Minggu, 22 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Awas Resep Palsu untuk Beli Obat Keras

06 September 2019, 16: 45: 34 WIB | editor : Perdana

Awas Resep Palsu untuk Beli Obat Keras

WONOGIRI – Penyalahgunaan obat keras bisa memanfaatkan beragam celah. Modusnya antara lain memalsukan resep untuk membeli obat keras di apotek. Karena itu, diperlukan pengawasan secara menyeluruh.

"Salah satu sarana peredaran narkotika dan psikotropika adalah apotek dan toko obat. Karena itu sarana apotek perlu adanya pemantauan melalui laporan (distribusi obat-obatan)," tandas Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri Adhi Dharma dalam kegiatan pembinaan dan pengawasan peredaran dan penyalahgunaan obat ilegal di ruang Khayangan Pemkab Wonogiri, Kamis (5/9).

Mengacu Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73/2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Tugas, dan Fungsi Apotek adalah tempat pengabdian seorang apoteker, sarana farmasi yang melakukan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, penyerahan obat, atau bahan obat, dan sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara menyeluruh dan merata.

Di tempat yang sama, Ketua Tim Pencegahan dan Pemberantasan Peredaran Penyalahgunaan Gelap Narkotika (P4GN) Wonogiri Edy Santosa tidak memungkiri peredaran narkoba dan obat keras di Wonogiri sudah dalam tahap yang mengkhawatirkan. Sehingga perlu kerja sama seluruh stakeholder untuk melakukan pengawasan.

"Tidak bisa diselesaikan oleh bupati dan wakil bupati saja, tapi seluruh pihak. Ya polisi, dokter, apoteker, perawat dan elemen masyarakat," ujarnya. Ditambahkan Edy, peredaran narkoba menyasar lokasi sepi. Di antaranya daerah pinggiran.

Ketua Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Wonogiri Daryono menerangkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) rutin melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke apotek-apotek secara berkala. Petugas meneliti secara detail selisih fisik obat dan laporan penjualannya.

"Sepanjang apotek dikelola secara profesional, saya yakin tidak ada indikasi seperti itu (apotek jadi media peredaran obat keras ilegal). Kita (apoteker) sudah disumpah mengenai pengelolaan obat seperti apa," tegasnya.

Daryono menduga, potensi peredaran ilegal lebih besar dilakukan secara online. “(Akses sistem) online sekarang bisa mudah sekali. Justru pengawasan dalam hal itu yang sepertinya belum dilakukan," ungkapnya.

IAI Wonogiri, lanjut Daryono, mengindikasikan ada oknum pasien nakal yang memalsukan resep untuk membeli obat keras di apotek. Jika ada indikasi pengambilan resep tidak wajar, apoteker akan berkonsultasi dengan dokter bersangkutan.

"Kalau dengan resep, (pembelian obat) jelas kita layani. Tapi ada juga pasien yang memalsukan resep. Kalau sudah begitu, kita akan hubungi dokter bersangkutan apakah benar memerlukan obat dalam jumlah banyak," urainya.

Terpisah, Kapolres Wonogiri AKBP Uri Nartanti melalui Kasat Narkoba AKP Suharjo mengatakan, selama 2018, terdapat 24 kasus narkoba dengan jumlah tersangka 26 orang. Rinciannya, penyalahgunaan narkotika delapan kasus dengan 8 tersangka, psikotropika delapan kasus dengan sembilan tersangka, dan obat daftar G (obat keras) terdapat delapan kasus dengan sembilan tersangka. "Ada (tersangka) satu mahasiswa berusia 19 tahun dan satu pelajar berusia 17 tahun," ujar dia.

Sedangkan hingga Agustus 2019, tercatat 35 kasus penyalahgunaan narkoba dengan 36 tersangka. “Kalau di Wonogiri belum ada indikasi apotek menjual obat secara ilegal. Yang terungkap, para tersangka mendapatkannya dari apotek di luar Wonogiri. Kemudian, menyalahgunakannya di Wonogiri," terang Suharjo.

Namun dia tak memungkiri apotek dan toko obat bisa menjadi celah peredaran obat keras ilegal. Maka penting bagi apoteker, bidan, perawat, dan dokter berkomitmen memeranginya.

"Ya, para tersangka ini ada yang resmi mendapatkan obat dari apotek melalui resep. Setelah dapat obatnya, baru diperjualbelikan," pungkasnya. (kwl/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia