Selasa, 19 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Tanah Gerak Ancam Belasan KK Tersebar di Kalijambe dan Sambirejo

06 September 2019, 14: 26: 57 WIB | editor : Perdana

RETAK-RETAK: Kondisi salah satu rumah warga di Sangiran, Desa Krikilan, Kalijambe.

RETAK-RETAK: Kondisi salah satu rumah warga di Sangiran, Desa Krikilan, Kalijambe. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Sejumlah wilayah di Sragen rawan terjadi tanah gerak. Selain wilayah Sambirejo yang akrab dengan longsor saat musim hujan, tanah gerak juga terjadi di Kalijambe. Bahkan sejumlah rumah sudah terdampak akibat kondisi tanah yang labil.

Sekretaris Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe Aris Rustiyoko menyampaikan ada empat rumah di RT 12 Sangiran, Desa Krikilan yang terancam rusak akibat tanah yang labil. Tanah di bawah rumah penduduk amblas.

”BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah,Red) sudah mendata. Rumah itu amblas, kondisi tembok retak, namun belum ada rencana untuk pindah,” ujar Kepala BPBD Sugeng Priyono.

Pihaknya menyebutkan, rata-rata rumah yang terdampak mengalami retak-retak. Bahkan ada dinding tembok yang tertarik rekahan tanah. Namun demikian belum ada upaya untuk relokasi, karena belum ada tempat yang disediakan Pemkab Sragen.

Tanah amblas di Krikilan tersebut sudah terjadi sejak 2016 lalu. Pihaknya sudah mengecek kondisi tanah gerak ini, beberapa saat lalu. Hasil pantauan terakhir, tanah turun akibat pergerakan tanah. Ada 2 kepala keluarga yang pindah tempat tinggal karena rumahnya semakin membahayakan pemiliknya.

”Kami mendata setidaknya ada enam rumah yang terdampak fenomena tanah gerak ini,” ungkapnya.

Penelitian dari intansi terkait sudah pernah dilakukan 2016 lalu. Kesimpulannya warga harus pindah. Hanya saja, upaya relokasi warga tidaklah mudah. Karena butuh lahan baru untuk ditinggali warga terdampak tanah amblas tersebut.

”Tanda-tandanya ada tiang listrik yang miring. Rumah-rumah juga mulai menceng,” ujarnya.

Sementara untuk di kawasan Desa Musuk Sambirejo, pihaknya sudah mendeteksi sejak 2015. Awalnya ada 26 KK yang berada di kawasan itu. Namun sudah ada beberapa yang sadar dan pindah. Sempat ada program relokasi, namun tidak cocok.

”Kondisi relokasi itu, kalau belum terjadi (bencana, red) memang sulit menyadarkan masyarakat,” bebernya. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia