Rabu, 20 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Ketika Rambut Rontok Jadi Komoditas Ekspor

Kualitas Premium per 100 helai Tembus 1 Juta

08 September 2019, 10: 10: 59 WIB | editor : Perdana

HARUS TELATEN: Pekerja memisahkan rambut sebelum dilakukan pelurusan di kawasan Wonowongso, Sragen.

HARUS TELATEN: Pekerja memisahkan rambut sebelum dilakukan pelurusan di kawasan Wonowongso, Sragen. (TIM RADAR SOLO)

Share this      

Sudah banyak yang tak menyadari bahwa rambut rontok bisa laku dijual. Apalagi generasi milenial. Hanya segelitir lanjut usia (lansia) masih telaten mengumpulkan rambut rontok untuk ditukar rupiah.

DI antaranya Mardiyatmi, 74. Warga Kebalen RT 01 RW 06 Kampung Baru ini mengaku kerap menjual rambutnya yang rontok ke tukang rosok. “Ya sebenarnya tidak bermaksud menjual rambut. Tapi pas ditanya (tukang rosok) itu jadi mikir. Daripada rambut rontok cuma bikin saluran pembuangan kamar mandi tersumbat, mending dikumpulkan untuk dijual,” ujarnya. 

Satu kantong plastik berisi rambut milik Mardiyatmi biasanya laku dijual Rp 3.000. Tapi tidak semua tukang rosok yang datang ke rumahnya bersedia membelinya. Hanya ada satu orang. “Saya menjual rambut rontok sudah cukup lama. Sejak 20 tahun lalu,” kata Mardiyatmi.

Kebiasaan serupa dilakukan Suratmi, 50, warga Jalan Raya Solo, Kwarasan, Grogol Sukoharjo. “Sudah sering jual rambut sejak tahun 2000. Tukang rosoknya seminggu sekali ke sini (rumah Suratmi), buat ngambil rambut-rambut saya yang rontok,” jelasnya.

Tukang rosok, lanjut Suratmi, hanya bersedia membeli rambut dengan panjang sekitar 30 sentimeter. Untuk satu tas kresek rambut, dihargai Rp 2.500. “Bilangnya buat bikin konde,” ujar perempuan ramah tersebut.

Selain lansia, sejumlah salon kecantikan di Kota Solo juga mengumpulkan rambut pelanggannya. "Biasanya kita jual rambut sisa habis dipotong. Ada (pembeli) yang ngambil ke sini. Minimal (panjang rambut) satu jengkal,” terang Yayuk, pekerja salon di kawasan Nusukan, Banjarsari.

Sri Sugiarti, 50, pemilik salon di Kadipiro juga rutin mengumpulkan rambut pelanggan untuk dijual. Untuk satu genggam rambut panjang dibanderol sekitar Rp 5.000. “Setiap dua bulan sekali ada yang mengambil rambut ke sini. Dipilih yang panjang, kalau pendek saya buang karena tidak laku dijual,” jelasnya.

Lalu dikemanakan rambut-rambut tersebut setelah dibeli? Di Sragen ternyata ada beberapa tempat pengolahan rambut yang nantinya digunakan sebagai konde, extension (penyambungan rambut), dan sebagainya. 

Adalah Suparsi, 40. Warga Wonowongso RT 01 RW 08 Sine, Sragen ini sejak puluhan tahun lalu menjadi jujukan tukang rosok untuk menjual rambut. Satu kilogram rambut dipatok Rp 700-800 ribu. Setelah rambut dibersihkan dan diluruskan, Suparsi bisa menjualnya kembali seharga Rp 1,5 juta. 

“Sekarang harga rambut yang saya beli dari tukang rosok naik jadi Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta per kilogram. Kami di sini nggak memproses sampai jadi kerajinan atau rambut siap pakai. Hanya meluruskan,” bebernya.

Proses pelurusan biasanya memakan waktu sekitar tiga hari. Tahapannya, rambut yang awalnya kusut direndam semalaman menggunakan minyak tanah. Tujuannya agar helai rambut lebih licin dan mudah dipisahkan.

Selanjutnya, rambut dicutat atau dicukit, yakni memisahkan rambut kusut atau menggumpal menggunakan bantuan jarum kasur. Baru setelah itu rambut disisir menggunakan sasak khusus. Helai rambut yang telah lurus dan bersih dijual lagi ke pengepul lebih besar.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo di pengepul rambut kawasan Wonowongso, Sragen terdapat cukup banyak pekerja yang tugasnya membersihkan dan meluruskan rambut. “Ya nggak susah. Soale wes kulino (sudah terbiasa),” terang salah seorang pekerja, Mariyem. 

Pekerja lainnya Mardianti, 45, mengaku, dalam sehari penghasilannya dari mencukit rambut sekitar Rp 30 ribu, sedangkan untuk sasak bisa Rp 50 ribu per hari.

Sementara itu, Joko, salah seorang pengepul rambut di Pendak Krikilan, Masaran, Sragen mengatakan, mendapatkan bahan baku rambut dari Wonogiri dan Trenggalek. “Sudah jarang orang yang menjual sendiri rambut rontok. Biasanya dikumpulkan dari salon-salon terdekat. Tapi harganya lebih mahal (dibandingkan penjual perseorangan). Harga tergantung kualitas. Jika rambutnya panjang dan bersih, bisa tinggi,” urainya.

Makin langkanya orang menjual rambut juga diakui Yana, 28. Warga Bogor, Jawa Barat ini harus rela jauh-jauh ke Sragen untuk membeli rambut asli untuk diolah menjadi extension dan wig. 

“Di Bogor hanya skala kecil yang jual (rambut). Kalai di Jawa Tengah ini, skala yang jual besar,” ucap dia.

Harga helai rambut panjang sekitar 60 sentimeter dengan ketebalan tertentu, imbuh Yana, bisa dijual mahal. Harga per paket rambut untuk extension berisi 100 helai mencapai Rp 1 juta. “(Extension saya kirim ke Papua, Bali bahkan sampai ke Dubai,” tutur Yana. (mg8/mg9/mg10/mg11)

(rs/it/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia