Minggu, 22 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Pengalaman Guru asal Solo Veraningsih Mengajar di Pedalaman Kalimantan

09 September 2019, 11: 53: 53 WIB | editor : Perdana

Pengalaman Guru asal Solo Veraningsih Mengajar di Pedalaman Kalimantan

Hidup di daerah pedalaman tentu banyak tantangan dan pengalaman tak terlupakan. Itulah yang dirasakan Veraningsih selama setahun mengabdi menjadi pendidik bagi anak-anak di Desa Sekikilan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Bagaimana kisahnya?

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo

PERNAHKAH terbayang setiap hari harus pergi ke sungai untuk mandi dan mencuci baju? Namun dalam sungai tersebut ada seekor buaya keramat yang tidak segan memangsa siapapun yang berada di sana. Veraningsih pernah mengalaminya. Tidak tanggung-tanggung, selama setahun dia menjalani pengalaman mendebarkan tersebut.

 “Masyarakat Dayak percaya siapapun yang beraktivitas di sungai tidak boleh menyebutkan nama makanan apapun selama di sana. Itulah aturannya. Kalau melanggar, buaya di dalam tersebut akan memakan orang tersebut. Serem kan?” kelakar alumni Pendidikan Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2011 ini.

Pengalaman lain, Vera harus menyeberang sungai naik ketinting, perahu kecil yang digunakan untuk memancing atau mencari sayur. Hanya untuk menuju ke kebun yang sudah masyarakat setempat tanami oleh berbagai sayuran. Kemudian Vera dan masyarakat setempat baru bisa memetik sayur yang dibutuhkan.

“Kondisi ini sangat berbeda jauh saat aku berada di Solo. Kalau kita mau masak, kita tinggal pergi ke pasar atau swalayan untuk membeli sayur dan bahan makanan lainnya. Di sana, harus naik perahu dulu,” sambungnya.

Itu baru sekelumit dari banyaknya pengalaman menarik yang tidak bisa diceritakan satu per satu. Vera memutuskan merantau ke Tanah Borneo yang jauh dari fasilitas perkotaan untuk mengikuti program Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar. Vera terpilih dari 9.832 kandidat dan menjadi salah satu dari 40 Pengajar Muda Angkatan XIII.

Perempuan berambut ikal ini ditugaskan mengabdi selama setahun penuh di SDN 03 Tulin Onsoi Desa Sekikilan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. “Di sana jarang sekali ada air dan sinyal. Tapi aku sangat tertarik bisa mengabdi di sana. Aku ingin melihat anak-anak di sana bisa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di tapal batas utara Indonesia-Malaysia. And I dit it,” ungkap perempuan kelahiran 26 Februari 1993 ini.

Secara sadar dan inisiatif sendiri, Vera terlibat secara aktif dalam pengabdian ini. Dia tak hanya ditugaskan menjadi seorang guru di pedalaman. Tapi juga diberi mandat sebagai fasilitator pengembangan kualitas pendidikan di tingkat Kabupaten Nunukan.

Bukan hal yang mudah menjalankan tugas mulia tersebut. Belajar di tengah keterbatasan menjadi tantangan tersendiri bagi Vera. Dia ingin mengembangkan potensi anak-anak di sana. Meski dengan fasilitas sekolah yang serbaminim.

“Bukan berarti mereka tidak boleh mendapatkan kesempatan untuk belajar kan? Justru mereka memiliki kecerdasan alam yang menakjubkan. Kecerdasan alam ini yang aku manfaatkan untuk mengembangkan potensi mereka,” beber pehobi bulu tangkis ini.

Vera sering mengajak anak-anak didiknya pergi ke sungai dan ke hutan untuk belajar sembari menikmati alam. Vera membuktikan sendiri, mereka sangat jago berolahraga dan kesenian. Kemudian Vera mendorong dan memotivasi guru-guru lain di sekolah setempat untuk mempersiapkan anak-anak mengikuti ajang kompetensi di tingkat kecamatan.

“Alhasil, mereka berhasil mendapat juara 3 setelah lima tahun berturut-turut sekolah tidak mendapat penghargaan prestasi apapun. Ini jadi kebanggaan tersendiri buat aku,” kenangnya.

Tidak dipungkiri, tantangan di pedalaman sering kali membuat Vera pesimistis. Mulai dari kurangnya jumlah guru, fasilitas serbaminim, bahasa lokal yang sulit dimengerti, budaya yang sangat berbeda, dan masih banyak lagi tantangan lain. Tak jarang membuat Vera patah semangat dalam menjalani pengabdian.

 “Tapi kalau kita mampu mengapresiasi hal kecil, niscaya akan membuat kita lebih bersyukur dan semangat untuk membawa perubahan positif di daerah,” katanya.

Selama setahun Vera tinggal di desa dengan mayoritas penduduknya bersuku Dayak Agabag. Selama itu pula dia mengalami perbedaan budaya, bahasa, dan kebiasaan. Dalam kurun waktu tiga bulan, Vera mempelajari keberagaman masyarakat lokal di sana. Dia mampu menguasai Bahasa Dayak, bahasa yang sehari-hari digunakan masyarakat setempat.

Sejak saat itu, masyarakat Dayak perlahan mulai terbuka dengan kehadiran Vera. Ditambah lagi, Vera tinggal serumah dengan keluarga asli Dayak yang mengangkat dirinya layaknya anak sendiri.

“Dengan tinggal bersama warga asli di sana, mempermudah akses pengembangan masyarakat di daerah. Misalnya, mereka tidak terlalu mengindahkan pentingnya pendidikan. Budaya pernikahan dini juga cukup dijunjung tinggi. Nah, dengan penerimaan guru pendatang, perlahan masyarakat membuka dirinya terhadap pendidikan,” bebernya.

Selama setahun, Vera juga mendorong masyarakat untuk membangun Taman Baca Masyarakat di Desa Sekikilan. Dia berharap masyarakat setempat menjadi gemar membaca.  “So much to do, but so little time. Itu yang jadi prinsipku selama menyelesaikan tugas pengabdian,” tandasnya. (*/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia