Minggu, 22 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Kisah Anak-Anak Pekerja Migran asal Indonesia yang Hidup di Malaysia 

04 September 2019, 07: 15: 59 WIB | editor : Perdana

RELAWAN: Isna Nur Insani bersama anak-anak pekerja migran di Sarawak, Malaysia.

RELAWAN: Isna Nur Insani bersama anak-anak pekerja migran di Sarawak, Malaysia.

Share this      

Puluhan anak lahir di tengah kebun sawit di Malaysia. Tak pernah melihat Indonesia, saat ditanya dari mana asalnya? Dengan mantap mereka menjawab ‘Indonesia’. Itulah secuil pengalaman Isna Nur Insani ketika menjadi relawan mengajar Agustus lalu. Bagaimana kisahnya?

IRAWAN WIBISONO, Solo

BELUM genap sepekan Isna Nur Insani kembali ke Indonesia. Selama sebulan dia mengikuti program volunteering teaching Indonesian children (VTIC) yang digagas sebuah organisasi sosial yang fokus terhadap pendidikan. Mulai 7 hingga 25 Agustus, perempuan 21 tahun ini bertugas mengajar anak-anak di sebuah pemukiman pekerja migran di Serawak, Malaysia. 

Kondisi daerah yang jauh dari kota menjadi tantangan pertama. Pemukiman yang dihuni 39 anak usia SD dan sedikitnya 40 balita itu berada di tengah kebun sawit sangat luas. Orang tua mereka adalah pekerja migran asal Indonesia, didominasi warga Bima, Nusa Tenggara Barat, yang sudah puluhan tahun mengabdi untuk perusahaan sawit tersebut.

“Anak-anak mereka sebelumnya tidak tersentuh akses pendidikan sama sekali, baik dari Malaysia maupun pemerintah Indonesia. Baru enam tahun terakhir ada jalinan kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan perusahaan sawit setempat untuk menyediakan community learning center (CLC),” jelas Isna kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (2/9).

CLC, lanjutnya, memiliki dua tenaga pengajar tetap yang diambil dari buruh migrant. Sisanya secara bertahap anak-anak tersebut diberikan ilmu oleh relawan pendidikan seperti dirinya. Benar-benar relawan. 

Isna dan beberapa orang dari berbagai kampus di Indonesia secara swadaya berangkat ke Negeri Jiran untuk memberikan ilmu yang didapat. Bukan matematika, bahasa Indonesia, atau fisika, Isna mendapat permintaan khusus dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

“Oleh bapak-bapak di KBRI, kami diminta mengajar tentang nasionalisme, cinta tanah air dan segala macam keindahan Indonesia,” ucap mahasiswi akhir Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini.

Tanpa berpikir panjang mahasiswa berprestasi FISIP UNS 2018 ini pun mulai menjalankan misinya. Kelas dimulai pukul 07.00 atau 08.00 waktu setempat hingga siang hari saat orang tua mereka bekerja. Setelah itu, sore harinya mereka berkumpul di ruang terbuka untuk mengikuti lomba dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebagai informasi, lomba tujuhbelasan di sana tak hanya berlangsung sehari dua hari namun seminggu bahkan lebih. Puncaknya pada 17 Agustus lalu mereka juga menyelenggarakan upacara selayaknya di Indonesia. Isna bertugas menyiapkan petugas upacara. Tak ada yang sulit, hanya saja satu yang menjadi kendala baginya.

“Anak-anak tidak hafal lagu Indonesia Raya. Mereka hanya hafal reff. Itupun tidak utuh. Sudah saya tuliskan teksnya, tetapi juga belum sepenuhnya ingat,” ucapnya.

Pendiri sekaligus ketua komunitas mengajar Semarak Inspirasi Solo ini pun sedikit prihatin. Orang Indonesia tapi tak hafal lagu kebangsaan. Tapi keprihatinanya hanya sesaat. Dia sedikit merenung soal kondisi anak-anak tersebut. Lahir di negeri orang dengan akses informasi terbatas, akses pendidikan nihil, kondisi ekonomi kurang beruntung. Kini dia mengerti mengapa KBRI memberi tugas menanamkan jiwa nasionalisme, bukan matematika.

“Meski tak hafal lagu Indonesia Raya, kalau ditanya dari mana kalian? Jawabnya lantang, Indonesia!!!,” tegasnya.

Bahkan mereka bisa menyebut lengkap asal mereka dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Sikap lantang saat menyebut kata Indonesia dirasa lebih keras dibandingkan orang-orang yang lahir dan besar di bumi pertiwi. Ayah ibu anak-anak buruh migrant dalam keseharian berkomunikasi menggunakan bahasa Bima, mengajarkan anak-anak mereka dengan bahasa Malaysia, namun menanamkan dalam jiwa mereka Indonesia.

“Mereka mencintai negara ini dalam gelap. Mereka hanya membayangkan Indonesia dari cerita-cerita orang tuanya. Belum pernah menginjakkan kaki di Indonesia, tetapi cinta dan nasionalismenya sangat tinggi,” ujarnya.

Isna berharap pemerintah Indonesia lebih memberikan akses pendidikan kepada buruh migrant tersebut. Selain itu dia juga mendorong masyarakat Indonesia untuk bergerak, membantu memberikan akses pendidikan kepada anak-anaknya. Dalam waktu dekat dia akan mengirimkan buku-buku bacaan yang bermanfaat. Dia pun membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi. (*/bun)    

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia