Minggu, 22 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Insan Nurhaida, Atlet Difabel Harumkan Indonesia di Asia

06 September 2019, 13: 39: 57 WIB | editor : Perdana

UKIR PRESTASI: Insan Nurhaida memiliki obsesi lebih di tingkat internasional.

UKIR PRESTASI: Insan Nurhaida memiliki obsesi lebih di tingkat internasional. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Share this      

Penderita cerebral palsy mengalami keterbatasan gerak tubuh. Bicara pun sulit, apalagi berlari. Namun kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi Insan Nurhaida dalam berprestasi. Dia berhasil mengharumkan Indonesia di pentas Asia. Seperti apa sosoknya?

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo

INSAN Nurhaida tampak seperti perempuan pada umumnya. Berambut lurus panjang diikat. Memoles lipstik di bibirnya. Dan memakai maskara di bulu matanya. Mengenakan kaos merah, celana putih, dan sepatu lari dengan warna senada. Tidak ada yang berbeda saat kali pertama melihat sosok Insan. Tidak ada alat bantu yang menopang badannya. “Halo, aku Insan,” sapanya sambil menyalami koran ini.

Barulah koran ini menyadari bahwa Insan Nurhaida adalah penderita cerebral palsy. Tangannya kaku, terutama di bagian pergelangan dan telapak tangan. Insan juga tidak bisa berkomunikasi dengan lancar seperti orang-orang lainnya. Namun setiap ucapannya masih bisa dimengerti. Bagian mulut dan lehernya juga kaku. “Aku ke depan dulu ya. Habis ini kita ngobrol-ngobrol,” katanya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Insan bersama pelatihnya, Kevin Fabiano sedang melaksanakan tugas kemanusiaan di Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Kota Surakarta. Di hadapan siswa YPAC, Insan memberikan motivasi dan suntikan semangat. Keterbatasan bukan sebuah penghalang untuk berprestasi. Dia meminta anak-anak YPAC untuk tetap semangat belajar dan meraih cita-cita yang diinginkan.

“Dulu aku ingin jadi dokter, tapi sekarang alhamdulillah jadi atlet lari. Dan bisa mengharumkan nama Indonesia,” katanya dengan mengumbar senyum.

Kepada Jawa Pos Radar Solo, Insan berkisah awal karirnya menjadi atlet lari. Kala itu, pada 2008, salah seorang rekannya mengajak Insan untuk ikut pelatihan atlet difabel. Insan tertarik dan menerima tawaran itu.

“Awalnya pelatihan digabung sama atlet tuna daksa. Tapi lama-lama kemudian saya dilatih sendiri, karena program latihannya berbeda,” sambungnya.

Event pertamanya adalah Pesta Olahraga Difabel Asia Tenggara yang diselenggarakan di Stadion Manahan Solo, 2011 silam. Di debut perdananya, Insan meraih medali emas di nomor 100 meter kategori T-36 khusus cerebral palsy. Prestasi ini sekaligus menjadikannya sebagai juara 1 tingkat Asia Tenggara.

“Itu tidak ada lawannya, saya lari sendiri pakai limit waktu. Nah, saya memecahkan rekor limit itu,” imbuhnya.

Usai event tersebut, Insan kemudian mengantongi banyak medali lainnya. Sebut saja pada Asean Paragames 2015 di Singapura, Insan membawa pulang satu medali emas dan satu medali perak. Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2016 di Bandung, Insan meraih dua medali emas. World Para Athletics Championships 2017 di Beijing, Tiongkok, dia menyabet satu medali perak dan satu medali perunggu. Asean Paragames 2017 di Malaysia, Insan juga menggondol dua medali emas.

“Yang paling berkesan saat di Malaysia. Karena aku bisa menggandakan medali emas. Sebelumnya aku tidak bisa. Kebetulan lawan beratku lagi sakit, jadi itu kesempatan buat aku bisa dapat dua medali emas,” ungkapnya.

Pengalaman berkesan lainnya dialami Insan saat Asian Paragames 2018 di Gelora Bung Karno Jakarta lalu. Dia gagal menyentuh garis finis saat menyelesaikan perlombaan lari 100 meter putri kategori T-36. Hampir mengakhiri perjuangannya, Insan terjatuh dan mengakibatkan cedera serius di bagian leher.

“Leherku patah. Saat itu aku sedih juga malu karena gagal menyumbangkan medali emas untuk Indonesia,” kenangnya.

Dengan kondisinya yang sulit bergerak, karena kekakuan otot, Insan mengaku kesulitan saat menjalani program latihan. Terutama saat mengangkat alat beban. Asisten pelatih harus membantunya agar Insan tidak merasa berat.

“Kan kalau ambil alat beban di pergelangan tangan harus diputar dulu. Nah, aku tidak bisa. Karena kaku. Jadi harus dibantu. Kalau tidak, aku tidak bisa,” ujarnya.

Saat latihan di lapangan, Insan juga mendapat program plyometrics. Latihan untuk meningkatkan power dengan melompat-lompat di beberapa gawang kecil. “Kakiku juga kaku. Bisa (lompat-lompat), tapi susah. Solusinya, aku lompat di samping gawang. Tidak melompati gawang,” katanya.

Kesulitan lainnya, saat dia menerima instruksi program dari pelatih. Dia sulit berkomunikasi jika tidak dilakukan secara personal. Maka, khusus Insan, pelatih harus berkomunikasi lebih intens dan dengan treatment yang berbeda dibanding atlet lainnya.

“Dari sekian banyak medali yang aku dapat, aku belum puas. Aku sudah berhasil menjadi juara 1 se-Asia Tenggara. Targetku sekarang, ingin sekali bisa jadi juara pertama se-Asia. Doakan ya,” ucapnya.

Sang pelatih, Kevin Fabiano mengaku Insan adalah salah satu atletnya yang gigih berlatih. Bahkan dia tidak segan menegur teman-temannya yang tidak serius saat jadwal latihan.

“Anak-anak kan pasti suka bercanda saat latihan. Nah, Insan ini termasuk atlet yang dituakan di antara teman-temannya. Jadi kalau ada anak-anak yang ramai saat latihan, selalu diingatkan sama Insan. Dia juga salah satu atlet yang tidak pernah mogok latihan. Rajin dia," ujarnya.

Di mata Kevin, dia adalah atlet yang punya empati besar. Terlebih dengan sesama atlet difabel. Saat latihan atau event, Insan selalu mendampingi teman atlet tuna netra. Mulai dari membantu turun dari bus, menggandeng saat latihan, bahkan menemani saat ke kamar kecil.

“Insan tidak ingin dikasihani. Tapi dia sangat peduli sama teman-teman atlet lainnya. Baik hatinya,” ujarnya. (*/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia