Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Ragam Payung Nusantara Inspirasi Persatuan 

09 September 2019, 12: 05: 38 WIB | editor : Perdana

EKSOTIK: Pertunjukan fashion show dan pameran dalam Festival Payung Indonesia di Taman Garuda Mandala kompleks Candi Prambanan, kemarin (8/9).

EKSOTIK: Pertunjukan fashion show dan pameran dalam Festival Payung Indonesia di Taman Garuda Mandala kompleks Candi Prambanan, kemarin (8/9). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Ribuan payung bertebaran di Taman Garuda Mandala Candi Prambanan selama dua hari. Payung beragam motif, warna hingga ukuran semakin menyemarakkan gelaran Festival Payung Indonesia (Fespin) 2019.  

Pada tahun ini Fespin mengangkat tema sepayung daun yang telah menginspirasi beragam komunitas kreatif di Indonesia untuk bertemu dan terlibat. Terdapat sekitar 80 peserta dari berbagai daerah di Nusantara yang menjadikan payung tradisi menjadi sumber inspirasi. 

“Pada festival kali ini ada 100 pertunjukan dari berbagai daerah. Menariknya, dirancang dan didukung pula dengan 100 volunter dari 62 kota kabupaten di Indonesia. Semua rangkaian itu dari merayakan payung untuk menjadi ikon nusantara,” jelas Direktur Program Festival Payung Indonesia Heru Prasetya, Minggu (8/9).

Heru menjelaskan, melalui tema yang angkat menjadikan daun sebagai inspirasi dan kreasi dari berbagai pelosok penjuru nusantara. Mengajak para kreator yang menjadikan daun sebagai sumber inspirasi kekaryaan. Mengingat pada masa lalu daun juga digunakan sebagai payung yang coba kembali diungkapkan pada festival kali ini.

“Setiap tahunnya kita berinovasi dalam setiap penyelenggaraannya. Seperti festival kali ini memang diselenggarakan di Candi Prambanan karena di sekitar terdapat pohon-pohon luar biasa bersejarah juga. Menjadikan pohon bagian dari festival ini,” jelasnya. 

Dalam festival tersebut juga melibatkan 26 komunitas seni pertunjukan, 12 desainer dan 15 kelompok perajin yang saling bertemu. Menghadirkan semangat saling berbagi yang telah melahirkan gotong royong untuk melestarikan warisan budaya lokal. Termasuk menumbuhkan Indonesian creative heritage yang membangun serta menghidupkan lagi kegotongroyongan sebagai identitas keindonesiaan.  

“Kita juga mengundang seniman, budayawan dan pekerja seni dari Sabang sampai Merauke. Biarpun berbeda-beda tetapi payungnya Indonesia. Festival payung ini rasa-rasanya memayungi semua perbedaaan menjadi payung merah putih sebenarnya. Kita tegaskan dari gelaran ini,” jelasnya.

Ada beberapa negara lain yang turut ikut serta dalam festival tersebut seperti Thailand, Jepang, Amerika hingga Spanyol. Mereka menampilkan berbagai hasil karya kreatifnya. Bahkan menunjukan kebolehannya di atas panggung untuk memeragakan tari-tarian. Termasuk berdiskusi dengan masyarakat melalui stand pameran. 

Salah satu peserta pameran dalam festival itu berasal dari Kabupaten Klaten melalui kehadiran payung lukis Ngudi Rahayu yang dimiliki Ngadi Yakur, 52. Sejak 2014, warga Desa Tanjung, Kecamatan Juwiring itu sudah aktif dalam festival payung Indonesia tersebut. Memamerkan berbagai jenis payung lukis yang selama ini diproduksinya.

“Keikutsertaan kami dalam festival selama ini tentunya menambah jejaring sehingga berdampak pada pemesanan payung lukis. Apalagi kita memproduksi berbagai macam payung dengan multi fungsi. Mulai dari sifatnya dekoratif hingga memang untuk terhindar dari panas dan hujan,” jelasnya. (ren/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia