Minggu, 22 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Darsini, Abdikan Diri Menjadi Pendidik PAUD di Usia Senja

10 September 2019, 13: 21: 11 WIB | editor : Perdana

INSPIRATIF: Darsini tetap mengabdikan diri mendidik anak-anak PAUD.

INSPIRATIF: Darsini tetap mengabdikan diri mendidik anak-anak PAUD. (IRAWAN WIBISONO/RADAR SOLO)

Share this      

Gaji kecil tak masalah asal bahagia. Gaji besar juga tak jadi soal asal bahagia. Bersyukur jadi kuncinya. Seperti yang dilakukan Darsini selama ini. Meski telah lanjut usia, namun semangatnya mendidik anak-anak jangan ditanya. Bagaimana kisahnya?

IRAWAN WIBISONO, Solo, Radar Solo

BELUM genap sepekan Ibu Negara Iriana Joko Widodo mengunjungi pendidikan anak usia dini (PAUD) Putra Pertiwi Gilingan Banjarsari. Salah satu orang yang berperan dalam keberhasilan acara tersebut adalah Darsini. Perempuan berusia hampir 70 tahun ini menjadi sibuk lantaran kedatangan ibu negara baru diketahui sehari sebelumnya. Saat itu dia baru menginjakkan kaki di rumah seusai mengajar di PAUD yang tak jauh dari kediamannya.

“Jam 12 siang PAUD sudah ditutup semua dan sudah pulang, tiba-tiba saya ditelepon dari kementerian,” terang Sekretaris PAUD Putra Pertiwi ini.

Suara di ujung telepon menjelaskan jika istri Presiden Joko Widodo itu rencananya mengunjungi sebuah PAUD di Kecamatan Laweyan. Namun setelah dievaluasi, akhirnya acara dipindah ke PAUD tempatnya mengajar. Tak mau berpikir panjang, pensiunan guru SMP di Kabupaten Sukoharjo ini langsung bergegas kembali ke PAUD. 

Kedatangannya sudah ditunggu beberapa orang di depan pintu. Setelah dibuka, tim dari kementerian dan kepresidenan berduyun-duyun menyiapkan diri. Darsini sibuk menghubungi rekan guru yang lain, perangkat pemerintahan dari lurah hingga camat serta yang paling penting menghubungi orang tua peserta didik. “Sebagian malam itu nggak bisa tidur. Tapi Alhamdulillah semua lancar,” katanya.

Darsini sendiri menjadikan PAUD Putra Pertiwi sebagai ladang pengabdian. Dia ingin masyarakat kurang mampu di sekitar PAUD mendapatkan layanan pendidikan yang baik. PAUD yang berdiri sejak 1995 itu sebagian besar siswanya adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sebanyak 30 siswa di sana hanya diminta membayar iuran bulanan Rp 50 ribu, itupun jika mampu. Kalau tak mampu maka tidak dipaksa. Bahkan guru-guru di PAUD tersebut kerap patungan untuk menutup kekurangan biaya yang dibutuhkan.

“Seperti saya mengangkat empat anak. Jadi empat kali Rp 50 ribu kan total Rp 200 ribu. Guru-guru yang lain juga begitu,” ujarnya.

Jika setiap bulan harus menutup anggaran empat orang siswa, berapa sebenarnya gaji yang didapat sebagai pengajar PAUD? Darsini blak-blakan. Dia hanya menerima honor Rp 200 ribu setiap bulan. Jika nasib mujur, guru-guru PAUD mendapatkan bantuan dari pemerintah kota maupun pemerintah provinsi. “Dulu pernah honornya Rp 100 ribu. Kemudian naik sampai sekarang,” katanya.

Meski menurut sebagian masyarakat honornya kecil, namun dia mengaku mendapat rezeki yang sangat besar. Dia bahkan bersyukur dengan apa yang didapatnya sekarang. Bahkan syukur juga selalu terucap meski tanpa gaji sekalipun. “Saya tidak terima gaji tidak apa-apa. Nanti ada ganti kesehatan dan keluarga saya kecukupan,” ujarnya. (*/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia