Senin, 16 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features
Ketika Rambut Rontok Jadi Komoditas Ekspor

Sudah Jarang Yang Menjual

08 September 2019, 11: 15: 59 WIB | editor : Perdana

ULET: Giarti di sela aktivitasnya berburu rambut rontok.

ULET: Giarti di sela aktivitasnya berburu rambut rontok.

Share this      

Jarak Gemolong, Sragen-Kota Solo tidak menyurutkan tekad Giarti, 55, berburu rambut rontok. Dari rambut itulah, perempuan baya ini memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

"Ben dino mbak, numpak bus Karanggedenan seko Gemolong. Keliling wes suwi. Wes taunan. Ora kelingan nek diitung (Setiap hari naik bus Karanggedenan dari Gemolong. Keliling cari rambut sudah lama. Tidak ingat kalau dihitung)," jelasnya sambil mengelap peluh di wajahnya.

Gang-gang permukiman di Kota Solo dijelajahi Giarti. Bersahabat dengan teriknya matahari. Tidak setiap hari dia bisa membeli rambut rontok karena memang jarang yang menjualnya. 

Ketika ada warga hendak jual rambut, Giarti harus memilahnya. Hanya yang panjang. "Nek ono wong towo yo tak tuku, nek dowo-dowo, nek cendek ora payu. Nek ngedole akeh, aku yo entuk e akeh, tergantung sitik opo akeh e wae (Kalau ada orang yang menawarkan rambut, ya saya beli. Yang panjang-panjang, pendek tidak laku. Kalau jualnya banyak, saya juga dapat untung banyak),” terangnya sambil mengeluarkan gulungan rambut yang sudah dibeli.

Tidak jarang, dari jual beli rambut, Giarti hanya mendapatkan untung Rp 25 ribu. Hasil itu masih dipotong untuk ongkos naik bus ke Sragen. Meskipun pas-pasan, Giarti tetap bertahan berburu rambut rontok dan barang rosok. Karena hanya pekerjaan itu yang bisa dilakoninya. 

Ketika tiba di Gemolong, Giarti langsung menuju lokasi pengepul untuk menjual rambut. Begitu seterusnya pada hari-hari berikutnya. Selama masih diberikan kesehatan, Giarti mengaku akan terus berkeliling mencari rontokan rambut agar dapur tetap ngebul.

Sementara itu, di tangan mereka yang kreatif, rambut rontok bisa diolah menjadi barang bernilai tinggi. Salah satunya untuk extension alias sambung rambut. Pada 2013-2014,  extension cukup tren. Remaja putri yang ingin gonta-ganti gaya rambut, tak perlu lagi menunggu rambutnya tumbuh panjang. 

“Aku orangnya gampang bosan. Pengin gonta-ganti gaya rambut. Tapi menunggu rambut panjang itu lama,” terang Honeysya Putri, 21, warga Tegalsari Lor, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo. Nah, dengan hadirnya tren extension tersebut, Honeysya sangat terbantu mengkreasikan mahkotanya. 

Namun kini, perempuan murah senyum itu telah berhijab. Jadi, soal gaya rambut bukan soal penting. Saat itu, dia memilih extension lurus hitam sama dengan warna rambut aslinya. Soal perawatan, juga tak terlalu merepotkan.  

"Nggak ada perawatan khusus. Cuma kalo sudah waktunya ganti, harus cepat diurus. Sebab kalau tidak nanti seperti gembel rambutnya." jelasnya. 

Ayu Rinada,  warga Plumbungan Indah, Karangmalang, Sragen mengaku menggunakan extension saat masih SMP pada 2012. Dia membeli sambung rambut Rp 25 ribu per helai. "Selama pakai nggak ada kerusakan atau hal-hal lain. Jadi saya tidak memberi treatment khusus," kata mahasiswi Universitas Sebelas Maret itu.

Namun, belum lama menakai extension, Ayu tidak betah karena kepalanya terasa berat. Sebab, rambut aslinya sudah tebal dan masih disambung rambut lagi.

Sedangkan Trisha Aldionsary, 20, warga Baturan, Colomadu, Karanganyar rela mengeluarkan uang Rp 1 juta untuk extension. Itu karena rambut yang dipilih panjangnya mencapai 60 sentimeter dengan model lurus dan natural. “Kalau pakai rambut sintetis kan sudah nggak bisa dicatok, sedangkan aku tidak bisa lepas dari catok,” tambahnya.

Terpisah, dr. Muhammad Eko Irawan sp. KK mewanti-wanti pemakai sambung rambut memperhatikan kebersihan produk. Sebab, jika kotor rawan menularkan jamur atau kuman. Risiko lainnya adalah kerontokan rambut aslinya.

“Kalau prosesnya (bahan sambung rambut) sudah sesuai prosedur, ya mestinya produknya layak dipakai. Aman atau tidak itu banyak kajiannyam,” pungkasnya. (mg8/mg9/mg10/mg11)

(rs/it/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia