Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Kirab Gunungan, Masyarakat Mandi Peluh Rebutan 5.000 Legondo

02 September 2019, 18: 24: 06 WIB | editor : Perdana

PANAS TERIK: Masyarakat berebut ribuan legondo dan gunungan dalam kirab menyambut Tahun Baru Islam 1441 Hijriah di Dusun Sepi, Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Sabtu (31/8).

PANAS TERIK: Masyarakat berebut ribuan legondo dan gunungan dalam kirab menyambut Tahun Baru Islam 1441 Hijriah di Dusun Sepi, Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Sabtu (31/8). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Bupati Klaten mengkritik pelaksanaan Kirab Gunungan Legondo di Dusun Sepi, Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Sabtu siang (31/8). Sebab kirab menyambut Tahun Baru Islam 1441 Hijriah ini digelar siang hari. Kurang memberi kenyamanan kepada masyarakat yang hadir.

Puncak pelaksanaan kirab, peserta memanggul lima gunungan. Berisi 5.000 ikat legondo. Kue tradisional yang terbuat dari beras ketan putih dan santan. Peserta kirab wajib mengenakan busana adat Jawa, mengelilingi kampung setempat.

Tradisi turun-temurun itu digadang bupati sebagai ikon baru Klaten. Konsekuensinya, kualitas harus ditingkatkan.  “Misalnya pemilihan waktu. Ini kan siang, panas sekali. Kasihan yang berebut legondo. Harusnya dilakukan sore hari. Agar suasananya tidak terlalu panas. Bisa dimulai pukul 15.00 sampai selesai sebelum Maghrib,” saran Sri Mulyani.

Digesernya waktu pelaksanaan pada seore hari, bupati optimistis masyarakat yang menyaksikan dan berebut legondo kian banyak. Dia mencontohkan tradisi Yaqawiyyu atau sebar apem di Kecamatan Jatinom. Selalu dilaksanakan setelah salat Jumat. Berhasil menyedot perhatian ribuan warga berebut kue apem.

“Kalau mau menjadi ikon baru Klaten, perlu dipersiapkan sebaik-baiknya. Kami dari Pemkab Klaten akan terus mendukung terselenggarannya tradisi ini. Kalau anggarannya kurang, tahun depan bisa ditambah,” jelas Sri Mulyani.

Bupati berharap tradisi ini mampu menyedot wisatawan dari berbagai daerah, menyambut Tahun Baru Islam. Hadirnya wisatawan bakal berdampak pada perekonomian warga sekitarnya. Mulai dari pengelolaan parkir hingga penjualan legondo sebagai kuliner khas.

 “Kirab legondo ini nguri-uri kebudayaan peninggalan Sultan Agung III yang ingin memperluas ajaran Islam. Kenapa diperingati malam 1 Suro di Dusun Sepi? Menurut cerita pendahulu, terdapat petilasan Sunan Kalijaga yang dibanjiri peziarah,” jelas Kepala Desa (Kades) Barepan Irmawan Andriyanto.

Tiap malam 1 Suro memang banyak warga yang mengunjungi petilasan Sunan Kalijaga. Berupa batu yang diyakini jadi alas saat menuaikan salat Subuh di tengah sungai. Tradisi tersebut masih berjalan hingga sekarang. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia