Minggu, 22 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Cara Unik Satpol PP Kota Surakarta Tangani Pelajar Bermasalah 

11 September 2019, 11: 36: 23 WIB | editor : Perdana

TERENYUH: Siswa yang kedapatan bolos diajak interaksi dengan lansia di Griya PMI.

TERENYUH: Siswa yang kedapatan bolos diajak interaksi dengan lansia di Griya PMI.

Share this      

Menghadapi kenakalan remaja memang tidak mudah. Bila menggunakan pendekatan yang biasa-biasa saja mereka tidak akan kapok. Nah, Satpol PP Kota Surakarta ini memiliki cara berbeda dalam menangani para pelajar yang sering bolos dan bermasalah ini. Dan ternyata terbukti manjur. Seperti apa kiatnya?

SILVESTER KURNIAWAN, Solo

SELASA kemarin menjadi momen paling berkesan bagi bagi UTS, 17, dan 38 siswa seumuran dia lainnya. Seperti hari normal lainnya, para siswa ini berangkat dengan seragam lengkap dari masing-masing sekolah. Buku tulis dan tas sekolah pun dibawa seperti pelajar pada umumnya. Bedanya, kali ini mereka dapat pelajaran khusus dari Satpol PP Surakarta. Para siswa ini diajak berkunjung ke Griya Palang Merah Indonesia (PMI) Solo di Jalan Sumbing Raya, Mojosongo, Jebres. “Hari ini belajarnya tidak di sekolah, tapi di Griya PMI dan ikut seminar motivasi diri,” ujar UTS. 

Remaja yang terdaftar sebagai siswa salah satu SMK swasta di Solo ini mengaku diminta salah seorang gurunya untuk mengikuti giat tersebut. Dia pun tak diminta datang seorang diri, namun ditemani oleh orang tua dan guru pendamping. 

Berangkat dari kantor satpol PP, UTS dan teman-temannya masih tidak tahu apa yang akan dilakukan di Griya PMI. Maka tak heran, jika mereka tampak bingung saat dihadapkan dengan sejumlah lansia dan penghuni di Griya PMI. “Awalnya agak bingung mau disuruh apa di sini. Ternyata diminta untuk interaksi sama penghuni di sini (Griya PMI),” jelas dia.

Interaksi dilakukan dengan menengok keadaan masing-masing penghuni. Puluhan pelajar ini pun dipecah jadi kelompok kecil. Mereka lalu berinteraksi dengan para lansia itu. Obrolan diawali dengan perkenalan singkat. Lama kelamaan, mereka mulai bertukar pengalaman dengan para penghuni di sana. Bahkan, sesekali para pelajar ini menyuapi sejumlah lansia yang hanya bisa rebahan di tempat tidur masing-masing. 

“Tadi ngobrol sama mbah-mbahnya, sempat nyuapi juga. Saya jadi kasihan sama mereka tadi,” ucapnya.

Dia mengaku sempat tersentuh hatinya dengan kisah-kisah penghuni Griya PMI. Di satu sisi dia merasa iba, di sisi dia jadi merasa bersalah karena selama ini kurang patuh dengan orang tua dan guru-guru di sekolahnya. “Pokoknya saya tidak akan bolos lagi. Mau belajar yang giat biar bisa membanggakan orang tua,” katanya.

Pengalaman serupa juga dirasakan SWL, 16. Siswa salah satu SMK negeri di Kota Solo ini mengucapkan banyak terima kasih karena diberi kesempatan terlibat dalam kegiatan tersebut. Dia mengaku pengalaman itu tak bisa dia dapat di tempat lain jika tidak ikut kemarin. “Awalnya saya nggak mau. Tapi karena harus ikut akhirnya ke sana juga,” jelas dia.

Perasaan biasa-biasa saja dari dirinya yang tercatat kerap bolos jam sekolah itu akhirnya berubah setelah dia berkesempatan interaksi dengan penghuni Griya PMI yang mengalami gangguan kejiwaan. 

Mulanya interaksi dilakukan dengan memberikan sebuah makanan ringan. Perkenalan pun berjalan mengalir dengan saling bersalaman dan sedikit bertukar pikiran. Meski SWL kadang sulit memahami kalimat lawan bicaranya, dia mengaku tersentuh dengan kondisi mereka.

“Saya jadi merasa sangat beruntung karena sampai hari ini masih ada orang tua yang mendampingi, yang sayang sama saya. Saya berjanji tidak akan bolos lagi,” jelas dia.

Ya, formula baru menangani siswa yang kerap bolos sekolah ini dengan berinteraksi sosial ternyata lebih menyentuh. “Jadi ini lho orang tua kalian nanti akan setua itu dan kalian juga bisa mengalami hal seperti ini. Apa kalian mau jadi produk gagal kehidupan. Dan contohnya ada di depan kalian di mana mereka tidak bisa memanaj masa depan sehingga terjadi hal semacam ini,” kata Kasi Pengembangan Karakter PMI Kota Solo Lucky Suryo kemarin.

Mengingat waktu pengembangan karakter di PMI umumnya dua hari satu malam, pihaknya juga menawarkan kepada pemerintah agar program pendampingan ini dilakukan berkelanjutan. 

“Permasalahan yang dihadapi remaja ini kan beragam. Jadi pendekatannya harus secara personal. Mereka ini terbilang egois dan kerap menyepelekan orang tua. Kami siap menjadi mitra pemkot mengasah kepedulian para pelajar yang selama ini acuh dengan lingkungan,” jelas dia.

Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang-undangan Daerah Satpol PP Kota Surakarta Mardiono Joko Setiawan menambahkan, satpol PP memiliki program khusus pendampingan siswa bermasalah yang digagas sejak beberapa tahun lalu. Setiap tahun pun teknis pendampingan dan pendekatan pada siswa selalu diperbarui untuk mencapai formula yang paling pas diterapkan. 

“Ini tindak lanjut dari penegakan jam wajib belajar. Jadi satpol PP bukan hanya merazia para pelajar yang kedapatan bolos saat jam sekolah, tapi juga pendampingan terarah yang bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mendampingi para pelajar,” jelas Joko.

Dalam giat tersebut, pihaknya mengajak 39 pelajar. Dua di antaranya merupakan pelajar putri. Mereka didampingi oleh orang tua masing-masing siswa dan satu guru bimbingan konseling (BK) dari sekolah. Usai berkegiatan di Griya PMI, mereka akan diajak mengikuti seminar motivasi. 

“Giat sebelumnya hanya seminar motivasi. Setelah itu kami pantau para pelajar ini, koordinasi dengan pihak sekolah. Kami melihat progres pelanggaran para siswa ini, dan akhirnya ditemukan formula ini,” kata dia. (*/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia