Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Gebyar Produk Susu Olahan PKM UNS

02 September 2019, 15: 15: 20 WIB | editor : Perdana

PEMBEKALAN: Warga mengolah sabun susu padat dibantu PKM UNS di Desa Mundu, Tulung, Klaten.

PEMBEKALAN: Warga mengolah sabun susu padat dibantu PKM UNS di Desa Mundu, Tulung, Klaten.

Share this      

KLATEN - Susu segar mengandung nutrisi penting bagi tubuh. Produksi susu yang melimpah dan sifatnya tang mudah basi serta rentan kontaminasi menyebabkan harga jual rendah sehingga diperlukan pendampingan kepada masyarakat mengenai produk susu olahan.

Berangkat dari persoalan tersebut, melalui kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai DRPM DIKTI, Dosen Teknik Kimia FT UNS Dr. Ari Diana Susanti, S.T.M.T, bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia FT UNS menggelar bakti sosial. Mengangkat tema “Gebyar Produk Olahan Susu”. Berlangsung di Dusun Dungus, Desa Mundu, Kecamatan Tulung, Klaten, 31 Agustus hingga 1 September.

Acara terdiri dari bakti sosial dan pengabdian kepada masyarakat tentang pendampingan optimasi produksi dan pascaproduksi sabun susu padat “MOO”. Menyasar Kelompok Wanita Ternak (KWT) Margo Mulyo.

Acara dibuka  sambutan Kepala Desa Mundu. Dilanjutkan sosialisasi xat pewarna alami yang diterapkan pada pembuatan es krim dan yoghurt. Sosialisasi diikuti 40 orang yang tergabung dalam KWT Margo Mulyo dan masyarakat sekitar.  Hari pertama ditutup kegiatan menonton bersama.

Memecah kesunyian Minggu pagi (1/9), digelar senam bersama warga sekitar. Dilanjutkan sosialisasi sabun susu padat oleh Dr. Ari Diana Susanti bersama tim. Membahas pengemasan sabun dan pewarna alami.

Kemasan sabun yang kurang tepat dapat mempengaruhi kualitas produk. Pewarna alami yang biasa digunakan berasal dari temulawak, kunit, dan pandan. Temulawan merupakan antioksidan bagi kulit. Kunyit dapat mengangkat sel kulit mati dan pandan memberikan warna menarik untuk sabun susu padat.

“Sabun susu lebih unggul dibandingkan sabun komersil. Karena sabun komersil mengandung zat pewarna dan pewangi sintetis. Dapat memicu alergi baghi kulit sensitif,” papar Ari Diana. (kmb/gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia