Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Marak Komplotan Pencuri Water Meter, Beraksi Dinihari Sasar Rumah Toko

09 September 2019, 12: 12: 42 WIB | editor : Perdana

Marak Komplotan Pencuri Water Meter, Beraksi Dinihari Sasar Rumah Toko

Komplotan spesialis pencuri water meter atau meteran air kini makin merajalela. Sasarannya meteran yang berada di luar rumah atau rumah toko (ruko). Padahal, alat ini sangat penting untuk mengetahui penggunaan air ini setiap harinya. Seperti apa modus operasi para pencuri ini?

PENJAGA keamanan kawasan kios Peny Regency 7 di Jalan Jaya Wijaya, Banjarsari, Joko Paryono mengatakan, di lokasi kios tempatnya berjaga sudah ada tiga kali kejadian pencurian water meter. “Terbaru, baru beberapa hari lalu kejadiannya. Imbasnya kami kena protes penyewa kios karena dianggap tidak bisa mengamankan kios. Apalagi ada kabar kalau korban harus membayar biaya ganti water meter yang dicuri. Ini sangat disayangkan,” jelasnya saat ditemui koran ini.

Joko mengatakan, dia kali pertama mengetahui kejadian itu saat masuk kerja. Dia melihat bagian depan ruko sudah dibanjiri air mengalir. “Setelah itu, saya cek ternyata air dari meteran. Setelah saya dekati meteran airnya sudah tidak ada. Saya langsung lapor ke pemilik ruko,” katanya.

Santoso, penjaga Ruko Peny Regency 5 juga menuturkan hal senada. Ada tiga water meter di lokasi yang dia jaga raib. Kejadian tersebut terjadi awal pekan lalu. Dia mengaku tidak sadar ada meteran diambil orang. “Saya sampai pukul 01.30 masih terjaga. Saya perkirakan pencuri beraksi antara pukul 02.00 – 03.00. Saya waktu itu ketiduran di pos satpam,” katanya.

Pria ini lantas terbangun pukul 04.00 setelah mendengar ada suara air bocor. Setelah bangun dia melihat air sudah mengalir hingga Jalan Jaya Wijaya yang berada di depan ruko. “Sekarang dua sudah dipasang baru karena untuk usaha, yang satu belum dipasang lagi karena kosong. Setelah dipasang (water meter) oleh pemilik dicor semen biar aman,” paparnya.

Danang Saputra, warga Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres juga sempat menjadi korban pencurian meteran air. Dia mengetahui meterannya digasak maling setelah diberi tahu tetangganya.  “Setelah itu langsung saya tutup dulu agar air tidak mengalir terus. Setelah itu saya laporan ke PDAM. Siangnya petugas datang, suruh ganti bayar Rp 460 ribu,” tutur Danang.

Danang mengaku sedikit keberatan terkait putusan PDAM yang membebankan biaya ganti meteran air kepada korban. Pasalnya, ditakutkan hal serupa bisa saja terulang kembali ketika meteran air sudah dipasang hilang lagi. 

“Kalau begini terus tentu saya keberatan. Kami ini kan korban malah ditambahi beban penggantian. Kalau pelaku belum tertangkap kami juga waswas terulang lagi,” katanya.

Hal serupa juga dialami Hernawan Setia Budi, 34, korban lainnya. Kejadian ini di rumah yang dia kontrak di Kampung Bibis Kolon, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari. Bahkan dia hampir menangkap basah maling yang masuk tersebut.

Bapak dua anak ini menuturkan kejadian tersebut sekitar dua pekan silam. Waktu itu pukul 01.30, dia terbangun karena kebelet ke toilet. Namun, dia curiga karena ada suara dari arah pekarangan rumah. Saat mengintip dari jendela sudah ada orang jongkok di depan meteran air. Sedangkan pelaku lain terlihat naik motor dibalik pagar rumah.

“Kemungkinan yang satu mengawasi situasi, satunya bertugas eksekusi. Awalnya saya intip dulu sekitar satu menitan. Ternyata setelah diamati ternyata pelaku sedang menggergaji meteran air saya,” katanya.

Sontak Hernawan langsung berteriak maling. Hal tersebut sempat mengagetkan kedua pelaku. Namun sayang ketika akan menangkap pintu depan rumahnya terkunci. “Saya cari kuncinya dulu ke kamar. Waktu keluar orangnya sudah kabur naik motor matik. Setelah itu warga baru keluar rumah. Setelah saya lihat meteran sudah dicolong,” tuturnya.

Sementara itu, Kaur Teknik Wilayah Utara PDAM Tirta Dharma Surakarta Agung Susilo mengatakan, pihaknya sudah menerima tujuh laporan kasus pencurian water meter. Lokasi yang dicuri di kawasan Mojosongo di Jalan Gunung Slamet dan Jalan Jaya Wijaya Banjarsari. Berdasarkan informasi terbaru yang dia terima, ada saksi yang sempat memergoki aksi pelaku yang diduga berjumlah dua orang sedang berusaha mencuri water meter.

“Laporannya belum semua masuk. Tapi ada rekan saya yang kebetulan hampir kecurian juga di Jalan Gunung Slamet. Ini masih dugaan tapi katanya pelakunya dua orang. Karena buru-buru, mereka meninggalkan alat dan kabur. Kabar yang saya terima mereka menggunakan linggis dalam aksinya,” beber dia.

Koran ini lantas menyusuri Pasar Notoharjo, Semanggi, Pasar Kliwon. Di mana di lokasi tersebut merupakan pusat jual beli barang-barang bekas di Kota Solo. Salah seorang pedagang Hengki Setiawan,55, menuturkan, sempat ada seseorang yang menjual lima water meteran ke kiosnya. Namun tidak dia beli, lantaran curiga itu hasil curian.

“Sempat saya tanya, ini meteran dari mana. Katanya bekas, sudah rusak mau dijual. Tapi kondisi fisikinya masih bagus. Jadinya saya tolak saja. Saya curiga yang dibawa barang curian. Bisa panjang urusannya karena bisa dianggap sebagai penadah. Setelah saya tolak orangnya pergi,” katanya.

Ditambahkan Hengki, biasanya yang dapat dijual dari meteran tersebut adalah kuningannya. Di mana per kilogram harganya mencapai Rp 135 ribu. “Kalau itu (meteran air) beratnya berapa saya juga tidak tahu. Tidak pernah beli juga,” tuturnya.

Bagaimana sosok orang tersebut? Hengki mengatakan, orang tersebut bertubuh tinggi besar dan gemuk. Dia mengatakan dapat barang itu dari temannya dan minta dijualkan. Pria tersebut mengaku dari Sukoharjo. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia