Minggu, 22 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Kebo Bule Pimpin Kirab Budaya Suro

09 September 2019, 14: 18: 21 WIB | editor : Perdana

BARISAN DEPAN: Kebo bule keturunan Kiai Slamet mengikuti kirab dalam adat budaya Suro di Dusun Pandaan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Klaten, kemarin pagi (8/9).

BARISAN DEPAN: Kebo bule keturunan Kiai Slamet mengikuti kirab dalam adat budaya Suro di Dusun Pandaan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Klaten, kemarin pagi (8/9). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Ribuan orang menjejali kirab adat budaya Suro di Dusun Pandaan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, kemarin (8/9). Mereka penasaran ingin melihat enam ekor kebo bule, keturunan Kiai Slamet dari Keraton Kasunan Surakarta Hadiningrat yang ikut dikirab.

Barisan kebo bule paling menyedot perhatian para penonton. Mereka mencoba mengabadikannya melalui kamera handphone masing-masing. Kebo bule jadi pembuka dalam arak-arakan kirab. Disusul pembawa pusaka, kereta kencana yang dinaiki Bupati Klaten Sri Mulyani, serta aneka hasil bumi dan kue apem.

Tradisi itu sudah berjalan turun-temurun. Kirab bermula dari pagebluk atau wabah penyakit yang menimpa Dusun Pandaaan. Total 80 orang meninggal karena penyakit aneh. “Saat pagi sakit, sore meninggal. Atau sore sakit, paginya meninggal. Kasus itu terus berulang, hingga sesepuh desa Kiai Karsorejo menggelar pentas wayang kulit dengan lakon Baratayudha Jaya Binangun,” jelas ketua panitia kirab Sri Nugroho.

Usai pentas wayang kulit, warga berangsur sehat dan terbebas dari pagebluk. Sebagai ucapan puji syukur, Kiai Karsorejo menggelar kirab sederhana yang diikuti sesepuh desa. “Kami hanya meneruskan saja budaya peninggalan leluhur. Ingin nguri-nguri budaya Jawa yang sudah ada sejak lama,” imbuhnya.

Di lokasi ini terdapat Tugu Wasesa. Penanda pertemuan Presiden Soekarno dengan Kiai Karsorejo di sebuah petak sawah. Presiden Soekarno sendiri datang untuk meminta restu, berjuang demi kemerdekaan bangsa. Pertemuan terjadi karena kedekatan Kiai Karsorejo dengan Paku Buwono (PB) X yang sering datang ke Desa Soropaten. 

Bupati Klaten mengapresiasi kirab adat tersebut. Diharapkan tradisi ini bisa menambah kerukunan antarwarga. Termasuk jadi ajang promosi potensi desa untuk menarik wisatawan.

“Kirab ini momentum tepat untuk mengenalkan tradisi maupun budaya yang ada di Klaten. Termasuk potensi berbagai kerajinan khas. Rasanya belum lengkap kalau tidak membawa pulang batik dan lurik,” paparnya.

Mulyani berharap tradisi kirab adat Rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Sebagai bagian pelestarian budaya. Mengingat kirab ini mampu memberikan dampak positif. Menggerakkan roda perekonomian warga sekitar. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia