Kamis, 23 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo
ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO

Tradisi jamasan pusaka, Pakai Bunga Bukan untuk “Makan” Setan

06 September 2019, 13: 53: 06 WIB | editor : Perdana

CEGAH KARAT: Prosesi jamasan keris di Museum Keris kemarin. Kegiatan ini rutin digelar setiap tahun bertepatan dengan Suro.

CEGAH KARAT: Prosesi jamasan keris di Museum Keris kemarin. Kegiatan ini rutin digelar setiap tahun bertepatan dengan Suro.

Share this      

SOLO – Tradisi jamasan pusaka kembali digelar di Museum Keris, Kamis (5/9). Bukan hanya membersihkan keris secara fisik, kegiatan tersebut sekaligus simbolisasi pembersihan diri.

Perwakilan Komunitas Boworoso Tosan Aji Surakarta (Brotosuro) Adi Sulistyono menuturkan,  keris merupakan simbolisasi perwujudan manusia untuk membersihkan diri, karena dalam kurun waktu sebelumnya digunakan untuk bekerja.

“Selama 11 bulan kita sudah bekerja. Satu bulan waktu untuk kita membersihkan diri  atau merenung. Introspeksi diri agar waktu yang akan datang bisa jauh lebih baik,” jelasnya.

Proses jamasan diawali memandikan keris dengan air bunga tiga warna. Tahapan ini diartikan sebagai bentuk menyucikan diri. “Bukan malah diartikan memberi makan setan” tandas Adi. 

Untuk keris yang sudah telanjur berkarat, setelah dimandikan air bunga, dilanjutkan perendaman menggunakan air warangan. Proses pewarangan memiliki dua makna, yakni melapisi besi dan memunculkan pamor keris. Berikutnya, penggosokan dengan jeruk nipis, abu, serta air kelapa agar karat hilang. 

Tahapan terakhir yakni mencuci keris dengan air sabun agar kandungan zat asam air warangan hilang. “Baru setelah itu dilap, diberi minyak, lalu dikeringkan dengan cara dijemur. Minyak berfungsi melapisi besi supaya tidak bersinggungan langsung dengan udara yang mengandung uap air sehingga besi dapat berkarat, ” imbuhnya. 

Sebelumnya, Kepala Bidang Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Kota Surakarta Sungkono mengatakan, selain menguri-uri budaya, jamasan keris juga sebagai media meningkatkan kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara. Ini mengingat Kota Solo telah mendeklarasikan diri sebagai kota budaya.

"Kami berharap kegiatan ini makin memopulerkan wisata edukasi dan sejarah di museum-museum Kota Solo," ucapnya.

Kepala UPT Museum, Dinas Kebudayaan Kota Surakarta Didik Sunaryono memamparkan, kegiatan edukasi yang digelar di sejumlah museum ditargetkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan. (mg8/mg9/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia