Minggu, 22 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Kasus Tabrak Lari, Polresta Digugat Lagi

10 September 2019, 13: 26: 42 WIB | editor : Perdana

Boyamin Saiman,Boyamin Saiman

Boyamin Saiman,Boyamin Saiman

Share this      

SOLO - Kasus tabrak lari yang menewaskan Retnoningtri, warga Slembaran, Kelurahan/Kecamatan Serengan,  sudah dua bulan berlalu. Namun, hingga saat ini polisi belum berhasil mengungkap kasus tersebut. Lembaga Pengawasan dan Pengawalan Penegakan Hukum Indonesia (LP3HI) untuk kali kedua menggugat Polresta Surakarta dan Polda Jawa Tengah. 

Kali ini LP3HI hanya meminta aparat penegak hukum untuk meningkatkan proses penyelidikan naik ke proses penyidikan. Sidang pertama dijadwalkan di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta pada Senin (9/9) pagi. Agendanya adalah pembacaan permohonan oleh LP3HI yang dipimpin hakim Supomo.

Namun, dalam sidang perdana  itu terpaksa diundur pada Selasa (10/9) karena kuasa hukum Polda Jawa Tengah Hartono belum membawa kelengkapan administrasi berupa surat tugas atau surat kuasa. “Ini untuk administrasi, jadi harus tertib. Minimal besok (hari ini) kalau belum ada surat kuasa, surat tugas juga boleh,” paparnya.

Kuasa Hukum LP3HI Boyamin Saiman usai sidang praperadilan mengatakan, setelah gagal pada gugatan pertama untuk segera menangkap pelaku tabrak lari, kini gugatan kedua dilayangkan. Dia mengikuti pola kepolisian yang masih menyelidiki pelaku tabrak lari dan belum meningkatkan ke dalam proses penyidikan untuk mengungkap pelaku kasus tersebut.

Menurutnya, Polresta Surakarta dapat meningkatkan kasus ini ke proses penyidikan. Sebab, mereka telah memiliki alat bukti, yakni saksi, dokumen, dan rekaman dari sejumlah CCTV. “Kami tahu proses penyelidikan itu bukan objek praperadilan sehingga untuk memenuhi proses praperadilan maka proses yang sudah memenuhi syarat penyidikan tapi tidak maka sama saja itu penghentian penyidikan,” ujar Boyamin.

Boyamin mengatakan, ketika proses meningkat ke penyidikan maka polisi akan memiliki hak paksa untuk menggeledah dan menyita terduga rumah pelaku. Dia berharap majelis hakim dapat memutus dan memerintahkan polresta meningkatkan proses penyelidikan ke penyidikan. Setelah itu, LP3HI akan memantau proses penyidikan yang dilakukan polisi.

Dalam proses persidangan, lanjut Bonyamin,  hakim sempat menawarkan perdamaian antara LP3HI dan polresta. Namun, opsi itu belum dipilih dalam praperadilan kedua itu. Namun,  Boyamin mengatakan selalu membuka opsi perdamaian ketika pihak berwajib  telah meningkatkan proses penyelidikan ke penyidikan.

“Kalau dalam proses persidangan sudah ditingkatkan ke penyidikan kami akan cabut laporan ini. Seharusnya tanpa kami gugat perkara ini sudah dalam tingkat penyidikan karena memiliki lebih dari dua alat bukti,” imbuhnya.

Sementara itu Kasubag Hukum Polresta Surakarta Iptu Rini Pangestu mengatakan, saat ini kelengkapan administrasi Polresta Surakarta telah lengkap dan tinggal menunggu kelengkapan administrasi dari Polda Jawa Tengah. 

“Kalau soal  gugatan yang diajukan ke Polresta Solo itu hak masyarakat dan kita menghormati proses praperadilan,” paparnya.

Seperti diketahui sebelumnya, proses praperadilan dengan tergugat Polresta Surakarta bukan kali pertama ini digelar PN Surakarta. Aparat kepolisian juga sempat dipraperadilankan dengan kasus yang sama awal Agustus lalu. Kala itu hakim memenangkan pihak polresta. Atas keputusan hakim itu, maka penggugat kembali melayangkan praperadilan. Kali ini tidak hanya polresta yang digugat, namun juga Polda Jateng. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia