Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

Modus Penipuan Adopsi Anak di Dunia Maya

02 September 2019, 13: 02: 44 WIB | editor : Perdana

Modus Penipuan Adopsi Anak di Dunia Maya

Kehadiran buah hati tentu menjadi dambaan bagi keluarga. Namun, bagi sebagian keluarga masih harus bersabar menunggu kehadiran anak hingga bertahun-tahun. Jalan adopsi akhirnya menjadi salah satu jalan agar memiliki momongan. Ironisnya, peluang ini dimanfaatkan orang-orang jahat melakukan aksi penipuan lewat dunia maya. Berikut penelusuran Jawa Pos Radar Solo.

MODUS penipuan berkedok adopsi anak di dunia maya ini dilakukan dengan cara memosting foto bayi di media sosial. Pelaku mengatakan kalau foto bayi mungil tersebut merupakan anaknya. Dia rela anaknya diadopsi dengan imbalan sejumlah uang. Modus ini berhasil menipu para keluarga yang sudah mengidam-idamkan anak di tengah-tengah keluarga mereka.

Hal ini pernah dialami Eko Saptono, 45, warga Boyolali. Pria ini mengaku tertipu mentah-mentah dengan postingan tersebut. Eko mengaku sudah menikah sejak 2002. Namun, hingga saat ini pernikahannya bersama Daning Pratiwi, 43, sang istri belum dikaruniai anak.

“Semua cara sudah pernah saya coba, dari pengobatan medis sampai alternatif. Pernah juga mau adopsi, tapi selalu gugur ketika seleksi,” ungkapnya saat ditemui koran ini di salah satu rumah makan di Kota Bengawan.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga keamanan ini lantas menemukan postingan adobsi bayi di media sosial pada awal Agustus lalu. Singkat cerita dia lantas memperlihatkan postingan itu kepada sang istri. Gayung bersambut, sang istri pun tertarik dan menaruh harapan besar kalau benar anak yang ada dalam foto itu bisa diadopsi.

Eko dan Daning lantas mengirim pesan lewat aplikasi WhatsApp kepada akun yang memposting foto tersebut. Mereka mempertanyakan apakah benar bayi itu bisa diadopsi. Tak sampai 5 menit nomor tersebut langsung membalas pesan dari Eko yang membenarkan kalau dia rela anaknya diadopsi.

“Kemudian dia membalas lagi, kalau dia hanya mencari orang yang betul-betul mau menerima anaknya. Tentu saya langsung jawab iya. Kemudian dia langsung telepon saya, suaranya perempuan. Dia mau mendengarkan suara istri saya agar . Supaya dia yakin kalau saya tidak menipu dia. Ya sudah istri saya suruh bicara di telepon,” urai Eko.

Dalam percakapan tersebut, lanjut Eko, perempuan tersebut mengaku tinggal di Cianjur, Jawa Barat. Logatnya pun seperti orang Sunda. Tanpa banyak cakap, perempuan ini lantas meminta sejumlah uang. Awalnya dia meminta ongkos untuk perjalanan. “Jadi dia awalnya minta uang Rp 400 ribu. Dalihnya buat antar bayinya itu. Kami janjian di Terminal Solo (Terminal Tipe A Tirtonadi),” katanya.

Karena berharap banyak  dan tak menaruh curiga, Eko lantas  mengirimkan uang yang diminta. Tak berhenti sampai di situ. Setelah mengirim uang Rp 400 ribu, perempuan tersebut kembali meminta sejumlah uang secara bertahap. Di mana peruntukannya untuk membeli perlengkapan bayi, administrasi, dan keperluan lain. “Total transfer sekitar Rp 2,3 juta,” ujar Eko.

Setelah uang ditransfer, perempuan ini lantas berpura-pura menuju terminal untuk segera berangkat ke Solo. “Dia bilang pukul 08.00 sudah sampai Terminal Solo. Karena waktu itu hari kerja, saya dan istri sampai harus cuti. Setelah Subuh saya dan istri berangkat ke Solo, karena orangnya minta dijemput,” tuturnya.

Namun hingga pukul 08.00, perempuan itu tidak segera muncul. Eko lantas menghubungi lagi. Perempuan ini lantas menjawab kalau masih dalam perjalanan dan terjebak macet. Dua jam berselang, Eko kembali menghubungi nomor yang sama, namun tidak bisa. Dia juga mengirim pesan lewa WA, namun tidak terkirim. Dia masih berpikiran positif, menduga baterai HP perempuan itu habis. 

“Puncaknya saya tunggu sampai pukul 15.00. Baru saya dan istri curiga ini penipuan. Saya coba tanya sama petugas terminal bus dari Cianjur sudah datang sejak pukul 07.00. Kemudian saya ke P.O nya tidak ada nama perempuan itu,” katanya.

Pupus sudah harapan Eko dan Daning mendapatkan anak. Eko mengaku setelah kejadian ini sang istri semakin terpuruk. Sudah besar harapan Daning nenimang jabang bayi. Akibat kejadian ini Daning sampai tidak masuk kerja selama tiga hari. “Karena itu tadi, sudah pengin banget (memiliki anak), tapi malah kandas,” katanya.

Eko awalnya sangat yakin kalau penawaran adopsi itu benar karena perempuan itu beralasan kalau sudah tidak mampu membiayai hidup sang buah hati. Sebab, sang suami meninggal dalam kecelakaan. Kemudian dia juga menderita kanker otak stadium tiga. “Itu yang membuat saya kasihan. Anaknya mau dibuang kalau tidak ada yang mau adopsi. Dari situ saya kira dia jujur. Semoga kisah saya ini bisa menjadi pembelajaran,” urai Eko.

Jawa Pos Radar Solo juga sempat menghubungi nomor tersebut. Benar saja, dalam percakapan yang dikirim dalam bentuk voice chat, perempuan ini dengan terang-terangan menawarkan anaknya untuk diadopsi. “Saya tidak minta uang. Cuma minta ada orang yang ikhlas mau merawat anak saya,” ucapnya melalui voice chat.

Perempuan ini juga mengatakan tinggal di Jawa Barat. Namun dia mengaku asalnya dari Wonogiri. Dia mengaku rela anaknya diadopsi orang karena sang suami pergi begitu saja. Sedangkan dia akan bekerja keluar negeri sebagai tenaga kerja wanita (TKW). “Saya juga bingung, mau dikasih siapa, orang tua sudah tidak punya,” katanya dalam voice chat dengan koran ini.

Ketika diminta difotokan surat kelahiran, sang anak perempuan ini menolak dengan alasan nanti saja ketika sudah bertatap muka.  Dia malah mengirim foto dua bayi kembar yang diakuinya sebagai anak. Benar saja, ujung-ujungnya dia meminta uang Rp 300 ribu sebagai ongkos agar dia bisa mendatangi koran ini sembari mengirimkan nomor rekening atas nama M. Rustandi.

Koran ini lantas menawarkan, bagaimana kalau uangnya diberikan pada saat pertemuan. Namun dia menolak dengan alasan sudah tidak lagi memegang uang sepersen pun. Menyadari ini modus penipuan, koran ini tidak lagi melanjutkan percakapan dan mengirim uang kepada pelaku. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia