Minggu, 22 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Refleksi Setahun Pemerintahan Ganjar-Yasin

05 September 2019, 13: 14: 50 WIB | editor : Perdana

Refleksi Setahun Pemerintahan Ganjar-Yasin

SEMARANG – Hari ini (5/9), tepat setahun, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Wakil Gubernur Taj Yasin memimpin Jawa Tengah. Dalam kurun waktu itu, duet ini berhasil meraih 40 penghargaan skala nasional. Tapi semuanya ternyata tidak berarti di mata gubernur, bila masyarakat masih mengeluh.

Berbagai penghargaan tersebut di antaranya juara umum Top 99 Pelayanan Publik 2019, pelapor LHKPN terbaik dari KPK, opini WTP delapan kali berturut-turut dari BPK, dan pengendali inflasi terbaik nasional se Jawa-Bali. Kemudian  provinsi terbanyak hasilkan inovasi, perencana pembangunan daerah terbaik, Government Award 2019 sebagai Indonesian Innovative Leader, dan satu-satunya provinsi berpredikat sangat baik pada evaluasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) 2018.

Atas semua capaian itu belum membuat Ganjar puas. Baginya, penghargaan tidak berarti apa-apa jika rakyat masih mengeluh. Jika harus menyebut pencapaian, Ganjar lebih suka menyebutkan program-program yang langsung menyasar rakyat. Misalnya insentif untuk 171.131 guru ngaji se Jateng. Kemudian, zakat ASN Rp 4,7 miliar per bulan. Di mana angka ini merupakan yang tertinggi se-Indonesia. Hasilnya dimanfaatkan untuk pembangunan rumah ibadah, rumah tidak layak huni, santunan anak yatim piatu dan sebagainya.

“Dengan zakat ini, kita bisa membantu lebih cepat tanpa APBD, tanpa birokrasi yang njelimet. Langsung bisa dirasakan besok, bukan tahun depan,” jelasnya.

Pencapaian kedua yang disebutkan adalah realisasi janji kampanye. Ada banyak sekali janji kala itu, yang terangkum dalam sembilan program unggulan. Dari sekolah gratis, bantuan guru ngaji, reformasi birokrasi terintegrasi kabupaten kota, satgas kemiskinan, bantuan desa, kawasan industri baru, transportasi massal, rumah sakit tanpa dinding, sekolah khusus siswa miskin, festival seni, dan infrastruktur olahraga. 

“Jujur saya katakan, belum banyak yang sudah tercapai. Ada yang sudah, ada yang belum. Karena memang perwujudan itu tidak bisa satu tahun. Ini untuk lima tahun yang diwujudkan dalam RPJMD,” paparnya pada pelantikan anggota DPRD Jateng 2019-2024 di Gedung Berlian DPRD Jateng, Selasa, (3/9).

Beberapa yang sudah terealisasi tahun ini salah satunya insentif guru ngaji. Kemudian pembentukan satgas kemiskinan yang dipimpin langsung Taj Yasin. Salah satu programnya adalah satu OPD satu desa miskin. Program ini mendorong sebuah dinas untuk mendampingi sebuah desa membangun badan usaha milik desa (BUMDes) hingga mampu menghasilkan kesejahteraan bagi warganya. 

”Sudah dimulai, bahkan karena ada OPD yang sangat berhasil mau kita tantang tidak hanya satu desa tapi tiga desa,” kata Ganjar.

Untuk reformasi birokrasi di kabupaten kota akan mulai didorong Ganjar pada 2020. Program ini akan dimulai dengan menyatukan sistem komplain handling atau penanganan pengaduan masyarakat berbasis teknologi informasi.

“Komplain masyarakat bisa kita respons bersama sehingga rakyat senang. Saya contohkan hari ini ada orang tidak bisa cuci darah lapor pada saya melalui medsos. Langsung saya jemput ke RSUD,” katanya.

Tahun ajaran 2020, Ganjar akan mewujudkan pendidikan gratis untuk seluruh siswa SMA, SMK, dan SLB. Anggarannya Rp 1,6 triliun di APBD 2020. Meski ketinggalan dari Jawa Timur yang sudah memulai sejak tahun ajaran 2019, namun Jateng boleh berbangga karena gaji guru honorer SMA/SMK sudah setara UMK sejak tahun lalu.

“Kita memang mulai dari tenaga pendidik dulu agar sejahtera, maka guru honorer harus UMK. Tahun depan seluruh siswa SMA/SMK gratis biaya pendidikan,” katanya.

Pekerjaan rumah paling utama, menurut Ganjar, adalah penurunan kemiskinan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, sejak 2014 hingga 2019 angka kemiskinan Jawa Tengah menurun lebih dari 1 juta jiwa. Terhitung per Maret 2014 hinggaM aret 2019, angka kemiskinan Jateng turun dari 4.836.450 menjadi 3.743.230 jiwa. 

Pada 2020, target angka kemiskinan bisa turun jadi 9,8 persen. Ganjar membidik pendidikan sebagai daya ungkit. Selain SPP gratis bagi siswa SMA, SMK, dan SLB, Ganjar akan membangun lebih banyak SMK khusus siswa miskin. Kisah sukses telah dicontohkan SMK Jawa Tengah. 

“Lulusan-lulusan SMK Jawa  Tengah gajinya 9 juta hingga 25 juta lho. Mereka dari keluarga miskin 100 persen. Maka otomatis dengan gaji segitu strata ekonomi keluarganya langsung terangkat,” jelas Ganjar.

SMK Jawa Tengah yang kini baru ada tiga unit, yakni di Semarang, Purbalingga, dan Pati, akan dikembangkan. Pada 2020 telah dianggarkan pembangunan untuk 15 SMK boarding school khusus siswa miskin. Seluruh siswanya gratis biaya pendidikan, buku, seragam, praktikum serta diasramakan dengan pemenuhan seluruh kebutuhan hidup. “Kita pusatkan di 15 kabupaten yang masih kategori miskin di Jawa Tengah,” tegas Ganjar. (lhr/bun)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia