sesuai kebutuhan. Terutama minuman air putih. Oh ya, tidak ada guide sama sekali lho. Tapi sudah ada anak tangga yang dilengkapi pagar pengaman besi.

Saat menapakkan kaki menuju tangga pertama langsung disambut tebing Bukit Patrum yang begitu menjulang. Traveler juga harus pintar memilih alas kaki yang tepat agar tidak tergelincir. Selama menelusuri ratusan anak tangga pun disediakan beberapa gazebo untuk beristirahat.

Saat pendakian perhatikan jalan yang menjadi pijakan karena ada beberapa bagian merupakan bebatuan gamping. Selama pendakian pula kita akan disajikan keindahan alam Klaten dari ketinggian.

Disarankan pula tidak bergantung pada pagar pengamanan anak tangga. Dikhawatirkan, jika tidak kuat menahan beban terlalu berat, bisa jadi jatuh. Bukit bekas tambang gamping ini tidak seluruhnya saling terhubung. Sehingga diperlukan anak tangga yang terbuat dari besi untuk menghubungkannya. Terutama pada anak tangga yang terakhir menuju puncak bukit harus ekstra hati-hati.

Perjuangan menuju ke puncak bukit bakal terbayar dengan pemandangan alam Klaten yang indah. Sejauh mata memandang, ada banyak pemandangan yang bisa ditemui. Mulai objek wisata Bukit Turis, Rowo Jombor hingga hamparan persawahan yang hijau.

Tapi sayang, kita tidak bisa menjangkau rumah gudang bahan peledak. Meskipun ada anak tangga, tetapi sulit bisa menggapainya. Medannya begitu terjal dengan kemiringan hampir 90 derajat, sehingga dibutuhkan kemampuan khusus. Bukit itu berada di ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut (MDPL). Hembusan angin pun langsung terasa. Ada baiknya traveler memakai jaket yang tebal. (ren/adi)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia