Minggu, 22 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

5 Waduk Mengering, 6.116 Hektare Sawah Terdampak

06 September 2019, 14: 15: 41 WIB | editor : Perdana

DIANDALKAN PETANI: Debit air Waduk Ketro di Kecamatan Tanon semakin menyusut selama puncak kemarau ini. Puluhan embung juga mengalami kekeringan.

DIANDALKAN PETANI: Debit air Waduk Ketro di Kecamatan Tanon semakin menyusut selama puncak kemarau ini. Puluhan embung juga mengalami kekeringan. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Ancaman gagal panen mengintai ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Sragen. Lima waduk sudah mengering, sebagian besar petani hanya mengandalkan air sumur dalam.

Kabid Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Sragen, Supardi menyampaikan, dari tujuh waduk yang ada di Sragen, lima diantaranya sudah mengering. Yakni Waduk Botok, Waduk Gembong, Waduk Kembangan (Kecamatan Karangmalang), Waduk Gebyar (Kecamatan Sambirejo), dan Waduk Brambang (Kecamatan Kedawung).

Sementara dua waduk lainnya hanya tinggal menyisakan debit antara 4 hingga 6 persen. Yakni Waduk Ketro (Kecamatan Tanon) yang tinggal menyimpan debit air 449.800 meter kubik. Sedangkan Waduk Blimbing (Kecamatan Sambirejo) tinggal menyimpan 21.914 meter kubik air.

”Seluruh waduk di Sragen memang tipikalnya hanya sebagai tampungan aliran-aliran sungai. Ketika musim kemarau tiba, tidak ada lagi pasokan air dari sungai. Sehingga debit waduk akan mengering. Waduk Botok salah satu yang pertama kering sejak bulan Juli,” beber Supardi.

Kondisi yang sama juga terjadi pada puluhan embung. Dari total 42 embung yang ada, hampir seluruhnya kering. Saat ini yang masih terisi hanya Embung Kedungpring (Kecamatan Tangen).

Keringnya waduk ini tentu saja mengganggu pasokan air untuk pertanian. Berdasarkan data Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sragen, jumlah lahan yang tak lagi mendapatkan pasokan air akibat keringnya waduk mencapai 6.116 hektare.

Kepala Dinas Pertanian Sragen, Ekarini Mumpuni Titi Lestari berharap kondisi tersebut tidak sampai memicu kegagalan panen. Dia menjelaskan musim kemarau ini datang hampir bersamaan dengan masa panen Musim Tanam (MT) 2. Sehingga banyak warga yang masih bisa bertahan dengan mengandalkan pasokan air dari pompa. 

”Tidak sampai puso. Hanya saja memasuki MT ketiga ini, banyak petani yang lebih memilih untuk menganggurkan lahannya, untuk menghindari kerugian akibat gagal panen,” terangnya. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia