Minggu, 26 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Macan Tutul Lawu Mati karena Kanker Paru

08 September 2019, 08: 10: 59 WIB | editor : Perdana

HEWAN LANGKA: Macan tutul Gunung Lawu saat dikarantina di TSTJ.

HEWAN LANGKA: Macan tutul Gunung Lawu saat dikarantina di TSTJ. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Surakarta telah mendapatkan hasil otopsi macan tutul Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Surakarta yang mati 25 Juli lalu. Dari hasil uji lab, macan betina yang dievakuasi dari permukiman kawasan lereng Gunung Lawu itu terkena kanker paru-paru yang sudah menahun.

"Otopsi dilakukan Balai Besar Veteriner Wates pada hati, ginjal, paru, dan kotoran macan. Diketahui terjadi pembengkakan karena radang di beberapa bagian dan mengidap kanker paru-paru," jelas Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 BKSDA Jateng Titi Sudaryan, Sabtu (7/9).

Direktur Utama TSTJ Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso juga telah menerima tembusan terkait matinya macan tutul tersebut. "Bisa disimpulkan macan tutul Gunung Lawu mati karena penyakit komplikasi yang dideritanya," jelasnya.

Menurut Bimo, TSTJ sudah maksimal dalam merawat raja hutan tersebut sesuai  standard Operational procedure (SOP). BKSDA juga sudah menindak lanjuti persoalan ini dengan melakukan otopsi. 

Sekadar informasi, macan tutul itu diamankan petugas BKSDA Jawa Tengah pada akhir 2018 karena telah memangsa hewan ternak warga Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar. Setelah berhasil ditangkap, hewan karnivora itu langsung dititipkan di TSTJ untuk karantina.

Kematian macan tutul sempat memicu komentar miring masyarakat yang menyayangkan tidak cepat melepas liarkan kembali. Menanggapi hal tersebut, Titi kala itu menegaskan, macan tutul tersebut telah memangsa 26 kambing milik warga di lereng Gunung Lawu. Jika dikembalikan ke lokasi semula, hampir bisa dipastikan kembali turun gunung cari mangsa ternak dan berpotensi mengganggu warga. 

“Kami tegaskan di sini alasan BKSDA Jateng tidak melepas macan tutul ke alam bebas pertimbannganya adalah keamanan warga. Kalau dilepas di daerah lain, macan tutul ini juga berbeda sub spesies, sehingga ditangkar di lembaga konservasipun tidak menyalahi aturan,” saat itu. (ves/kwl)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia